Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Percaya Kamu


__ADS_3

Seperti hari libur biasanya, Shazna menemani sang ayah untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Lelaki yang mulai di tumbuhi rambut putih itu sudah mulai bisa berjalan meski perlahan. Pagi itu,perawat yang mendampingi sang ayah ijin untuk datang terlambat. Shazna yang menang libur tidak keberatan.


Setelah beberapa saat berjalan, keduanya kini duduk bersebelahan di sebuah kursi kayu yang terdapat di bawah pohon mangga yang berada di belakang rumah.


" Bagaimana kabar Fattan ,Na ? ", tanya sang Ayah yang memang rutin menanyakan kabar kekasihnya itu.


" Baik Yah, sedang sibuk dengan kegiatan di sana ", sahut Shazna. Senyum terukir di bibir lelaki yang sudah tampak keriput di wajahnya.


" Ayah berharap kalian segera menikah. Ayah akan tenang kalau sudah ada yang mengambil tanggung jawab ayah terhadap kamu ", ujar Ayah dengan tatapan menerawang. Shazna meraih tangan ayah dan menggenggam dengan lembut.


" Ayah jangan khawatir, kalau sudah tiba saatnya pasti kita akan menikah. Ayah tidak usah terlalu banyak pikiran", lembut wanita itu berucap. Meski jujur dirinya sedang di landa resah. Ia masih belum mengaktifkan ponselnya untuk mendengarkan penjelasan dari sang kekasih.


Sesaat wanita itu termenung. Ia merasa harus mendengarkan penjelasan dari Fattan. Setidaknya ia tidak menghakimi tanpa tahu yang terjadi dengan pasti.


" Yah, Shazna ke kamar dulu. Ada yang harus Shazna kerjakan. Ayah mau di sini,apa ikut masuk ?", tanya Shazna pada Ayah yang masih menikmati secangkir teh hangatnya.


" Ayah masih mau di sini. Nanti ayah bisa masuk sendiri. Jangan khawatir", ucap lelaki yang sudah tampak rentah.


" Shazna masuk Yah", pamit Shazna yang di balas anggukan oleh ayah. Shazna melangkah meninggalkan halaman belakang. Berjalan menuju kamar miliknya. Sampai di dalam kamar yang di tuju wanita itu adalah ponsel yang tergeletak di atas meja dalam keadaan mati.


Menghirup nafas sejenak kemudian menghembuskan perlahan. Di hidupkan ponsel miliknya. Dan seperti dugaannya saat benda pipih itu menyala. Rentetan pesan masuk. Panggilan tak terjawab sari Fattan entah sudah berapa kali.


Saat ia sedang membuka pesan terakhir yang di kirim oleh Fattan. Sebuah panggilan video tampak di layar ponselnya. Dan siapa lagi kalau bukan Fattan. Lelaki yang terus berusaha menghubungi dirinya. Sepertinya ia harus segera mendengar penjelasan Fattan. Entah itu dusta atau benar adanya. Setidaknya ia memberi lelaki itu kesempatan untuk memberi penjelasan.

__ADS_1


" Sayang ", suara lega dan tatapan teduh itu terlihat jelas di wajah yang kini memenuhi layar ponsel Shazna. Tatapan Shazna tertuju pada sang lelaki, namun belum ada kata yang terucap dari bibirnya.


" Aku minta maaf ", lirih Fattan yang semakin dalam tatapannya pada sang kekasih. Ada rindu yang tergambar jelas di raut wajah itu.


" Aku juga minta maaf ", sahut Shazna yang masih menatap wajah yang sangat di rindunya.


" Aku terlalu kekanak-kanakan ", sambung Shazna,yang membuat Fattan menggelengkan kepala namun dengan seulas senyum tipis.


" Nggak, kamu nggak salah aku aja yang gak bisa jaga perasaan kamu", ucap Fattan sesaat keduanya hanya diam saling pandang. Menikmati kerinduan yang terasa begitu menyesakkan.


" Soal Dilla aku minta maaf,aku benar-benar gak tahu kalau dia ngerjain aku ", lanjut Fattan, Shazna mengangguk samar.


