Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Bertemu Rival


__ADS_3

Langit tampak cerah, gumpalan awan tipis tampak beriring bersama hembusan angin. Tampak seseorang duduk menengadah menatap langit dengan seulas senyum tipis. Dialah Fattan yang duduk di taman rumah sakit setelah selesai jam kerjanya.


Jas putih miliknya telah ia tanggalkan. Tersisa kemeja slim fit berwarna merah maroon membalut tubuh atletis lelaki itu.


'' Mas Fattan ,'' seru seseorang yang membuat Fattan menoleh ke arah asal suara. Seorang gadis cantik berjalan menghampiri dirinya dengan senyum terkembang.


'' Dilla ?,'' ucap Fattan saat gadis itu sampai di dekatnya.


'' Hai mas Fattan ,'' sapa Dilla dengan senyum yang memperlihatkan deretan gigi putihnya. Fattan menyambut dengan senyum tipis.


''Kok di sini ?, gak ada yang sakit kan ?,'' tanya Fattan yang kini telah berdiri berhadapan dengan gadis tersebut.


'' Gak, gak ada yang sakit kok Mas, nemenin temenku ke dokter gigi kok. Mau konsultasi katanya. Eh lihat mas Fattan duduk sendirian di sini,jadi aku samperin,'' terang Dilla dengan tatapan tak lepas dari wajah Fattan. Fattan mengangguk paham, kemudian lelaki itu mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


'' Mas Fattan sudah selesai jam kerjanya ?,''tanya Dilla yang melihat lelaki itu melihat jam tangannya.


'' Ita,ini saya mau pulang,'' jawab Fattan ramah.


'' Ya udah yuk Mas, ke depan bareng. Sekalian aku juga mau nyari taksi,''


'' Lho katanya lagi nemenin temen kamu ?,'' ujar Fattan dengan dahi mengernyit.


'' Di suruh pulang duluan katanya,'' ujar Dilla seraya menunjukkan layar ponselnya yang menyala dengan sederet pesan di sana. Keduanya melangkah bersisian menuju area parkir.


'' Atau mau bareng aku aja ?,'' tanya Fattan setelah mereka berada di tempat parkir. Dilla tak bisa menyembunyikan raut bahagianya. Memang itu yang di inginkan gadis tersebut.

__ADS_1


'' Kalau tidak merepotkan Mas Fattan, boleh,'' jawab Dilla dengan wajah sumringah. Fattan mengambil kunci dalam saku dan memencet tombolnya hingga bunyi beep terdengar dari mobil milik lelaki itu.


'' Gak ngerepotin kok,aku juga udah mau pulang. Kamu mau langsung pulang atau ada rencana kemana dulu ?,'' tanya Fattan yang kini berdiri di samping mobilnya.


'' Sebenarnya sih mau ke toko buku. Tapi besok aja gak apa-apa deh. Takutnya nanti Mas Fattan pulangnya jadi kesorean,'' ucap Dilla, Fattan mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Kemudian lelaki itu membuka kaca pintu mobil saat Dilla tak menyusul masuk. Masih berdiri mematung di tempat.


'' Ayo ,'' ujar Fattan.


'' Eh iya Mas,''Dilla tergagap, kemudian meraih tarikan pintu dan menyusul masuk. Tak seperti ekspektasi yang di bayangkan, lelaki itu akan bersikap manis dengan membukakan pintu untuknya.


'' Gak apa-apa, belum terlalu sore. Kita langsung ke toko buku. Aku juga mau cari buku,'' ujar Fattan seraya melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir. Dilla menyembunyikan senyum yang terkembang di bibirnya.


Fattan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Lalu lintas sore itu belum terlalu padat. Sepanjang perjalanan keduanya terlibat obrolan santai. Obrolan umum seputar perkuliahan Dilla dan kabar kakak laki-laki gadis tersebut. Tak ada pertanyaan dari lelaki itu yang menjurus hal pribadi. Karena bagi Fattan Dilla tak lebih dari sekedar adik sang sahabat yang telah cukup lama di kenalnya.


