
Fattan tampak meringis seraya mengoleskan salep pada kebab di wajahnya. Semalam ia tak merasakan apa-apa , namun pagi harinya ternyata seluruh badannya terasa ngilu. Dan wajah memarnya terasa sakit dan perih di bagian yang robek meski kecil.
'' Enak banget tuh orang, pasti Shazna yang ngobatin ,'' dengus Fattan membayangkan rivalnya di obati oleh Shazna. Hanya membayangkan saja sudah membuat hatinya memanas. Hingga tanpa sadar, Fattan menekan lukanya sedikit lebih keras.
'' Aauuww, aduh sakit,'' gumamnya sendiri. Lelaki itu masih berada di depan cermin. Mengoleskan obat pada luka di wajah tampannya.
'' Duh , jawab apa kalau di tanyain orang nanti. Masa iya dokter-dokter mabuk sampai berantem pula,'' Fattan masih berbicara sendiri seraya menatap cermin. Menatap wajahnya sendiri yang kini membiru di beberapa bagian.
Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Fattan memilih ijin untuk tidak masuk kerja. Selain wajah tampannya yang babak belur, pusing di kepalanya juga belum sembuh total. Akhirnya lelaki itu memilih menghubungi rumah sakit tempat ia bekerja dan meminta ijin libur sehari.
Tampak Fattan menuruni anak tangga dari lantai atas menuju lantai bawah.
'' Bi !," panggil Fattan pada asisten rumah tangganya.
'' Ya Pak ,'' sahut bi Rumi yang sedang berada di ruang laundry, wanita itu tampak berjalan cepat menghampiri sang majikan.
'' Ada apa Pak ?,'' tanya Bi Rumi pada sang tuan. Wanita itu sedikit terperangah mendapati wajah majikannya yang lebam. Namun ia memilih diam, karena merasa bukan kapasitasnya untuk bertanya.
'' Tolong buatkan saya teh bi,saya tunggu di taman belakang,'' ucap Fattan sembari melangkah ke arah pintu belakang.
'' Baik Pak ,'' sahut Bibi sembari bergegas ke dapur.
Fattan sampai di taman belakang, lelaki itu menatap sekeliling. Beberapa bunga mawar tampak mekar. Ada juga jenis bunga lain yang mulai kuncup. Fattan tersenyum getir. Dengan kedua tangannya berada dalam saku celana. Ia mengedarkan pandangan matanya.
Sebuah kolam kecil dengan ikan di dalamnya. Sementara pinggiran kokam terdapat berbagai macam tanaman ,dari yang berbunga hingga tanaman hias yang hanya memiliki daun yang indah. Di sebelahnya lagi sebuah ayunan yang di buat sepasang. Tak jauh dari sana sebuah kursi terletak di tengah-tengah taman dengan sebuah meja kecil berbentuk bulat.
'' Permisi Pak ,'' suara Bi Rumi membuyarkan lamunan Fattan.
'' Eh,iya Bi,'' ucap Fattan sambil membalikkan badan dan menatap wanita yang membawa nampan dengan secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Dan stoples makanan ringan sebagai temannya.
'' Maaf Pak,ini saya letakkan dimana ?,'' tanya Bibi pada Fattan yang masih setia berdiri di tempat.
'' Di meja aja Bi,di sana,'' tutur Fattan seraya menunjuk meja yang di maksud. Sekali lagi Fattan menatap sekeliling kemudian terlihat lelaki itu menghela nafas kemudian melangkah mendekati meja dimana bibi meletakkan teh yang di mintanya .
__ADS_1
Duduk sendiri menikmati secangkir teh hangat. Pikiran Fattan tetap saja berkelana. Bayangan Shazna dalam pelukan Brandon , menari-nari di benaknya. Fattan menarik nafas dalam, kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Menatap langit yang hari itu tak terlalu cerah. Sepertinya semesta pun mendukung gundah hatinya.
Fattan memejamkan mata, namun tetap saja hanya ada bayangan seorang Shazna di otaknya. Lelaki itu tersenyum getir, menyadari hatinya yang sudah terpenjara pada satu wanita.
'' Apa aku harus merebut mu darinya ?," tanya Fattan pada dirinya sendiri.
'' Pak !," suara Bi Rumi mengalihkan Fattan dari pikirannya yang mulai berkelana.
'' Ya bi,'' sahut Fattan sambil menatap Bi Rumi yang berdiri di pintu belakang.
'' Ada tamu Pak ,'' Bibi memberi tahu pada Fattan, lelaki itu terlihat mengernyitkan dahi. Ia merasa tak ada janji temu dengan siapapun.
'' Siapa Bi ?,'' tanya Fattan .