" Aku percaya kamu ", jawab Shazna dengan senyum tipis. Fattan mengembangkan senyum lebar di bibirnya.


" Soal Dilla, aku semalam memang menemani dia di klinik. Tapi aku sama sekali tidak merasa menggenggam tangan Dilla. Entah foto seperti apa yang dikirim orang suruhan Dilla,tapi aku sudah tahu kebenarannya sekarang", ungkap Fattan berharap sang kekasih benar mempercayai dirinya.


" Dilla sakit ?", pertanyaan itu yang keluar dari bibir Shazna.


" Sempat jatuh kemarin,aku gak tahu kejadian sebenarnya seperti apa. Dia mengaku hampir di lecehkan, yang membuat dia ketakutan dan lari hingga akhirnya jatuh. Tapi aku tidak sengaja tadi mendengar dia berbicara dengan seseorang", Fattan menghembuskan nafas berat. Kenyataan adik sahabatnya mencurangi dirinya sungguh di luar pemikirannya.


" Dia membodohi ku ", lanjut Fattan, Shazna tersenyum, menatap wajah masam yang tampak menahan kesal.


" Kamu bukan gak sadar kan , kalau dia menaruh hati sama kamu ?", tanya Shazna dengan nada lembut.

__ADS_1


" Aku tahu, tapi dari awal aku gak pernah anggap dia lebih dari seorang adik", jawab Fattan yang merasa tidak pernah bersikap berlebihan pada Dilla.


" Perhatian yang kamu anggap sebagai bentuk kepedulian seorang kakak. Membuat dia merasa diistimewakan. Dan mungkin kehadiran aku dalam hidup kamu lagi. Membuat dia merasa kehilangan kamu. Kamu harus memberi batasan yang jelas. Mungkin buat kamu itu gak akan masalah. Tapi buat dia ini pukulan yang berat. Dia kehilangan sosok lelaki yang mungkin selama ini ia anggap miliknya ", tutur Shazna yang membuat lelaki yang tampak di layar ponselnya itu termenung.


" Tapi aku gak suka cara dia, aku harus balas biar dia sadar", kesal Fattan. Namun wanitanya justru menggelengkan kepala.


" No, jangan membuat dia semakin terluka. Cukup beri jarak diantara kalian. Bicarakan baik-baik,hati seseorang yang terluka bisa membuatnya melakukan apa saja. Yang bisa membahayakan dirinya juga orang lain", ucap Shazna . Fattan begitu terpesona dengan wanita yang memiliki kecantikan tak hanya di parasnya saja.


" Kamu terlalu baik sayang ", ungkap Fattan dengan wajah penuh kekaguman. Shazna tersenyum lebar seraya menggelengkan kepala.


" Bukan masalah baik atau tidak baik. Tapi sebagai manusia setidaknya kita bisa menempatkan diri. Mungkin saat kita yang merasakan jadi dirinya, kita bisa melakukan hal lebih buruk dari dia ", lanjut Shazna.


Ah, rasanya ingin sekali lelaki itu memeluk wanitanya. Sungguh ia bahkan tak bisa berpikir seperti itu.


" Kamu tidak cemburu ?", tanya Fattan yang merasa sedikit kecewa karena sang wanita seakan tak menyiratkan kecemburuan.


" Apa harus ?", Shazna mengembalikan pertanyaan dengan mengulum senyum. Ada raut kecewa nampak di wajah Fattan.


" Meskipun cemburu dengan pasangan kita, jangan sampai menutup hati dan pikiran kita. Karena itu hanya membuat kita bertindak bodoh. Seperti yang kulakukan tadi pagi ", sambung Shazna. Ia merasa bodoh karena memilih mematikan ponsel tanpa mendengar dulu penjelasan dari sang kekasih.


Senyum lebar di bibir Fattan menunjukkan kelegaan di hati sang lelaki.


" I love you , Sayang ",

__ADS_1


" I love you too,honey ", keduanya tersenyum saling pandang. Ada gelenyar rindu yang semakin memabukkan. Rasanya sungguh terasa begitu berat.


__ADS_2