
Lelaki berkacamata itu tampak berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya. Ponsel tak lepas dari tangan lelaki itu. Beberapa kali terlihat ia menghela nafas panjang. Sampai akhirnya langkah lelaki itu membawanya keluar ruangan.
Sampai di depan meja sekertaris nya yang kosong, Brandon terpaku sejenak. Ia tampak gusar, karena tadi saat ia memarkirkan mobilnya ,ia masih melihat mobil Shazna terparkir di sana. Namun sudah lebih dari satu jam, wanita itu tak kunjung terlihat di dalam ruangan. Dan beberapa kali Brandon mencoba menelpon ternyata tak di angkat oleh kekasihnya itu.
Dengan kekhawatiran yang menggelayut di hati Brandon. Langkah panjang lelaki itu membawanya ke ruangan Gracia. Salah satu staf yang ia tahu cukup dekat dengan wanitanya.
Brandon mengetuk pintu ruangan wanita yang masih tampak sibuk dengan pekerjaannya. Gracia mengangkat wajahnya yang sedang tertunduk menatap serius pada layar laptop yang menyala .
" Eh Pak, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu ?," tanya Gracia sedikit gugup karena biasanya sang atasan tak pernah datang langsung ke ruangannya. Biasanya saat Brandon menanyakan pekerjaannya, lelaki itu hanya menanyakan lewat telepon.
Gracia berdiri dari duduknya, menganggukkan kepala pelan sebagai bentuk hormat pada sang atasan.
" Siang Grace," sahut Brandon seraya melangkah mendekati Gracia yang berdiri di balik meja kerjanya.
" Maaf mengganggu kerja kamu ,saya hanya ingin bertanya. Apa sewaktu istirahat tadi kamu bersama Shazna ?," tanya Brandon yang hanya berdiri di depan meja kerja Gracia dengan dua tangan di dalam saku celana panjangnya.
__ADS_1
" Lho, bukannya tadi Shazna makan siang dengan anda ?," Gracia justru terlihat kaget dengan pertanyaan yang diajukan oleh kekasih sahabatnya. Brandon tampak menggeleng.
" Saya tidak ada janji makan siang dengan Shazna. Saya tadi makan siang bersama klien," terang Brandon, membuat Gracia mengernyitkan dahi.
" Tadi dia bilang,ada janji ketemu orang diluar saat makan siang. Saya pikir bertemu dengan Anda Pak ," ucap Gracia yang juga di buat bingung dengan menghilangnya sang sahabat.
" Dua tidak ketemu saya,dan mobilnya juga masih terparkir di luar," ujar Brandon yang kini wajahnya semakin tampak gusar dan khawatir.
" Telpon gimana Pak,gak aktif ?," tanya Gracia .
Dengan pikiran kalut Brandon melangkah tergesah dengan tangan berkali-kali memencet nomer telpon Shazna. Fan hasilnya sama saja, kekasihnya tak menjawab telepon dari dirinya. Sampai saat terakhir ia mencoba menelpon sang kekasih berakhir dengan ponsel Shazna yang tidak aktif.
" Kamu dimana, sayang ?," Brandon berbicara seorang diri saat ia berada di dalam lift sendirian.
Tersenyum getir tampak terukir di bibir lelaki yang sedang menatap ponsel yang layarnya telah menghitam. Dialah Fattan yang masih berdiri mematung dengan sebelah tangan berada di dalam saku celana dan sebelah tangan yang lain memegang handphone milik Shazna.
__ADS_1
Entah berapa puluh kali ponsel dengan casing berwarna biru itu menyala, menandakan ada telepon yang masuk. Fattan menatap tak suka pada nama kontak yang tertera di layar wanita yang kini sedang tertidur pulas di kamar tamu rumahnya.
" My Fiance" .
Sampai akhirnya lelaki itu memilih menonaktifkan ponsel milik Shazna. Wanita yang dipaksanya untuk tidur setelah makan siang. Fattan yang kini duduk di sisi tempat tidur dan menatap wajah terlelap itu dengan tatapan sendu. Tangannya terulur untuk menyelipkan rambut yang menutupi wajah cantik yang tampak begitu damai dalam tidurnya yang lelap.
" Apa yang kamu pertahankan dari laki-laki itu Shaz ?. Padahal jelas ibunya menolak keberadaan kamu ?," tutur Fattan pada wanita yang masih terlelap dalam tidurnya. Mungkin efek obat yang tadi di minumnya membuat rasa kantuk menyerang tanpa bisa di tahan wanita itu.
Fattan menatap penuh kerinduan wanita yang terlelap dengan selimut membalut tubuh hingga menyisakan kepala yang terlihat.
" Aku mungkin sudah menancapkan luka yang begitu dalam di hati kamu Shaz. Ijinkan aku menebus semuanya, aku tahu sudah mengecewakan kamu. Aku sudah menjadi sebab gagalnya cita-cita kamu," ujar Fattan penuh sesal.
Saat mengetahui Shazna tak menjadi dokter kandungan seperti yang di inginkan wanita itu. Ia menyadari satu hal,bahwa dialah penyebab dari gagalnya cita-cita Shazna. Rasa bersalah serta penyesalan yang dalam. Membuatnya dirinya terus bertahan dengan rasa cinta pada wanita itu. Ia merasa tak pantas mencintai wanita lain.
Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menebus semua luka yang ia berikan pada wanita itu. Dan ia rela mengabdikan diri di sisa hidupnya pada Shazna untuk menebus segala salah yang telah di perbuatanya di masa lalu.
__ADS_1
Perlahan Fattan meraih tangan Shazna yang berada di luar selimut. Di kecupnya telapak tangan tersebut. Kemudian lelaki itu menggenggamnya hingga tanpa sadar Fattan terlelap dengan badan bersandar di kepala ranjang.