
Fattan kembali ke rumah kepala desa, dimana ia dan dua rekan kerja lainnya tinggal. Sementara yang lain berada di desa yang berbeda-beda. Fattan yang tadi di antar salah satu pemuda desa kini tampak memasuki sebuah rumah papan.
'' Mas Fattan,ya ampun aku cariin dari tadi juga. Dari mana sih ?,'' tanya Dilla menyambut kedatangan dokter tampan tersebut dengan wajah cemberut. Namun wanita itu langsung menggelayut di lengan Fattan. Fattan tersenyum canggung sembari menurunkan tangan Dilla dari lengannya.
Ada sang pemilik rumah yang menatap keduanya dengan tatapan heran. Fattan tersenyum canggung melihat pak Darto , selaku kepala desa yang tampak memalingkan wajah saat bertemu tatap dengannya.
'' Pagi Pak !," sapa Fattan seraya melangkah mendekati sang pemilik rumah. Lelaki setengah baya itu tersenyum sembari mengangguk. Fattan di persilahkan duduk di hadapan Pak Darto. Dilla masih saja mengekor Fattan bahkan wanita itu ikut duduk di samping Fattan.
'' Maaf pak, tadi pagi-pagi saya pergi tanpa pamit. Saya cari sinyal di ujung kampung pak ,'' ucap Fattan yang tadi pagi pergi tanpa pamit. Ia sudah terlalu merindukan sang kekasih hati.
'' Tak apa, pasti pak dokter ingin mengabari keluarga,'' ucap bijak lelaki itu dengan senyum. Lagi-lagi wanita di samping Fattan memegang lengan kekar itu.
'' Kok mas gak ngajakin Dilla, Dilla kan juga mau kasih kabar orang rumah ,'' sela Dilla dengan nada manja sembari menggoyang-goyangkan lengan Fattan. Fattan tersenyum kecut sembari melepaskan tangan Dilla di lengannya.
__ADS_1
'' Bisa nanti minta anterin Mas Hardi,tadi saya juga di antar beliau,'' sahut Fattan sambil menggeser duduknya hingga tak terlalu menempel dengan Dilla.
'' Ya,memang di sini masih seperti ini bu,pak. Akses internet belum ada, penerangan pun masih dengan jenset. Sinyal telepon masih sangat sulit. Saya sudah berkoordinasi dengan pihak terkait, untuk listrik di rencanakan tahun ini bisa masuk desa,'' tutur kepala desa, Fattan mendengarkan dengan seksama. Lain dengan Dilla yang tampak mengerucutkan bibir, karena merasa segala aktifitas terhambat.
'' Semua di sini serba sulit ,'' gumam Dilla yang masih cukup terdengar dua orang di dekatnya.
'' Benar bu,di sini semua-muanya serba sulit,kami juga sebenarnya sangat menginginkan agar desa kami bisa seperti di kota. Tapi akses belum memadai,'' tutur Pak Darto.
'' Itu sebabnya kenapa kami para tim medis datang ke sini. Nanti kita akan sama-sama saling bantu membantu untuk meningkatkan kemajuan desa ini,'' ucap Fattan,yang dianggguki oleh pak kepala desa. Ketiganya duduk di ruang tamu cukup lama, apalagi setelah sang ibu kepala desa membawakan mereka minuman hangat di tambah gorengan pisang yang juga masih hangat.
'' Jadi pak dokter ini masih lajang ?,'' tanya ibu kepala desa saat mereka membicarakan tentang pasangan. Fattan tersenyum tipis kemudian menyahut.
'' Doakan saja bu, sepulang dari sini rencananya saya akan melepas masa lajang saya.''
__ADS_1
Ibu kepala desa tersenyum sembari menatap bergantian pada Fattan dan Dilla yang duduk menempel.
'' Wah, jadi bu Dilla,dan pak dokter sudah ada rencana untuk menikah ?,'' tanya wanita itu yang menyangka mereka berdua adalah sepasang kekasih. Karena Dilla yang terlihat terus menempel dengan Fattan dari pertama datang. Mendapati pertanyaan itu , Dilla tersenyum lebar dan hendak menyahut tapi Fattan lebih dulu menjawab.
'' Bukan bu, bukan dengan Dilla, dia ini sudah saya anggap adik saya. Karena dia adik sahabat saya. Sedang wanita yang ingin saya nikahi bernama Shazna,dia kekasih saya .''
Fattan menerangkan dengan tatapan mata berbinar dengan senyum lebar. Terbayang di benaknya bayangan sang kekasih. Sedang Dilla langsung cemberut kesal.
Perbincangan pagi itu terhenti saat waktu mulai beranjak siang. Setelah membersihkan tubuh mereka beranjak dari rumah kepala desa menuju kantor desa. Dimana di sana mereka akan mengadakan penyambutan atas kedatangan mereka.
Dan akan ada pemeriksaan kesehatan untuk warga. Fattan merasa lega saat baik ke atas panggung dan melihat antusias semua warga dengan kedatangan mereka. Dengan karismanya , Fattan membius semua tamu dengan pesonanya. Apalagi para wanita muda yang tidak bisa menyembunyikan binar mata mereka. Membuat Dilla mengepalkan telapak tangan, kesal.
Fattan memperkenalkan diri dan dua orang yang kini berdiri di samping kanan kirinya. Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu yang terlihat mengkilap hitam dan lurus. Dia adalah ibu bidan beranak satu ,Lira. Dan disampingnya Dilla yang terus menempel seolah mempertegas kedekatan mereka berdua. Fattan mencoba bersikap profesional dalam menghadapi Dilla yang ia rasa, mulai keterlaluan.
__ADS_1
Ada hati yang harus ia jaga namun wanita itu seolah tak memperdulikan semua itu. Dilla terus saja menempel pada dirinya. Meski ia telah menunjukkan ketidaknyamanan nya.