
Menikmati hari dengan status pengangguran. Shazna lebih memilih merawat sang ayah seorang diri. Sementara waktu perawat yang biasa merawat ayahnya ia beri cuti. Ia ingin sebelum kembali bekerja ia memiliki waktu yang berharga bersama sang ayah.
Mengantar terapi sendiri,atau sekedar duduk saling bertukar cerita. Dan entah kenapa sang ayah tidak pernah membahas soal Brandon padanya. Bahkan saat ia memberi tahu tentang keputusan untuk mengakhiri hubungan dengan Brandon dan memilih resign,ayah tak mempertanyakan alasannya.
'' Apa pun ayah hanya bisa berdoa yang terbaik,'' hanya kata itu yang terucap. Terkadang Shazna berpikir mungkin sang ayah terlalu peka terhadap dirinya. Hidup berdua membuat mereka saling mengerti satu sama lain meski terkadang tak ada kata yang terucap.
" Yah, makan dulu yuk ,"ajak Shazna saat menjelang waktu makan siang. Wanita itu menghampiri sang ayah di kamar. Ayah baru saja bangun dari tidur siangnya. Shazna membantu sang ayah turun dari ranjang.
'' Terima kasih,'' ucap ayah yang telah duduk di kursi rodanya.
'' Sama-sama,''sahut Shazna dengan senyum terkembang di bibirnya. Wanita itu mendorong kursi roda menuju ruang makan. Dimana di sana telah tersedia berbagai menu lezat yang telah di masak oleh Shazna.
'' Wah,makan besar ini,'' ucap ayah dengan wajah berbinar. Melihat berbagai menu yang jarang di perbolehkan untuk di makan oleh sang putri. Alasan kesehatan menjadikan Shazna cukup pemilih pada makanan yang di konsumsi oleh ayahnya.
'' Sekali-kali Yah,buat perayaan waktu berharga kita beberapa hari ini,'' jawab Shazna sembari menempatkan sang ayah di dekat meja makan. Sang ayah tersenyum lebar seraya mengangguk antusias.
Melihat wajah sumringah ayah mengantarkan sebuah kehangatan di hati Shazna. Wanita itu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta beberapa lauk yang menjadi favorit ayah. Belum Shazna selesai menyiapkan makan ayah terdengar ketukan di pintu depan.
'' Siapa ya Yah ?,'' tanya Shazna dengan wajah bingung menatap ayah yang menggelengkan kepala.
'' Kamu gak ada janji sana temen kamu ?,'' ayah mengajukan pertanyaan.
'' Gak, Shazna lihat ke depan dulu Yah ,'' ucap Shazna sembari meletakkan piring di hadapan ayah.
Shazna melangkah dengan langkah sedikit cepat untuk segera mencapai pintu depan.
'' Siapa ?,'' seru Shazna saat ketukan terdengar kembali dari pintu depan.
__ADS_1
'' Paket,'' sahut seseorang di depan sana. Membuat Shazna mengerutkan kening, merasa tak ada berbelanja apapun. Shazna meneruskan langkah dan membuka pintu seraya melongkokkan kepala.
Sebuah buket bunga cantik berwarna putih, menyambut Shazna di depan pintu.
'' Paket atas nama Shazna Rivania ya mbak. Pembayaran COD ya,'' ucap lelaki yang tersenyum lebar menatap Shazna yang berdiri sambil bersandar di gawang pintu dengan tangan bersedekap di dada.
'' Kayaknya salah alamat ya mas,gak order aku tuh,'' sahut Shazna menanggapi lelaki di hadapannya.
'' Kalau gitu, aku kasih gratis khusus buat mbak cantiknya,'' ujar lelaki tersebut sembari mengulurkan buket bunga pada Shazna.
'' Makasih,'' sambut Shazna sambil meraih buket bunga dari lelaki tampan yang masih berdiri menatap wajahnya.
'' Gak kerja ?,'' tanya Shazna pada Fattan yang siang itu mendatangi kediaman Shazna.
'' Cuti,'' singkat Fattan.
'' Udah free,tadi malam piket,'' terang Fattan yang hari itu tampak santai dalam balutan kaos panjang bergaris di padu dengan celana jeans panjang dengan bagian lutut yang tampak sobek.
'' Shaz siapa ?,'' tanya ayah dari dalam.
'' Kang paket yah,''sahut Shazna dengan senyum di bibirnya.
''Bawa paket cinta Yah,'' sambung Fattan namun dengan nada lirih. Hanya Shazna yang mendengar dan membuat wanita itu melengos.
'' Jadi,gak di suruh masuk nih ?,'' tanya Fattan pada Shazna yang belum juga menyuruh masuk ke dalam rumah.
'' Mana ada kang paket minta mampir,'' jawab Shazna.
__ADS_1
'' Ya udah kalau gak masuk rumah, masuk hati kamu juga boleh,''
'' Gombal,mau masuk gak,di tungguin ayah tuh,'' ujar Shazna seraya melangkah , Fattan mengikuti di belakang wanita itu.
'' Aku lagi mau makan sama ayah,mau ikut ?,''tawar Shazna seraya menoleh sekilas pada lelaki yang masih mengekor di belakangnya.
'' Gak nolak,tau banget aku belum makan siang. Emang istri idaman banget,'' ujar Fattan yang membuat Shazna memutar bola mata, jengah.
'' Siang Yah,'' sapa Fattan setelah sampai di ruang makan dan melihat ayah yang masih duduk menunggu putri semata wayangnya.
'' Lho katanya kang paket ?, ternyata nak Fattan,sini nak ikut makan,'' sambut ayah antusias sembari menepuk sandaran kursi di sampingnya.
'' Makasih yah,'' sahut Fattan sambil duduk di kursi yang ayah tunjukkan.
'' Yah,yah. Sejak kapan jadi anak ayah,'' protes Shazna yang sedang meletakkan bunga di vas yang terletak di sudut ruangan.
'' Ayah aja gak keberatan kok kamu yang protes,iya gak yah ?,'' Fattan mencari pembelaan dari lelaki yang duduk di sampingnya.
'' Iya,gak apa-apa biar ayah punya anak laki-laki,'' sahut ayah sembari menepuk pundak Fattan.
'' Tuh Shaz,ayah udah ngasih lampu hijau. Terus kapan ?,'' lanjut Fattan sembari menatap dengan wajah menggoda Shazna yang duduk berhadapan dengan dirinya.
''Dah makan , jangan banyak omong kamu,'' ucap Shazna dengan wajah cemberut sembari mengulurkan piring yang telah diisi dengan nasi.
''Makasih calon...,'' ucap Fattan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Shazna. Ayah tersenyum melihat interaksi mereka. Sedang Fattan tergelak melihat wajah keruh Shazna karena ia goda.
Makan siang hari itu menjadi lebih ramai dengan kedatangan Fattan.
__ADS_1