Sampai di sebuah pusat perbelanjaan, keduanya turun dari dalam mobil. Dilla berusaha terus mensejajari langkah panjang Fattan. Keduanya kini telah sampai di tiko buku yang di tuju. Karena sama-sama orang kesehatan, keduanya berbelanja buku di area yang sama. Beberapa kali tampak Dilla menanyakan pendapat tentang buku yang hendak di belinya.


'' Makasih ya Mas, di temenin beli buku,'' ucap Dilla setelah keduanya keluar dari toko dengan tentengan masing-masing.


'' It's oke,gak apa-apa. Aku juga lagi perlu beli buku,'' sahut Fattan sembari mengangkat tentengan di tangannya.


'' Mampir cafe dulu yuk !," ajak Fattan dengan langkah kaki menuju cafe yang kebetulan dilewatinya. Dilla mengikuti langkah lelaki itu masuk ke dalam cafe. Keduanya duduk di bagian tengah cafe yang sore itu tidak terlalu ramai.


Pelayan menghampiri keduanya, Fattan memesan jus alpukat dan kentang goreng. Dilla memesan cheese cake dan jus jeruk.


'' Gak apa-apa kan, nongkrong dulu ?,'' tanya Fattan yang duduk berhadapan dengan gadis yang hari itu rambutnya diikat ekor kuda.

__ADS_1


''Gak apa-apa Mas, belum malam ini kok,'' jawab Dilla, Fattan tersenyum.


'' Udah lama gak pernah nongkrong di luar. Mumpung ada temennya,'' sambung Fattan. Obrolan keduanya terhenti saat pelayan datang dengan pesanan mereka. Fattan tampak menatap ke sudut cafe. Lelaki itu menatap tak suka pada dua orang yang duduk di sana.


Bukan tanpa alasan , Fattan tiba-tiba mengajak Dilla ke cafe. Sebelumnya ia melihat Brandon yang lagi-lagi digelayuti gadis yang di lihatnya kemarin. Di sela obrolannya bersama Dilla lelaki itu terus mengawasi gerak-gerik kekasih sang mantan.


Saat melihat Brandon beranjak dari tempat duduknya, Fattan pun ikut beranjak dengan alasan hendak ke toilet. Lelaki itu mengikuti langkah Brandon. Dan benar ternyata Brandon masuk ke dalam toilet. Fattan berdiri dengan menyandarkan tubuh di dinding, menunggu lelaki itu keluar dari bilik toilet.


'' Ehmm,'' Fattan bersuara saat Brandon keluar dari dalam toilet. Brandon menoleh asal suara. Lelaki itu sedikit terkejut dengan keberadaan Fattan di sana.


'' Anda ?,ada perlu apa ?,'' tanya Brandon dingin seraya berdiri menatap Fattan dengan dus tangannya berada di dalam saku celana.


Fattan menegakkan tubuhnya dengan tangan bersedekap di dada .


'' Saya cuma mau bilang, kalau anda tidak tau bagaimana cara menjaga pasangan anda , ijinkan saya mengambilnya dari anda,'' ujar Fattan yang membuat Brandon mengepalkan tangan.


'' Anda tidak tau apa yang sedang terjadi pada saya, jangan ikut campur. Dan saya ingatkan, jangan pernah berharap bisa mengambil Shazna dari saya,'' ucap Brandon dengan tatapan tajam. Fattan tersenyum miring.


'' Saya tidak perduli dengan apa yang terjadi pada Anda,yang saya perduli kan hanya Shazna. Kalau anda terus bersikap seperti ini,saya tidak segan-segan untuk mengambil Shazna dari anda,'' ucap Fattan dengan nada dingin penuh penekanan.


Fattan meninggalkan Brandon yang tampak sedang mengendalikan amarahnya. Setelah Fattan tak terlihat, Brandon mengusap kasar wajahnya. Ia tak menyangka akan bertemu dengan sang rival saat ia sedang bersama Kellie.


'' Shazna tidak boleh tau,'' lirih Brandon. Karena ia tak mengatakan pada Shazna tentang pertemuannya dengan Kellie sore itu. Baru tadi pagi ia meyakinkan kembali agar Shazna tak pergi darinya. Dan kini hubungannya kembali terancam. Brandon menghela nafas panjang.


'' Kenapa jadi serumit ini ?,'' keluh lelaki itu sebelum kembali melangkahkan kaki meninggalkan toilet.

__ADS_1


__ADS_2