
Mentari mulai meninggi saat lelaki berparas rupawan itu tampak mondar-mandir dengan raut wajah gusar. Di dalam bilik kamar yang tidak terlalu luas, Fattan berkali-kali menarik nafas dalam. Mengusap kasar wajahnya dan sesekali mengguyar rambut.
Menatap langit pagi dari balik tirai jendela di kamarnya. Pikirannya menerawang jauh. Mempertanyakan apa yang terjadi dengan sang kekasih.
Memang semalam ia menemani Dilla yang masih berada di klinik. Sebab wanita itu tampak ketakutan setelah sebelumnya menceritakan apa yang telah terjadi. Wanita itu mengatakan hampir di lecehkan oleh tiga pria tak di kenal . Yang membuat dirinya berlari ketakutan dan terjerembab masuk kedalam jurang. Rasa iba membuat Fattan menemani adik sahabatnya itu. Ia memang sempat tertidur di samping tempat tidur Dilla dengan kepala beralaskan pinggiran ranjang. Tapi menggenggam tangan Dilla ? . Ia merasa tak pernah melakukannya.
Ada yang tidak beres, pemikiran itu yang kini bersarang di kepala Fattan. Ia mencoba merangkai puzzle dari kejadian yang menimpa Dilla. Wanita itu memang terluka di beberapa bagian tubuhnya. Tapi ketika wanita itu ketakutan kenapa justru mencari dirinya ?. Bahkan semalam ia tidak mau di temani selain dirinya. Bukankah seharusnya wanita itu lebih nyaman bersama dengan seorang wanita setelah kejadian yang membuat trauma ?. Tapi justru Lira yang hendak menemani ditolak mentah-mentah. Ada apa ?.
Pertanyaan menggelayut di kepala dokter muda itu. Ia keluar kamar,ada yang harus segera di selesaikan. Ia tak mau kesalahpahaman menjadi pemicu retaknya hubungan dia dengan Shazna. Cukup sekali ia kehilangan wanita yang dicintainya.
" Pak dokter,mau kemana ?", pertanyaan meluncur dari lelaki paruh baya yang sedang duduk diruang tamu di temani secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Fattan menoleh sang pemilik rumah, tersenyum tipis seraya menyahut.
" Ke klinik sebentar pak",
__ADS_1
Sang tuan rumah tampak manggut-manggut. Sembari mengangkat kopi panasnya.
" Saya pamit dulu pak'', Fattan berujar sebelum kembali mengayunkan langkah.
" Oh ya silahkan dok, jangan lupa nanti jam sepuluh ada rapat di balai desa dok ", sambung bapak pemilik rumah yang di angguki oleh Fattan.
" Iya pak, nanti saya pasti datang ", setelah berpamitan , Fattan keluar rumah. Menghampiri motor yang di khususkan untuk dirinya selama bertugas di sana.
Hari ini memang hari Minggu yang seharusnya di gunakan untuk istirahat. Namun tidak dengan Fattan,ia biasa mengadakan pertemuan di hari libur. Dan hari ini jadwal rapat untuk membahas masalah wc umum yang sedang diusahakan untuk di bangun di beberapa titik. Serta kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya. Tidak lagi membuang sembarangan di sungai yang juga mereka gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti mandi dan mencuci pakaian.
Hingga ia sampai di klinik yang tampak sepi. Namun ada motor yang terparkir di halaman. Motor yang sudah di preteli. Terlihat asing di mata Fattan. Karena tak ada perawat yang menguntungkan motor seperti itu. Atau mungkin ada pasien.
Fattan berlalu, masuk ke dalam klinik. Tak di jumpai seorang pun di sana.
__ADS_1
" Kemana bu Lira ?", gumam Fattan yang tak melihatnya. Sesaat tampak ia mengelilingi ruangan dengan tatapannya. Sepertinya memang tak ada yang berjaga,atau mungkin sedang ke kamar mandi.
Mengabaikan hal tersebut, Fattan meneruskan langkah menuju ruangan dimana Dilla di rawat sejak kemarin.
" Semua sudah saya lakukan seperti perintah bu Dilla. Sekarang saya minta bayaran saya " suara seseorang di balik pintu membuat Fattan menghentikan langkah. Mendekatkan telinga di daun pintu, menguping obrolan di dalam sana.
" Tenang saja,ini uangnya. Tapi ingat, nanti kalau ada yang bertanya tentang kejadian kemarin jangan bilang aku hanya terpeleset dan jatuh. Kamu harus jawab seperti yang saya katakan. Dan nanti kamu juga harus mengambil foto yang lebih intim lagi antara saya dan dokter Fattan ", ucap Dilla panjang. Membuat Fattan tak habis pikir dengan kelakuan adik sahabatnya itu.
" Tenang saja, itu pekerjaan mudah. Kalau begitu saya permisi sebelum bidan Lira kembali ", lelaki yang entah siapa kembali bersuara. Fattan menyingkir dari depan pintu dan bersembunyi di balik dinding.
Dari tempatnya bersembunyi terlihat dua lelaki yang tampak asing keluar dari ruangan dengan amplop di tangan mereka. Fattan tampak mengatupkan mulutnya, menatap tajam kedua lelaki yang berjalan menjauh.
" Apa yang sedang kamu rencanakan Dil ?, aku ikuti permainan kamu ", geram Fattan yang merasa begitu kesal pada Dilla yang seakan sedang mempermainkan dirinya dengan cerita karangan wanita itu.
__ADS_1
Kini ia paham, saat Dilla menolak untuk membuat laporan pada polisi tentang kejadian yang menimpa wanita tersebut. Ternyata semua akal-akalannya saja, untuk mendapatkan perhatian dari Fattan. Dan untuk membuat kesalahpahaman yang merusak hubungan Fattan dengan Shazna.
Fattan memilih pergi,tak jadi masuk ke dalam ruangan. Ia tak perlu banyak kata untuk memaki, lihat saja nanti apa yang akan di lakukan lelaki itu.