Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Alasan Tak Merestui


__ADS_3

Suara derap sepatu terdengar nyaring di ruang tamu rumah megah yang tampak sunyi itu. Langkah panjang Brandon , membawa lelaki yang tampak dingin itu melewati ruang tamu serta ruang keluarga.


'' Bi !," suara Brandon memanggil salah satu asisten rumah tangga di kediaman orang tuanya.


Wanita yang sudah tampak tua, menghampiri Sang tuan muda dengan langkah tergopoh-gopoh.


'' Den Brandon !, ada apa Den ?,'' tanya wanita paling lama bekerja di sana.


" Bibi lihat Mama ?,'' tanya lelaki yang kini mengenakan kaos polo berwarna hitam dengan celana chinos warna senada.


'' Nyonya di atas Den,di kamar ,'' jawab wanita itu .


'' Terima kasih Bi,'' ucap Brandon masih dengan wajah dingin. Lelaki itu meninggalkan sang asisten rumah tangga yang tampak mengikuti langkah anak majikannya dengan tatapan matanya.


Brandon menaiki tangga melingkar yang menghubungkan lantai dasar dengan lantai dua. Langkah kaki lelaki itu membawanya sampai di depan kamar orang tuanya. Brandon berdiri mematung sesaat, menatap pintu di hadapannya dengan tatapan kosong. Hingga akhirnya ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kamar tersebut.


'' Siapa ?,'' tanya seseorang di dalam. Brandon menarik nafas dalam sebelum menyahutnya.


'' Brandon Ma,'' tak ada lagi suara yang terdengar , namun pintu kamar itu tak berselang lama terbuka lebar. Senyum yang terkembang di bibir wanita yang telah mengenakan stelan baju tidur panjang.


'' Brandon,Mama kangen nak. Lama kamu tidak pulang,apa sesibuk itu kamu kerja ?,'' rajuk sang ibu,karena anak sulungnya itu sudah cukup lama tak pulang ke rumah. Setelah menggantikan ayahnya yang telah tiada , untuk memegang perusahaan yang di tinggalkan sang ayah, Brandon memilih tinggal di apartemen yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kerja.

__ADS_1


'' Maaf Ma, Brandon lagi banyak kerjaan yang harus di selesaikan,'' jawab lelaki yang masih berdiri di depan kamar. Mama meraih lengan putranya, membawa lelaki itu menuju ruang keluarga yang berada di lantai atas.


'' Setidaknya ingat kunjungi ibumu yang sudah tua ini. Kamu terlalu sibuk dengan pacarmu itu ,'' ucap sinis sang ibu seraya mendudukkan diri di sofa yang tersedia di ruang keluarga itu.


Brandon tampak menghela nafas,akan sulit berbicara baik-baik dengan ibunya tentang wanita yang menjabat sebagai kekasihnya.


'' Bukan seperti itu Ma, Brandon benar-benar sibuk kerja Ma,'' ucap Brandon seraya duduk di hadapan sang Ibu. Sebisa mungkin lelaki itu menghindari perdebatan dengan ibunya. Ia tak mau mengecewakan sang Ibu, namun ia pun tak ingin menyakiti kekasihnya.


'' Kamu ke sini juga pasti karena wanita itu mengadu , karena Mama menemui dia ,'' ujar wanita itu dengan raut wajah tak suka. Brandon,meraih tangan sang ibu dan menggenggamnya dengan lembut.


'' Shazna tidak mengadu Ma, Brandon yang tahu sendiri Mama datang ke kantor. Ma, kalau ada yang perlu Mama sampaikan tolong Mama bicarakan dulu dengan Brandon. Brandon sayang sama Mama,tapi Brandon juga cinta sama Shazna Ma. Tolong restui hubungan kami Ma,'' ucap Brandon lembut. Wanita itu menghirup nafas dalam. Wajahnya tampak menegang.


" Mama tetap tak bisa merestui kalian berdua, ini bukan sekedar bibit, bebet dan bobot. Tapi tentang janji yang harus di tepati," ucap Bu Marita dengan wajah dingin. Brandon mengangkat wajahnya, menatap sang ibu yang tampak dingin dan terkesan datar.


