Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Percakapan Sepasang Kekasih


__ADS_3

Shazna menghela nafas berat saat ia keluar lobby kantor dan melihat kekasihnya berdiri di tempat parkir dengan bersandar pada badan mobil miliknya. Tampak Brandon berdiri cool dengan tangan bersedekap dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.


Saat melihat sang pujaan hati yang semakin mendekat. Brandon tersenyum lebar, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut wanitanya. Namun sang wanita tampak acuh dan berhenti melangkah berjarak satu meter dari Brandon. Shazna menatap dingin lelakinya dengan tangan kini bersedekap di dada.


'' Ngapain di sini ?,'' tanya Shazna dengan tatapan tak bersahabat.


'' Kok gitu Yang, ngomongnya,'' ucap Brandon seraya mendekati wanitanya kemudian merengkuh tubuh kaku sang kekasih dalam pelukan.


'' Maaf,'' lirih lelaki yang hari itu memakai kaos panjang model v neck berwarna abu di padu celana jeans panjang berwarna hitam. Shazna tetap diam,tak membalas pelukan sang kekasih.


Brandon melepaskan pelukannya, memegang bahu Shazna dengan kedua tangannya. Kemudian salah satu tangannya mengusap lembut pipi Shazna.


" Aku cinta sama kamu, apa yang kamu denger hari ini. Aku belum menyetujuinya," ucap Brandon lembut, Shazna menarik nafas panjang. Wanita itu memalingkan wajah, membuang pandangannya dari lelaki di hadapannya.


" Kenapa kamu gak pernah bilang sama aku ?," tanya wanita yang sedang menahan bulir air mata agar tak mengalir dari pelupuk matanya. Brandon menyelipkan anak rambut Shazna di belakang daun telinga wanita yang belum mau menatap dirinya.


" Kita cari tempat buat ngobrol yuk !," ajak Brandon sembari meraih tangan sang kekasih dan menariknya ke arah mobil miliknya. Shazna tak menyahut,tapi langkah kakinya mengikuti lelaki itu membawanya.


Brandon membukakan pintu untuk Shazna,membawa wanita itu masuk mobil. Dengan penuh perhatian lelaki itu melindungi kepala sang wanita saat memasuki mobil. Shazna masih diam, raut wajahnya tampak dingin. Brandon tak menyalahkan sikap kekasihnya. Buar bagaimanapun ialah yang bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


Brandon memasuki mobilnya,duduk di belakang kemudi dan memasang sabuk pengaman. Lelaki itu menoleh sekilas wanitanya yang menatap lurus ke depan,ia memastikan Shazna telah memakai sabuk pengaman dengan benar.


Tanpa ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Brandon melajukan dengan perlahan kendaraan yang di kemudikan nya. Sepanjang perjalanan, Brandon hanya bisa mencuri tatap pada sang wanita. Karena wanitanya masih memilih bungkam di selama dalam perjalanan.


Sampai di sebuah cafe yang mengusung tema alam terbuka. Brandon menghentikan laju mobilnya. Ia turun dan membukakan pintu untuk Shazna yang masih memasang wajah dingin. Brandon meraih pinggang Shazna dan membawa ke kekasihnya duduk di salah satu kursi di cafe yang terdapat di tepi danau itu.


Sesaat setelah mereka duduk datang pelayan yang menanyakan pesanan mereka. Brandon memesan makanan untuk dirinya dan Shazna yang hanya mengatakan " Terserah" saat Brandon menanyakan ia hendak makan apa.


Brandon meraih telapak tangan wanitanya setelah pelayan meninggalkan sepasang kekasih itu.


" Maaf kalau aku belum cerita masalah ini sama kamu. Bukan aku gak mau cerita. Tapi aku sedang mencari alasan yang tepat untuk menolak perjodohan ini," tutur lembut Brandon.


" Sayang," ucap Brandon ya g menyadari kekasihnya menangis. Lelaki itu meraih pipi Shazna,membawa wajah sang wanita menghadap dirinya dan menghapus air mata itu dengan ibu jari.


" Jangan nangis,maaf," ucap Brandon yang merasakan hatinya ikut tersayat saat melihat air mata yang mengalir di pipi sang kekasih. Apalagi ia menyadari air mata itu mengalir karena dirinya.


" Hubungan kita terlalu rumit," ucap Shazna dengan suara seraknya. Wanita itu menunduk, menatap permukaan meja di depannya.


" Kasih aku waktu, untuk mengurai kerumitan ini. Aku sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan ini. Tapi ada hal yang menyulitkan aku untuk menolak. Aku pikir, Kellie akan menolak perjodohan ini ternyata...," lelaki itu menghentikan ucapannya. Shazna tersenyum sumir seraya menyadarkan tubuhnya setelah menarik tangan dari genggaman Brandon.

__ADS_1


" Ternyata dia menerima perjodohan itu kan ?," wanita itu menatap kekasihnya yang kini tertunduk.


" Kasih aku waktu untuk membereskan kekacauan ini. Aku gak mau kehilangan kamu , Sayang," ucap Brandon yang kini menatap dua bola mata Shazna.


Percakapan dua sejoli itu, terhenti saat pelayan datang dengan pesanan mereka. Keduanya menikmati makanan dalam diam. Brandon memilih menunda percakapan mereka. Ia tak mau mengganggu acara makan sang kekasih.


Sampai makanan habis yang tersisa tinggal dua gelas minuman di hadapan mereka.


" Berapa lama aku harus menunggu ?, apa kamu bisa menjanjikan kalau penantian ku tak akan sia-sia ?," tanya Shazna, Brandon belum menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat,ia sendiri tak tahu harus bagaimana.


" Aku tidak bisa menjanjikan berapa lamanya,tapi tolong jangan tinggalkan aku Shaz," ujar Brandon mengiba, sambil meraih kembali telapak tangan kekasihnya untuk ia genggam. Shazna tersenyum getir. Ini sama saja ia menggadaikan hatinya untuk terluka.


Wanita itu melepaskan genggaman tangan Brandon. Menatap ke dalam mata lelaki di hadapannya.


" Kasih aku waktu sendiri,' ucap wanita itu seraya beranjak.


" Sayang,aku antar pulang," cegah Brandon sembari bangkit dari duduknya hendak mengejar wanitanya.


Shazna menoleh pada lelaki itu sesaat.

__ADS_1


" Please,aku pengen sendiri dulu," ujar Shazna, Brandon paham keinginan Shazna. Dengan berat hati ia membiarkan wanitanya pergi sendiri. Brandon hanya bisa menatap Shazna yang masuk ke dalam taksi online dengan tatapan sendu.


__ADS_2