Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Nostalgia


__ADS_3

Entah bagaimana ceritanya, Fattan yang tiba-tiba datang pada Shazna yang sedang menumpahkan tangisnya. Fattan sudah seperti bayangan seorang Shazna. Dimana wanita itu berada di sana lelaki itu mengikutinya.


'' Kok bisa kamu di sini ?,jangan bilang kamu ngikutin aku ,'' ucap Shazna dengan tatapan tajam, setelah ia berada dalam mobil milik Fattan. Lelaki itu justru tersenyum sembari menyalakan mesin mobil.


'' Anggap saja begitu,'' jawab Fattan santai membuat Shazna menghela nafas dan memalingkan wajah melihat ke luar mobil.


Sesaat keduanya terdiam , Fattan mengemudi dengan kecepatan sedang, Shazna terpekur dalam pikirannya sendiri. Pikirannya mengembara jauh. Entah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Rasanya ia tak mungkin terus bekerja pada Brandon. Terlalu menyakitkan jika harus melihat lelaki itu bersama wanita lain.


Beberapa kali , Shazna menghembuskan nafas berat. Fattan menoleh sekilas pada wajah wanita yang tampak sedang melamun.


'' Kalian putus ?,'' tak tahan , akhirnya Fattan bertanya juga. Shazna menoleh sekilas. Namun sepertinya wanita itu enggan menjawab.


Melihat Shazna yang kembali memalingkan wajah. Membuat Fattan mengerti bahwa wanita di sampingnya sedang tidak ingin di ganggu.


'' Aku antar pulang ?,'' tanya Fattan hati-hati. Shazna menggeleng, ia ingin menenangkan sejenak hatinya.


'' Aku belum ingin pulang,'' jawab Shazna lesu.

__ADS_1


'' Terus mau kemana ?,'' tambah Fattan, lelaki itu menoleh sejenak. Wanita di sampingnya kini tampak memejamkan mata dengan kepala bersandar di sandaran kursi. Menengadahkan wajah sendunya.


'' Gak tau,mau kemana,'' sahut Shazna, Fattan tersenyum kecut, ternyata sepatah itu hati Shazna berpisah dengan Brandon.


Setelah cukup lama berkendara dalam diam. Fattan menghentikan laju mobilnya di dekat sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Namun cukup sepi di waktu hampir tengah malam itu.


'' Udah malam, pulang yuk !," ajak Fattan, Shazna tampak menghela nafas berat. Perasaannya campur aduk,ada sakit, terluka, kecewa namun ada rasa lega juga dalam hatinya


" Dia akhirnya memilih pilihan orang tuanya ?," tanya Fattan, entah mengapa bukan rasa bahagia yang menyapa hatinya saat. Tapi ada nyeri melihat sang wanita tersakiti. Ingin rasanya ia membawa wanita itu dalam pelukannya.


" Aku yang mundur, karena aku sadar,aku tidak akan pernah menjadi pilihan,''sahut Shazna tanpa menoleh pada Fattan. Fattan memberanikan diri menggenggam tangan Shazna. Wanita itu sedikit tersentak, menatap tajam Fattan , namun lelaki itu justru tertunduk, matanya tertuju pada tangan yang di genggamannya.


'' Aku sadar,aku bukan orang yang tepat untuk bilang, kalau semua akan baik-baik saja. Karena aku tahu, gimana sakitnya. Dan kita sudah pernah di posisi seperti ini. Meninggalkan seseorang yang masih kita cintai itu,sakit,'' Fattan meremas pelan tangan Shazna, namun tatapan lelaki itu menerawang jauh. Kembali ke masa lalu saat ia harus meninggalkan sang kekasih ,di saat cinta itu masih tumbuh dengan suburnya.


Shazna tersenyum getir, matanya kembali menatap keluar mobil. Tangannya masih berada dalam genggaman lelaki di sampingnya.


'' Dulu aku selalu merasa jadi korban keegoisan kamu. Saat tiba-tiba kamu memutuskan hubungan, padahal pasti ada alasan di balik semua itu,'' ucap Shazna, genggaman di tangannya terasa semakin erat. Keduanya menoleh bersamaan, membuat dua pasang bola mata itu bertemu. Keduanya sesaat saling tatap dalam diam.

__ADS_1


'' Maaf,'' lirih Fattan bersuara. Lelaki itu melepaskan genggaman pada tangan Shazna dan mengalihkan pandangannya. Ia menatap gelap di depan sana.


'' Aku dulu berpikir, berpisah adalah jalan terbaik. Kamu tahu sendiri gimana gak mudahnya hubungan jarak jauh. Aku di hadapkan dengan dua pilihan, tetap bersama kamu dan berhenti kuliah,atau aku tetap kuliah dengan syarat kita harus pisah. Jelas itu pilihan yang berat banget buat aku,'' Fattan menunduk mengingat masa yang dulu terasa begitu sulit untuk dirinya.


'' Kenapa harus ada pilihan seperti itu ?,'' tanya Shazna yang tak pernah tahu alasan Fattan meninggalkan dirinya. Fattan menoleh dengan senyum hambar di bibirnya.


'' Karena nilai ku hancur setiap kita ada salah paham. Dan aku terlalu sering pulang setiap kita ada masalah. Kamu tahu kan ?,aku bukan dari keluarga kaya raya yang tidak mempermasalahkan soal biaya. Sampai akhirnya ayah menegur ku, Ayah bilang. Mau tetap kuliah dan meninggalkan kamu sementara atau berhenti kuliah saja dan uang kuliah ku untuk menikah,'' ucap Fattan di akhiri sebuah tawa getir.


'' Jangan pikir aku baik-baik saja setelah itu Shaz,berat. Tapi kamu adalah penyemangat untuk aku belajar, agar cepat selesai kuliah dan aku bisa meminang kamu. Tapi ternyata semua tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Saat aku kembali kamu gak ada,'' tutur Fattan, menggenang saat getir hidupnya.


'' Ayah di pindahkan kerja setelah aku lulus sekolah. Aku ikut pindah, karena tidak mungkin Ayah meninggalkan aku sendiri. Apalagi saat itu,aku juga sedang terpuruk. Nilai ujian ku hancur. Harapan ku masuk kedokteran pupus,'' kenang Shazna yang saat itu juga sedang berada dalam masa sulit.


'' Maaf,'' ucap Fattan, kembali keduanya saling tatap. Dan seulas senyum sama-sama terukir di bibir mereka.


'' Aku dulu selalu merasa orang paling tersakiti,dan menyalahkan kamu atas kegagalan ku. Tapi sebenarnya aku saja yang terlalu bodoh. Mentalnya masih mental kerupuk,'' ucap Shazna di akhiri tawa.


Di tengah malam berteman pekat, sepasang mantan kekasih itu tertawa mengingat masa lalu yang dulu terasa menyakitkan ternyata kini layak ditertawakan .

__ADS_1


__ADS_2