" Maksud Mama ?," tanya Brandon yang tak mengerti ucapan sang Ibu.


" Kamu tentu tidak lupa dengan kebaikan keluarga Bramantyo yang sudah mendonorkan jantung anak sulungnya untuk menyelamatkan kamu," ucap Ibu dengan tatapan mata yang kini tertuju pada anak lelakinya.


Brandon terdiam,ia tak akan pernah lupa akan kebaikan seorang pemuda yang telah mendonorkan jantungnya untuk dirinya di saat ia masih remaja dulu.


" Papa kamu dan keluarga Bramantyo sudah sepakat untuk menikahkan kamu dengan salah satu anak perempuannya. Dan karena anak perempuan pertama mereka lebih tua dari kamu. Kamu akan menikah dengan Kellie anak bungsu mereka. Kamu pasti mengingatnya kan ?,'' tanya Ibu yang di angguki oleh Brandon , lelaki itu tampak termenung, tatapan matamu kosong.

__ADS_1


'' Beberapa hari lagi Kellie akan pulang dari luar negeri, karena kuliahnya sudah selesai. Dan kamu harus mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya. Mama tidak mau tahu, lepaskan sekertaris mu itu,'' pungkas Mama, Brandon hanya mematung.


Sampai sang ibu meninggalkan dirinya yang masih terduduk di ruang keluarga. Lelaki itu masih termenung sendiri. Ia tak mengerti harus bagaimana. Cintanya tak mungkin semudah itu berpindah dari seorang Shazna untuk ia berikan pada Kellie. Gadis ceria yang sudah beberapa tahun tak dijumpainya. Gadis yang selalu memanggilnya dengan sebutan om itu yang di persiapkan untuk jadi istrinya ? .


Rasanya kepala Brandon hendak pecah memikirkannya. Lelaki itu memejamkan mata, merasakan sesak yang menelusup dalam dada. Ia menyadari ada hutang nyawa yang tak mungkin bisa ia kembalikan. Namun untuk menerima wanita yang tak ia cinta sungguh ia merasa tak siap. Karena ini masalah hati,dan hati yang telah memilih.


Akhirnya tanpa berpamitan pada sang ibu, Brandon keluar dari rumah. Ia hendak kembali ke apartemen. Di sepanjang jalan yang yang mulai lengang. Pikiran Brandon tak bisa fokus. Rasa resah menggelayut di hati.


Ia tak bisa melepaskan begitu saja cintanya. Namun mengabaikan keinginan dari orang yang telah menolongnya pun rasanya sangat keterlaluan. Brandon dilanda kebimbangan dalam hatinya.


Dalam keremangan malam, Brandon menepikan mobilnya di sebuah jembatan yang tampak sepi. Lelaki itu turun dari dalam mobil. Menatap malam yang begitu pekat. Tak terlihat bulan di atas sana. Bahkan bintang pun enggan menampakkan diri.


Sungguh malam yang bersahabat dengan hatinya yang kelam. Berkali-kali lelaki itu menghirup nafas dan menghembuskan dengan kasar. Tangannya mencengkeram besi yang berada di tepi jembatan.


'' Aaarrrgghh ,'' teriak Brandon pada kesunyian malam yang mengungkung dirinya. Ia mencoba melepaskan rasa yang begitu sesak menghimpit batinnya. Beberapa kali Brandon berteriak keras. Sampai akhirnya air mata mengalir di pipi lelaki itu.


Brandon terduduk di atas jembatan. Tergugu dalam tangis yang pilu. Kenapa ia harus di hadapkan pada hubungan rumit ini ?. Tangan lelaki itu mencengkeram dada dimana jantungnya berada. Menyadari bahwa ada harga yang harus dia bayar dengan hidupnya ,ia harus apa ?.


Haruskah ia merelakan cintanya dan memilih untuk menyerah dalam memperjuangkan cintanya ?.


'' Shazna ,'' rintih lirih lelaki yang tampak begitu berantakan. Menyebut nama sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2