Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Jarak Pemisah


__ADS_3

Langkah tegap Fattan keluar dari bandara, dengan kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Badan atletis itu berbalut jaket kulit berwarna hitam tanpa di resleting memperlihatkan kaos berwarna abu-abu di dalamnya. Celana jeans panjang berwarna senada dengan jaketnya di padu sneaker sebagai alas kaki. Sebelah tangannya menyeret koper miliknya.Penampilan lelaki itu membius setiap mata yang melihatnya.


Begitupun gadis di belakangnya yang tak bisa memalingkan wajah . Menatap punggung lebar yang seakan menawarkan tempat untuk bersandar. Tatapan gadis yang sudah membuat Fattan tercengang dengan kehadirannya , adalah tatapan memuja dan mendamba. Dialah Dilla yang entah kenapa tiba-tiba ikut dalam rombongan relawan desa terpencil itu.


'' Mas Fattan !," panggil Dilla dengan langkah setengah berlari mengejar langkah panjang Fattan. Lelaki itu menoleh masih dengan kacamata hitamnya. Berdiri menunggu gadis yang berjalan terseok-seok untuk mengejar langkahnya dengan koper besar yang di seretnya.


'' Ada apa ?,'' tanya Fattan dengan dua alisnya terangkat. Gadis itu tak langsung menjawab. Senyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya ditampilkan gadis tersebut.


'' Tungguin,mas jalannya cepet banget,'' ucap Dilla yang membuat Fattan menghela nafas. Mereka sudah cukup mencuri perhatian teman-teman mereka. Sebab Dilla yang terlihat akrab dan memanggil Fattan dengan sebutan '' mas ''.


Fattan kembali melangkahkan kakinya,tak perduli Dilla yang terseok-seok menyamakan langkahnya dengan Fattan.


'' Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ikut rombongan relawan untuk desa terpencil ini ?,''tanya Fattan yang sesungguhnya telah di buat penasaran dengan keberadaan gadis itu, yang tiba-tiba ada diantara mereka. Padahal ia tak bekerja pada rumah sakit yang sama.


'' Papa itu sahabatnya om Satryo, jadi aku minta Papa agar om Satryo masukin aku ikut jadi relawan,'' terang Dilla dengan senyum lebarnya. Satryo adalah salah satu petinggi di rumah sakit dimana Fattan bekerja. Tak heran jika Dilla mudah saja ikut dalam rombongan.


Fattan tak lagi bertanya lelaki itu terus melangkah menuju mobil yang menjemput mereka. Dilla berusaha untuk terus berada di samping lelaki tampan itu. Sedang Fattan berjalan tegak tanpa memperdulikan gadis yang menyamakan langkahnya.


Fattan melihat ponsel yang sedari tadi di dalam pesawat ia matikan. Lelaki itu menyalakan ponsel miliknya.

__ADS_1


'' Maaf, boleh saya minta waktu sebentar. Mungkin sepuluh sampai lima belas menit,saya mau ke toilet dulu ,'' ucap Fattan seraya menatap sang sopir yang menjemput mereka.


'' Boleh dok, silahkan ,'' ucap sang sopir dengan sopan.


'' Temen-temen,aku ke toilet dulu. Kalau ada yang mau menghubungi keluarga,bisa telpon sekarang mumpung sinyal masih bagus,'' ujar Fattan kepada rekan kerjanya.


Sebagian besar dari mereka langsung mengambil ponsel dan menghidupkannya. Sedang Fattan pergi menjauh dari rombongannya yang terdiri dari enam orang, dokter dan perawat .


Lelaki itu tidaklah menuju toilet, hanya sedikit menyingkir dari para rekannya. Hari sudah lebih dari tengah malam. Namun ia merasa harus mengabari sang kekasih. Dan ternyata baru di dering pertama panggilan darinya langsung diangkat.


'' Hallo Tan,udah nyampe ?,'' pertanyaan itu langsung terdengar di telinga lelaki itu.


'' Udah sayang,belum tidur ?,'' tanya Fattan.


'' Nungguin ya ?,'' sambung Fattan dengan seulas senyum. Ada rasa berbunga dalam hatinya saat mengetahui wanitanya menunggu kabar darinya.


'' Iyalah, gimana di sana ?,''


'' Ini masih di bandara sayang,buat nyampe desa yang di tuju masih makan waktu tujuh sampai delapan jam.'' terang Fattan, Shazna mengangguk-anggukan kepala mengerti, seolah-olah kekasihnya melihat apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Keduanya mengobrol cukup lama, sampai Fattan lupa yang hanya meminta waktu sejenak.


'' Mas Fattan !," seru seseorang membuat Fattan yang masih asyik berbincang dengan kekasihnya menoleh asal suara.


'' Ya ,'' reflek Fattan menyahut.


'' Siapa Tan,kok manggil kamu Mas ?,'' tanya Shazna yang mendengar suara wanita memanggil lelakinya.


''Mas mobil udah mau berangkat ,''sambung Dilla yang kini berada di dekat Fattan.


'' Iya sebentar ,''jawab Fattan.


'' Siapa Tan ?,'' suara Shazna di ujung sana mendesak dirinya untuk memberi tahu siapa yang berbicara dengan kekasihnya itu.


'' Dilla adiknya Vito,'' sahut Fattan , seraya meringis. Ia tahu akan timbul berbagai pertanyaan di benak sang kekasih tentang keberadaan gadis itu. Apalagi ia tidak bercerita apapun tentang keberadaan Dilla yang memang tidak ia ketahui keikutsertaannya.


'' kok bisa ?,''


'' Ayo mas buruan !,'' suara Dilla dan Shazna terdengar bersamaan di telinga Fattan. Bahkan gadis itu tak segan menarik lengan Fattan. Bukan karena mobil yang akan segera berangkat. Namun Dilla yang kepanasan karena lelaki yang dipujanya asyik bertelepon dengan wanita lain.

__ADS_1


'' Ya udah sayang nanti aku jelasin. Intinya aku juga gak tau kenapa dia ikut. Jangan over thinking,I love you ,'' ucap Fattan yang semakin membuat Dilla merasa tak senang.


''I love you too,'' suara lesu Shazna di akhir teleponnya sebelum panggilan terputus. Suara yang membuat resah Fattan di sepanjang perjalanan. Karena ia tahu wanitanya pasti berpikir yang tidak-tidak tentang keberadaan Dilla. Lelaki itu hanya bisa menghela nafas dalam. Lagi-lagi hubungannya dengan Shazna di uji okeh jarak. Akankah sejarah terulang ?.


__ADS_2