
Ada nyeri yang terasa menyayat dalam hati bersama langkah lemah yang membawa raga yang terasa nelangsa. Sesak nafas terasa di dada, mengingat ucapan Kellie pada dirinya siang tadi. Sungguh ia merasa terluka.
Ia tidak pernah mengambil apapun dari orang lain, apalagi menjadi orang ketiga. Dan ia di permalukan sedemikan rupa di depan umum. Rasanya sungguh menyakitkan.
Helaan nafas berat, berbaur semilir angin laut di sore hari. Wanita itu melangkah menjauh dari tepian pantai. Sesaat setelah sampai di dekat mobil yang ia parkir, Shazna berhenti melangkah dan wanita itu merogoh ponsel dalam tas.
Tampak Shazna mengernyitkan dahi,saat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Fattan dan Tante Dhea. Ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya saat ia tak mengaktifkan nada dering pada ponselnya.
Ia yang tadinya hendak segera masuk ke dalam mobil , mengurungkan niatnya. Di pencetnya nomor sang kekasih, namun hanya helaan nafas berat yang tampak . Nomor itu sudah tidak aktif. Akhirnya ia memberanikan diri menghubungi ibu dari kekasihnya.
Beberapa saat menunggu seraya duduk di kap mobil, panggilan itu terjawab. Suara wanita yang terdengar antusias menjawab telpon dari dirinya.
" Halo sayang, akhirnya kamu telpon juga ", suara lega di seberang sana membuat Shazna tersenyum getir. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya. Saat menyadari masih ada yang mengkhawatirkan dirinya.
" Iya Tante,maaf tadi ponsel Shazna di silent jadi gak denger waktu tante telpon", sahut lembut Shazna.
" Gak apa-apa sayang,yang penting kamu baik-baik saja. Kamu sudah hubungi Fattan ?", tanya wanita di seberang sana.
__ADS_1
" Sudah Tant,tapi sudah gak aktif", sahut Shazna. Ia menundukkan wajah, menatap ujung sepatu yang berada di atas pasir. Ada gelenyar rindu yang menyusup dalam dada. Andai lelaki itu di sini. Ah, ingin sekali ia menghambur dalam pelukannya.
" Maafkan Fattan ya nak,dia masih terlalu sibuk dengan kariernya sampai lupa ada kamu yang juga butuh di perhatikan", lembut suara itu menyapa telinga Shazna.
Kalau boleh egois, ia pun sebenarnya tak ingin ada lagi perpisahan. Ia ingin kekasihnya selalu bada untuk dirinya, seperti sat ini. Saat hatinya dilanda gundah.
" Gak apa-apa Tante, sudah jadi tugas Fattan sebagai dokter ", jawaban yang sesungguhnya pun tak persis seperti apa yang ada di hatinya. Karena sesungguhnya ia ingin saat ini kekasihnya hadir. Memberikan pelukan dan membisikkan di telinganya " it's oke,gak apa-apa. Ada aku "
Cukup lama dua wanita berbeda generasi itu saling berbincang. Sampai sambungan telepon di putuskan okeh Tante Dhea yang menyambut kedatangan sang suami.
Shazna menilik sekeliling yang sore menjelang malam itu tampak masih ada beberapa orang di sana. Meski tidak terlalu ramai. Kemudian wanita itu bergegas masuk ke dalam mobil saat di rasa terpaan angin mulai menusuk kulit. Rasa dingin menyerang ke dalam sel tubuhnya.
Shazna mengaplikasikan make up di wajahnya untuk menyamarkan sembab. Kemudian ia mengambil kacamata yang biasa ia gunakan saat bekerja. Sekali lagi ia menatap pantulan diri dalam cermin. Setelah yakin wajahnya tak menyiratkan bekas air mata, ia turun dari mobil.
Langkah pasti Shazna melewati halaman rumah yang tampak temaram karena pencahayaan lampu yang tidak terlalu terang. Belum sampai ia di pintu masuk,cekalan di pergelangan tangan membuat dirinya menghentikan langkah.
Sedikit tersentak membuat dirinya reflek menoleh kebelakang. Shazna menghela nafas dalam. Melihat wajah sendu yang menatap dirinya penuh rindu.
__ADS_1
" Mas", lirih Shazna dengan putus asa.
" Kenapa begini ?", kata itu meluncur dari bibir Shazna sebagai bentuk protes pada lelaki yang masih terpaku dengan tangan yang belum melepaskan pergelangan tangan Shazna.
" Maafkan aku Shaz,kamu pasti terluka karena ucapan Kellie", ucap lelaki yang tak lain adalah Brandon. Shazna melepas tangan sang mantan yang masih erat menggenggam.
" Mas kita sudah sepakat kan, untuk berpisah secara baik-baik. Kalau kamu tidak ingin melihat aku lebih terluka dari ini. Please jangan temui aku lagi", ujar Shazna dengan nada memohon.
" Tapi Shaz ", Brandon tampak keberatan dengan permintaan wanita yang masih mengisi seluruh hatinya.
" Please ", wajah mengiba Shazna membuat lelaki itu tak bisa lagi berkutik. Ia tak bisa menyalakan permintaan Shazna, bagaimana pun dialah yang tak pernah bisa mempertahankan cintanya.
Shazna melangkah masuk, meninggalkan Brandon yang masih tertegun menatap langkah wanita yang tak bisa lagi digapainya.
Sampai di dalam rumah, tampak sepi. Sepertinya sang Ayah telah beristirahat di kamar. Ia menyempatkan sejenak untuk melihat sang Ayah . Ternyata lelaki itu telah terlelap.
Shazna mengobrol sejenak dengan sang perawat tentang apa-apa yang berkaitan dengan sang Ayah, sebelum akhirnya perawat itu pamit dan pulang.
__ADS_1
Shazna masuk ke dalam kamar,rasa penat menguasai seluruh jiwa dan raganya. Ia duduk di depan meja rias. Tangannya terulur dan mengambil foto sang kekasih yang terbingkai di atas meja.
" Tan,aku butuh kamu", bisik lirih Shazna , tanpa sadar setetes air bening mengalir di pipinya.