Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Iba


__ADS_3

Berjalan mondar-mandir dengan ponsel yang tak lepas dari tangan Fattan. Berkali-kali memencet nomor yang sama dan selalu jawaban dari operator yang ia dapat. Nomor kekasihnya tidak aktif.


" Bisa-bisanya aku lupa hubungi Shazna sih dari pagi. Pasti dia marah ," ujar Fattan seorang diri. Ia kini sudah berada di tempat yang biasa ia datangi untuk menghubungi sang kekasih. Pagi ini , karena kegiatan di desa membuat dirinya lupa mengubungi wanitanya.


'' Sayang please , aktifin sayang ,'' ucap Fattan yang berbicara pada layar ponsel yang menampilkan kontak sang kekasih. Lelaki itu mengguyar rambutnya, frustasi. Perasaannya sudah tak menentu, terbayang wajah kecewa Shazna yang tak mendapat kabar darinya semenjak pagi.


'' Ya Tuhan, dia pasti marah. Aku mesti gimana dong ,'' gumam Fattan, seraya duduk di bawah sebuah pohon yang tampak rindang dengan daunnya yang rimbun. Lelaki itu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


'' Mama ,'' lanjut Fattan dengan seulas senyum. Ia akan menggunakan sang mama agar wanita pujaannya tidak marah pada dirinya. Belum ia menemukan kontak milik Mama,suara panggilan seseorang membuat lelaki itu terhenyak.


'' Pak dokter ,'' pemuda desa tampak tersengal-sengal karena berlari mendekati Fattan yang kini tertegun melihat pemuda yang sedang mengatur nafasnya. Setelah beberapa saat, tampak nafas pemuda yang memanggil Fattan sudah beraturan.


'' Ada apa ?,'' tanya Fattan setelah melihat pemuda yang mengenakan kaos oblong hitam berlengan pendek dengan celana pendek selutut itu terlihat tenang.

__ADS_1


'' Itu dok,Bu Dilla teriak-teriak histeris. Dan memanggil-manggil pak dokter ,'' terang pemuda berwajah manis dengan kulit sawo matang nya.


'' Oke,ayo kita kembali,'' ucap Fattan seraya beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju tempat dimana motor yang ia pakai di parkir kan.


Keduanya pergi meninggalkan tempat tersebut. Niatan untuk menghubungi sang kekasih harus ia tunda. Biar bagaimanapun Dilla tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia belum tahu apa yang terjadi dengan wanita itu.


Mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, Fattan menembus teriknya matahari siang itu. Sampai di klinik,ia berlari cepat menuju ruangan dimana Dilla di rawat. Dengan tergesa-gesa lelaki itu membuka pintu dan mendapati Dilla yang sedang histeris seraya memegangi kepalanya.


Di sana telah ada Lira yang mencoba untuk menenangkan.


'' Mas Fattan ,Dilla takut ,'' ucap wanita itu di sela tangisnya. Fattan mendekati Dilla yang menjulurkan tangan hendak menggapai dirinya. Saat Fattan telah berada di dekat ranjang wanita itu memeluk Fattan erat. Fattan hanya bisa pasrah dengan ragu lelaki itu mengusap punggung Dilla, berharap wanita itu bisa tenang.


'' Saya permisi dulu ,'' pamit Lira pada Fattan yang dijawab dengan anggukan.

__ADS_1


Setelah cukup lama wanita itu menangis dalam pelukan Fattan, sepertinya wanita itu sudah mulai tenang. Dengan perlahan Fattan melepaskan pelukan Dilla. Kakinya cukup lelah untuk terus berdiri. Fattan mengambil kursi dan duduk di samping ranjang.


Fattan meraih tangan Dilla dan menggenggam dengan lembut. Keduanya saling bertatapan,ada tatapan mata ketakutan yang tersirat di sorot wajah wanita itu. Ada rasa iba yang tak bisa Fattan hindari.


'' Ada apa,kamu bisa cerita sama Mas ,'' ucap Fattan sembari menatap dalam mata Dilla yang kini kembali meluruhkan air mata. Rasa sayang Fattan terhadap Dilla yang telah ia anggap sebagai seorang adik tak bisa ia sembunyikan.


Dilla hanya menggeleng-gelengkan kepala, dengan air mata yang terus bercucuran. Membuat Fattan merasa iba dan kembali memeluk wanita itu. Tak ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Fattan menenangkan wanita itu dengan pelukan dan usapan lembut di punggung Dilla. Sementara Dilla merasakan nyamannya pelukan lelaki yang selama ini ia idam-idamkan. Lelaki yang ia harap menjadi pelabuhan terakhir hatinya.


Di ujung kota lain. Shazna ternyata sedang memanjakan diri dengan mendatangi salon. Melupakan resah yang menghantui harinya. Ia ingin terbebas dari segala rasa was-was. Bahkan ia telah mematikan ponsel agar tidak terus berharap kabar dari kekasihnya. Ia mencoba menanamkan pikiran positif di kepalanya. '' Fattan sedang sibuk .''


Dan kini ia memilih memanjakan diri dengan me time. Merombak habis penampilan yang sudah ia pertahankan selama beberapa tahun. Rambut panjangnya ia potong sebahu dan rambut hitamnya ia cat dengan warna coklat.


Ia pun melakukan perawatan wajah, membuat wanita itu tampak lebih fresh dengan tampilan yang berbeda. Cantik sudah pasti. Tampak Shazna tersenyum puas saat melihat pantulan dirinya di depan kaca.

__ADS_1


'' Harus di abadikan nih ,'' ucapnya setelah rangkaian perawatan telah selesai. Petugas salon yang berada di dekatnya tampak tersenyum tipis. Shazna mengambil ponsel dalam tas dan menghidupkannya.


Suara notifikasi dari panggilan tak terjawab membuat wajah wanita itu tampak tertegun. Ada rasa bersalah yang menyelinap di hatinya saat ia mematikan ponsel. Ia berusaha menghubungi kembali Fattan namun ternyata nomer lelaki itu sudah kembali tidak aktif. Shazna hanya bisa menghela nafas panjang.


__ADS_2