'' Bibi tidak kenal Pak, tamunya wanita,'' jelas Bi Rumi. Fattan kian mengerutkan keningnya. Ia tidak pernah membawa wanita selain Shazna kerumahnya.
'' Ya sudah Bi, sebentar lagi saya ke depan,'' jawab Fattan. Bibi tampak mengangguk dan berlalu dari sana.
Dengan pertanyaan yang masih bergelayut di benaknya, Fattan bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan taman.
Terlihat di sana , duduk seorang wanita berambut hitam lurus dengan panjang sebahu. Fattan menyipitkan mata, karena ia merasa tak mengenali wanita tersebut.
'' Itu tamunya Pak,'' ucap Bi Rumi saat melewati majikannya yang masih berdiri di ambang pintu ruang tamu yang menghubungkan dengan ruang tengah. Fattan mengangguk dan melangkahkan kakinya mendekati sang tamu.
Mendengar langkah kaki yang mendekat, wanita itu menoleh ke arah Fattan, Senyum lebar terkembang di bibir wanita itu.
'' Mas Fattan ,'' ucapnya seraya berdiri menyambut Fattan dan mengulurkan tangan. Fattan menyambut uluran tangan wanita yang belum juga di kenali.
'' Maaf, siapa ya ?,'' tanya Fattan, wanita itu tertawa renyah.
'' Mas Fattan lupa ya ?. Aku Dilla adiknya Mas Vito,'' sahut gadis yang tampak masih muda itu. Gadis itu sedikit menyipitkan mata melihat wajah lebam Fattan. Namun berusaha mengabaikannya.
'' Oh Dilla,lama gak ketemu. Sorry mas lupa, silahkan duduk ,'' ucap Fattan mempersilahkan adik teman sekolah SMA nya dulu.
__ADS_1
'' Apa kabar Mas mu ?,lama aku gak ketemu Vito,'' ujar Fattan setelah duduk di hadapan gadis cantik itu .
'' Baik Mas, saya tadi sebenarnya datang ke rumah sakit tempat mas Fattan kerja tapi katanya Mas ijin tidak masuk. Saya di minta Mas Vito untuk mengantarkan undangan ini ,'' ujar Dilla seraya mengulurkan undangan pernikahan sang kakak.
Fattan menerima dan membukanya, senyum terkembang di bibir lelaki itu saat melihat nama yang tertera dalam undangan tersebut.
'' Jadi Vito nikah sama Diara ? ,gak nyangka ,'' ujar Fattan masih dengan senyumnya. Tanpa di sadari lelaki itu bahwa senyumnya telah membuat wanita di hadapannya enggan berpaling. Dilla menatap Fattan tanpa berkedip.
'' Dil,hey !," panggil Fattan kedua kalinya saat Dilla diam tak membalas panggilan darinya.
'' Eh iya Mas, kenapa ?,'' tanya Dilla tergagap. Fattan tertawa kecil melihat raut wajah gadis di hadapannya.
'' Minum dulu Dil,'' ucap Fattan pada gadis yang kini tampak canggung karena ketahuan menatap lama wajah Fattan.
'' Iya Mas,'' sahut Dilla sembari mengangkat cangkir berisi teh dan meminumnya tanpa melihat kearah Fattan.
" Kamu, masih kuliah ?,'' tanya Fattan.
'' Masih Mas, semester akhir,'' jawab Dilla setelah meletakkan kembali cangkir di atas meja.
'' Jurusan apa ?,'' sambung Fattan yamg kini duduk bersandar , dengan tatapan tertuju pada gadis yang tampak kikuk bertemu tatap langsung dengannya.
'' Kebidanan Mas,'' jawab Dilla yang di sambut anggukan kepala Fattan.
Gadis itu menatap jam yang melingkar di tangannya.
'' Mm, Dilla pamit Mas, harus ke kampus soalnya,'' ucap Dilla.
'' Kata mas Vito ,mas wajib datang dan bawa pasangan,'' sambung gadis itu seraya memperlihatkan senyum manisnya.
'' Hahaha, pasangan ya ?,lihat nanti. Yang pasti aku datang,'' pungkas Dilla.
Gadis itu beranjak dari ruang tamu diikuti Fattan yang mengantarnya sampai teras rumah. Sekali lagi , Dilla berpamitan sebelum masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Fattan. Sebelum meluncur ke jalan raya. Dilla sempat melirik spion untuk menatap lelaki yang masih berdiri di teras.
__ADS_1
'' Semoga aja Mas Fattan belum punya gandengan,'' gumam gadis tersebut. Senyum sumringah terlukis di wajah gadis berusia 22 tahun itu.