Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Ketahuan


__ADS_3

Dua lelaki dewasa tampak berdiri bersandar pada kap mobil masing-masing yang terparkir bersebelahan. Salah satu dari mereka terlihat mengeluarkan rokok dan menyulutnya. Masih belum ada percakapan dari dua lelaki itu. Hanya ada hening yang melingkupi malam yang kian larut.


Fattan menghela nafas panjang, melihat ke arah Brandon yang sedang menyembulkan asap dari dalam mulutnya. Entah apa yang diinginkan oleh lelaki itu. Yang tampak adalah lelaki frustasi dengan tatapan nanar.


'' Sebenarnya ada perlu apa ?,'' tanya Fattan dingin. Brandon menoleh sekilas kemudian kembali tatapan matanya yang kosong menatap langit yang pekat.


'' Sejauh apa hubunganmu dengan Shazna ?,'' tanya Brandon yang kini naik ke atas kap mobilnya dan duduk di sana. Fattan menoleh ke arah Brandon yang masih asyik dengan rokoknya.


'' Apa urusan kamu ?,'' sambung Fattan masih dengan nada tak bersahabat. Brandon tersenyum sinis tanpa menoleh ke arah Fattan.


'' Urusan ku hanya memastikan Shazna tidak memilih pasangan yang salah,'' jawab Brandon. Ia menoleh ke arah Fattan, membuat keduanya beradu pandang. Kini Fattan yang tersenyum sinis.


'' Kita pernah sama-sama menyakiti Shazna,tapi kamu jangan khawatir karena aku tidak mungkin menyakiti dia untuk kedua kalinya,''sahut Fattan yakin. Brandon melempar putung rokok yang menyisakan bara kecil di ujungnya.

__ADS_1


'' Aku harap omongan kamu bisa di pegang. Aku sudah mengecewakan dia, aku hanya ingin melihatnya bahagia,'' tutur Brandon dengan wajah yang kini menunduk. Fattan busa merasakan ketulusan laki-laki yang sempat menjadi rivalnya itu.


'' Aku pastikan,aku tidak akan mengecewakan dia lagi. Kamu tidak perlu khawatir, kebahagiaan dia adalah tanggung jawab ku saat ini,'' ucap Fattan, Brandon turun dari kap mobilnya, berjalan menghampiri Fattan yang berdiri bersandar pada mobil miliknya dengan dua tangannya bersedekap di dada. Brandon mengulurkan tangan. Sesaat Fattan menatap lelaki itu sebelum menerima uluran tangannya.


'' Aku percayakan Shazna bersama kamu,aku yakin kamu bisa membahagiakan dia,'' ucap Brandon saat tangan mereka saling berjabatan.


'' Pasti,'' sahut Fattan, keduanya memberikan senyum tulus. Tak ada lagi permusuhan diantara dua lelaki itu. Bagi mereka kini,yang terpenting adalah kebahagiaan seorang Shazna.


Setelah saling berjabat tangan,dan sama-sama mengibarkan bendera putih untuk perdamaian. Keduanya berpisah dengan mengendarai mobil masing-masing. Fattan harus segera kembali ke rumah. Pakaian yang hendak di bawanya esok hari belum ia kemas.


Wanita itu tersenyum tipis melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia merasa tak percaya dengan keputusannya sendiri. Belum lama ia melepaskan cincin pertunangannya dengan Brandon kini ia telah menggantinya dengan cincin dari Fattan. Sebegitu mudah kah hatinya berpaling ?, bahkan pertanyaan itu muncul di benaknya. Namun ia tak bisa menjawab tentang perasaannya sendiri.


Ia tak bisa mengingkari tentang sebuah rasa yang tertinggal dari Brandon,tapi rasa itu kian samar. Menjelma menjadi sebuah rasa takut kehilangan,saat Fattan berpamitan akan meninggalkan dirinya. Ternyata perasaannya pada Fattan lah yang masih bersemayam dalam hatinya. Ternyata cinta itu masih ada, hanya saja selama ini ia yang belum bisa berdamai dengan masa lalu, hingga ia menutup rasa cinta itu dengan rasa kecewa dan luka.

__ADS_1


Setelah memastikan penampilannya cukup sempurna, Shazna berpamitan pada sang ayah hendak mengantar Fattan ke bandara. Dengan mengemudikan mobil miliknya, Shazna menyusuri jalanan pagi yang cukup padat. Ia beberapa kali melihat jam tangannya. Terakhir ia menghubungi sang kekasih bahwa lelaki itu hendak berangkat dari rumah setengah jam lagi. Masih butuh waktu kurang lebih lima belas menit untuk sampai di rumah Fattan.


Saat jalanan tidak terlalu padat, Shazna melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan. Ia tak ingin terlambat mengantar Fattan ke bandara.


Akhirnya sampai ia di rumah Fattan, tampak rumah itu sepi seperti biasa. Shazna turun dari mobil, tanpa mengetuk pintu wanita itu masuk ke dalam rumah yang tak terkunci pintu depannya.


'' Tan, Fattan ,'' panggil Shazna saat tak menjumpai lelakinya di lantai bawah.


'' Di atas sayang,naik aja,'' suara teriakan Fattan dari lantai atas. Shazna melangkah menaiki tangga, berjalan menuju kamar satu-satunya yang berada di lantai atas.


Shazna membuka pintu kamar, namun saat ia melihat ke dalam tak terlihat Fattan di sana. Wanita itu melangkah masuk, sampai tiba-tiba sebuah tangan merengkuh dirinya dari belakang, membuat wanita itu kaget.


'' Fattan,'' teriak Shazna saat menyadari sang kekasih lah yang memeluk dirinya dari belakang. Fattan tersenyum lebar, kemudian membalikkan tubuh wanitanya hingga menghadap dirinya. Keduanya saling menatap dalam, hingga Fattan mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir sang wanita.

__ADS_1


Tak ada penolakan dari Shazna, keduanya terbuai ciuman lembut yang memabukkan. Mata keduanya terpejam dengan tubuh saling merapat satu sama lain. Tangan Fattan mendekap pinggang sang wanita, sedang Shazna mengalungkan tangannya di leher Fattan. Keduanya terhanyut mengarungi gelombang rasa yang memabukkan .


'' Fattan !," sampai suara teriakan seorang wanita membuat keduanya kaget dan saling menjauh. Shazna tak bisa menyembunyikan wajah yang memerah karena malu, melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.


__ADS_2