Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Malam Terakhir


__ADS_3

Malam sudah larut saat Fattan mengantar Shazna kembali ke rumah. Di depan rumah Shazna, lelaki itu telah menghentikan laju mobilnya. Namun keduanya masih terdiam di dalam mobil. Tak ada kata yang terucap dari bibir mereka. Hanya helaan nafas dalam dari Fattan menggambarkan rasa yang berat untuk berpisah.


'' Aku gak tau nanti di sana bisa hubungi kamu apa gak. Katanya di sana masih susah sinyal,'' ucap Fattan di akhiri dengan helaan nafas berat. Ia menatap wajah wanita di sampingnya. Wajah Shazna terlihat datar dengan tatapan lurus ke depan. Fattan mengambil telapak tangan Shazna dan mengecupnya. Shazna menoleh ,mata keduanya saling bertatapan. Fattan membelai rambut Shazna dengan lembut. Tatapan mata lelaki itu begitu dalam, seakan menghipnotis sang wanita.


Lagi, Fattan menempelkan bibirnya pada bibir Shazna. Wanita itu tampak terpejam, menikmati pergerakan bibir yang ********** dengan lembut . Bukan ciuman panas yang menuntut, melainkan sebuah ciuman lembut yang hangat. Menyampaikan cinta yang begitu dalam, bukan tentang hasrat yang menggebu.


Fattan bisa merasakan,rasa itu jelas masih ada dalam diri Shazna. Hanya rasa kecewa yang pernah ia berikan belumlah hilang dari ingatan. Di tambah lagi kegagalan Shazna dengan Brandon. Menimbulkan rasa trauma sendiri pada hati wanita itu untuk menerima kembali cintanya.


Tapi Fattan percaya, bahwa cinta tau kemana arah jalan pulangnya. Ia tak akan memaksa, biarkan semesta mengambil jalan takdirnya. Ia hanya perlu berusaha untuk tetap menjaga hatinya, hingga di ambang batas yang ia mampu. Jika memang Shazna tercipta untukku menjadi tulang rusuknya,maka sejauh apapun perpisahan itu akan kembali membawanya bermuara pada hati dan orang yang sama.


Tapi jika semesta tak mendukungnya, sekuat apapun ia berusaha tetap saja cinta itu tak mungkin ia raih. Biarkan semua berjalan seperti seharusnya. Perpisahan ini akan menjadi penentu atas cintanya.


Keduanya masih sama-sama terpejam, dengan dahi saling menempel. Gemuruh dalam dada tak bisa mengingkari sebuah rasa yang masih membara. Shazna sadar hatinya pernah terluka oleh lelaki itu. Pernah tertanam kecewa yang menyesakkan dada. Namun ternyata cinta itu tak pernah mati. Meski ia pernah menghidupkan cinta lain di hati. Nyatanya semudah itu bara dalam hatinya menyala .


Shazna meraih kotak kecil dalam tasnya. Mengulurkan pada Fattan yang di buat tertegun dengan tatapan sulit di artikan.


'' Kamu ,'' suara lelaki itu tercekat, Shazna mengambil telapak tangan Fattan dan meletakkan kotak berisi cincin yang Fattan berikan untuknya.

__ADS_1


'' Apa kamu tidak ingin memakaikan di jariku ?,'' tanya Shazna sembari mengulurkan tangannya. Fattan terbelalak seakan tak percaya. Wajahnya tampak bodoh dengan ekspresi terkejut sekaligus bahagia yang tak mampu ia ungkapan dengan kata.


Fattan menarik tubuh Shazna dan membawanya dalam pelukan. Mata lelaki itu berkaca-kaca.


'' Terima kasih,'' ucap Fattan setelah melepaskan pelukannya. Lelaki itu mengambil tangan Shazna dan memasang cincin di jari manis sang wanita. Kemudian di kecupnya punggung tangan itu.


'' Kamu sudah yakin ?,'' tanya Fattan setelah memakaikan cincin di jari Shazna. Fattan masih menggenggam tangan Shazna dengan tatapan mata keduanya yang saling bertaut.


'' Kita sudah sama-sama dewasa, sudah seharusnya menjalani hubungan dengan dewasa. Aku mengambil keputusan inipun sudah aku pertimbangkan,'' sahut Shazna dengan wajah serius. Fattan mengembangkan senyum kemudian membawa wanita itu kembali dalam pelukan.


'' I love you too,'' sahut Shazna yang langsung membuat binar bahagia di wajah Fattan. Senyum terkembang lebar di bibir lelaki itu,ia menangkup wajah Shazna dan menciumi wajah sang wanita.


'' I will miss you so much,'' tambah Fattan.


'' I will miss you too,'' ujar Shazna dengan jari-jari lentiknya mengusap lembut wajah Fattan. Terlihat jelas , sepasang kekasih itu begitu berat untuk berpisah.


'' Besok aku terbang jam sembilan,'' Fattan memberi tahu jadwal penerbangannya pada Shazna.

__ADS_1


'' Aku usahakan mengantar besok, aku turun dulu,'' Shazna berpamitan sembari mendorong pintu mobil. Dengan berat hati Fattan hanya bisa mengangguk.


Fattan mengikuti pergerakan sang kekasih dengan tatapan matanya. Tampak wanita itu melangkah dengan pelan dan tampak ragu. Baru beberapa langkah meninggalkan mobil Fattan, Shazna berbalik. Melambaikan tangan dan berucap,'' Aku masuk ,kamu hati-hati.''


Fattan mengangguk dengan senyum di bibirnya. Shazna membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah, namun baru beberapa langkah, ia kembali berbalik dan melangkah cepat kearah mobil Fattan. Membuat lelaki yang masih memperhatikan kekasihnya itu mengernyitkan dahi.


''Ada apa ?,'' tanya Fattan sembari menyembulkan kepalanya dari pintu mobil yang terbuka kacanya. Shazna tak menyahut,ia menunduk dan mendorong tubuh Fattan sedikit mundur, wanita itu mencium bibir sang lelaki. Sesaat lelaki itu tertegun, hingga ia mampu menguasai keadaan dan membalas ciuman wanitanya.


'' Aku akan menunggumu,'' ucap Shazna sembari mengusap lembut bibir Fattan. Fattan tersenyum lembut seraya mengangguk, lelaki itu menarik tengkuk sang wanita dan mencium bibir Shazna sekilas kemudian mengecup kening wanitanya.


'' Aku masuk, hati-hati di jalan,'' Shazna kembali berpamitan, Fattan mengangguk mengiyakan. Wanita itu kini benar-benar naduk ke dalam rumah, tampak Shazna melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu.


Fattan melajukan mobilnya setelah wanitanya masuk ke dalam rumah. Hatinya terasa mengembang, ia benar-benar bahagia malam itu. Fattan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Senyum terus terkembang di bibir lelaki itu. Mengingat seharian ia menghabiskan waktu bersama wanita tercintanya. Rasanya sungguh membuat hatinya terasa begitu lega.


Suara klakson mobil yang mensejajari laju mobilnya membuat lengkungan di bibirnya memudar. Seseorang di dalam mobil di sampingnya terlihat dari kaca pintu yang terbuka. Membuat Fattan mendengus kesal.


'' Mau apa dia,'' gumamnya sembari menepikan mobil miliknya .

__ADS_1


__ADS_2