
Tatapan Gracia mengikuti Shazna yang sedang membuka lunch box kiriman dari Fattan.
'' Gile, lengkap banget,'' ucap Gracia yang melihat ada berbagai macam makanan di dalamnya. Salad , beef steak,susu murni,buah apel dan spaghetti.
'' Ini orang mikir perutku karet kali ya. Yang bisa melar di kasih makanan sebanyak ini,'' celetuk Shazna yang membuat sahabatnya terbahak.
'' Yakin aku ,dia pasti masih ngarepin kamu. Mantanmu waktu kapan ?,'' Gracia mulai mengintrogasi sang sahabat yang masih menata makanan di atas meja. Keduanya kini duduk di pojok kantin.
'' Waktu SMA,dah kamu gak usah pesen makan,kita makan bareng-bareng ini. Kamu beli minum aja gih,'' ucap Shazna yang diangguki dengan semangat oleh Gracia. Wanita itu langsung melesat dari hadapan Shazna.
Tak lama Gracia kembali dengan dua botol air mineral untuk dirinya dan Shazna.
" Eh,tapi aneh juga nih mantan kamu. Kok ngirim makanan ya ?, kenapa bukan bunga atau coklat gitu ,'' ucap Gracia sembari duduk di samping Shazna.
__ADS_1
''Mungkin di pikir aku gak bisa beli kali,'' jawab Shazna santai sambil meletakkan spaghetti di hadapan sang sahabat.
'' Masa ?,ah gak mungkin ah kayak gitu alasannya,'' tambah Gracia yang merasa tak yakin dengan alasan yang di ucapkan sahabatnya. Shazna tersenyum kecil.
'' Dia itu dokter yang kemarin memeriksa aku waktu aku drop. Dan ternyata tensi darahku rendah, jadi mungkin biar aku gak lupa waktu makan kali,'' sahut Shazna yang kemudian menyuapkan salad ke dalam mulutnya.
'' Uh so sweet, perhatian banget. Yakin gak mau di naikkan statusnya ?,'' tanya Gracia seraya menaik turunkan alisnya menggoda Shazna. Shazna hanya mengangkat bahu ,ia sedang tak ingin melayani candaan sang sahabat.
Jujur ada resah yang kini sedang menyelimuti hatinya. Membayangkan kekasihnya bersama wanita lain membuat dirinya tak visa menikmati makan siang dengan tenang. Sampai jam istirahat selesai, Shazna telah kembali bergelut dengan pekerjaan. Brandon belum kembali menampakkan hidungnya di kantor. Bahkan tak ada satu pesan pun dikirim lelaki itu padanya.
'' Siapa yang harus aku tunggu,'' ucapnya lirih,ia mengemasi barang-barang miliknya. Mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tas laptop. Meninggalkan meja kerja dengan segala rasa yang mengungkung hatinya.
Sekali lagi sebelum melajukan mobilnya, Shazna melihat benda pipih yang tersimpan di dalam tas. Masih berharap ada pesan yang di kirimkan sang kekasih, namun nyatanya nihil. Shazna menghidupkan mesin mobil, melaju perlahan meninggalkan tempat parkir. Rasa kecewa telah memenuhi rongga hatinya.
__ADS_1
'' Sebenarnya kamu gak keberatan dengan perjodohan ini kan Brandon ?,'' tanya Shazna pada kehampaan yang menyelimuti hati.
'' Apa yang harus aku tunggu ?,apa yang harus aku perjuangkan ?,''lanjut Shazna,kini bulir air matanya mulai tumpah.
Shazna tak melajukan mobil ke arah pulang,ia berkendara entah kemana. Rasanya terlalu menyesakkan dada. Saat ia di nomor duakan. Ia tak akan mau di nomor duakan ataupun di duakan oleh lelakinya. Ia lebih memilih mundur daripada harus membagi kekasihnya dengan orang lain.
Jalanan yang di lewati Shazna tampak semakin lengang. Angin yang bertiup lebih terasa kencang. Wanita itu terus melajukan mobilnya sampai di pinggir sebuah pantai. Shazna memarkir mobil, sebelum keluar dari mobil, Shazna menyempatkan diri menulis pesan pada perawat sang ayah. Sebelum akhirnya ia mematikan ponsel. Ia sedang tak ingin di ganggu.
Menginjakkan kaki di atas hamparan pasir yang terbentang luas. Gulungan ombak tampak indah di ujung sana. Di ufuk barat sang Surya mulai menyingsing. Shazna melangkah tanpa alas kaki. Sepatu high heels nya telah ia lepaskan. Menikmati semilir angin yang menyapu tubuhnya dengan sedikit kencang.
Rambut panjangnya yang terurai, berkibar bersama hembusan angin. Shazna tersenyum sendiri menikmati terpaan angin yang menyapa dirinya. Gemuruh dalam hati sedikit terlupakan. Ia memilih tempat yang tepat untuk menenangkan diri. Shazna berdiri di atas hamparan pasir menatap laut dengan gulungan ombak yang berkejaran.
Shazna meneruskan langkah, mendekati tepian pantai. Kemudian wanita itu duduk di atas pasir. Matanya tak lepas dari hamparan laut yang mulai menampakkan pantulan sinar matahari yang menguning. Mungkin sebentar lagi senja menyapa.
__ADS_1
Namun Shazna masih ingin menikmati kesendiriannya. Meski rasa dingin mulai menusuk tulang. Ia masih mengenakan stelan baju kantor yang tak cukup tebal untuk menghalau angin yang berhembus cukup kencang.
Saat Shazna mengusap lengannya dengan telapak tangan sebuah jaket di gantungkan di bahunya, membuat wanita itu menoleh. Shazna mengernyitkan dahi menyadari siapa yang kini duduk di sampingnya tanpa menoleh kearah dirinya.