
Sepasang kekasih itu kini duduk di sofa ruang tamu dengan wajah tertunduk. Di hadapannya duduk wanita berusia kurang lebih 55 tahun , menatap dua orang yang tak berani mengangkat wajah. Kemudian tampak wanita anggun itu menghela nafas. Berbeda dengan wanita di sampingnya yang tampak berkaca-kaca melihat sepasang kekasih yang kini justru saling saling mendorong lutut satu sama lain.
'' Ada yang mau kamu jelaskan, Fattan ?,'' tanya wanita yang tak kain adalah ibu dari Fattan. Fattan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap sang ibu yang menatap tajam dirinya.
'' Mmm,dia Shazna Ma. Tunangan Fattan, Fattan sudah melamarnya meski belum resmi ,'' jelas Fattan, tampak Mama Dhea mengernyitkan dahi .
'' Tunangan ?,'' tanya wanita itu, membuat degup jantung Shazna berdetak tak karuan. Haruskah kisah cintanya terulang ?, akankah wanita di hadapannya menentang hubungan mereka ?. Resah menghampiri hati Shazna.
'' Iya Ma, sekalian Mama di sini. Fattan minta restu dari Mama untuk menjalin hubungan kembali dengan Shazna,'' ucap Fattan yang kini telah berani menegakkan kepalanya menatap pada sang Mama.
Kerutan di dahi Mama belum hilang, namun sedikit berkurang. Wanita itu masih diam, membuat Shazna semakin kalut.
'' Shazna ,'' wanita itu berucap dengan nada lirih namun melengkungkan bibir membentuk sebuah senyum samar.
'' Pantas anak Mama gak bisa move on ,''sambung Mama dengan tatapan tertuju pada Shazna yang masih tertunduk.
'' Jadi kamu Shazna ?,'' lanjut Mama di tujukan pada wanita di hadapannya. Shazna mengangkat wajahnya, menatap wajah yang kini menatap dirinya dengan lembut.
__ADS_1
'' Iya Tante saya Shazna,maaf atas kejadian yang tidak berkenan tadi,'' ucap Shazna seraya kembali menunduk . Rasanya ingin sekali ia menenggelamkan diri hingga tak terlihat lagi.
Tak seperti yang di pikirkan, wanita yang masih tampak muda dan cantik di usia lebih dari setengah abad itu justru tertawa.
'' Sudahlah, walaupun Mama tidak membenarkan apa yang kalian lakukan,tapi Mama bisa mengerti,'' ucap Mama, wanita itu mencondongkan tubuhnya dan berbicara dengan sedikit pelan.
'' Mama juga pernah muda,'' sambung wanita itu diakhiri dengan tawa kecil yang membuat Shazna tersipu dengan wajah merona merah .
'' Jadi kapan kalian mau nikah ?,'' tanya Mama yang membuat Shazna terbelalak kaget, berbeda dengan Fattan yang justru tersenyum lebar.
'' Maaf Tante saya permisi sebentar,mau ke kamar kecil,'' suara seseorang yang dari tadi seakan tak di anggap keberadaannya.
Dilla, gadis yang datang bersama Mama itu kini beranjak dari ruang tamu membawa sesak di dadanya. Ia tak pernah membayangkan akan melihat adegan dewasa itu di depan matanya. Adegan yang dilakukan oleh lelaki yang sedang diincarnya, hingga ia dengan percaya dirinya mendekati Mama Dhea.
'' Terus bagaimana dengan Dilla ?,''tanya Mama setelah gadis itu pergi dari ruang tamu.
'' Bagaimana , apanya ?,'' tanya Fattan dengan alis terangkat,ia tidak merasa memiliki hubungan apapun dengan adik sahabatnya itu.
__ADS_1
'' Dilla bilang kalian sedang dekat,'' ungkap Mama, membuat Shazna menoleh ke arah Fattan dengan tatapan tajam. Mama menatap bergantian sepasang kekasih yang ada di hadapannya.
'' Aku gak ada hubungan apa-apa sama Dilla,ya kita deket karena dia adiknya Vito. Aku anggap dia ya sebatas adik ,gak lebih,'' terang Fattan dengan wajah serius. Mama tampak mengangguk. Mama menoleh ke arah Shazna yang tampak terlihat sedikit cemberut. Wanita itu mengulas senyum tipis.
'' Oke Mama percaya sama kamu,terus kalian berencana meresmikan hubungan kalian kapan ?,'' lanjut Mama. Fattan menoleh ke arah Shazna, keduanya bertemu tatap sesaat, sebelum Fattan kembali menatap ke arah sang Mama dan memberi sebuah jawaban.
'' Mungkin setelah Fattan kembali nanti. Fattan juga belum bisa memastikan kapan kembali. Tergantung nanti keadaan di sana,'' ujar Fattan yang memang belum tahu berapa lama ia akan bertugas di daerah terpencil itu.
'' Ya gak bisa gitu dong, kamu gak boleh seenaknya gantungin anak gadis seperti itu . Memang kamu mau, penantian kamu sembilan tahun sia-sia,'' ujar Mama . Membuat Shazna menaikkan alisnya. Ternyata wanita itu tahu tentang hubungan mereka sebelumnya.
'' Tapi gak mungkin juga aku bawa Shazna ke tempat kerja ku Ma,dia punya tanggung jawab yang gak bisa di tinggal di sini. Shazna gak mungkin ninggalin ayah dengan keadaan ayah sekarang,'' sahut Fattan, Shazna hanya menjadi pendengar perdebatan ibu dan anak itu. Toh, memang belum ada pembicaraan ke arah pernikahan sebelumnya dengan Fattan.
'' Kalau begitu, tunangan secara resmi dahulu. Papa sama Mama akan datang ke rumah Shazna,'' ide Mama yang langsung di iyakan oleh anak lelakinya.
Ada kelegaan yang terselip di hati Shazna ,saat mengetahui ibu dari kekasihnya menerima ia dengan tangan terbuka. Semua ketakutannya perlahan menghilang dari hatinya. Ia hanya berharap semua akan terlalui dengan baik-baik saja.
Berbeda dengan apa yang di rasa gadis yang berdiri dengan bersandar pada dinding yang tak jauh dari ruang tamu. Terlihat jelas wajah muram Dilla. Ia sudah merasa begitu percaya diri untuk mendapatkan Fattan ternyata semua tak sesuai rencananya. Lelaki itu hanya menganggap dirinya adik,tak lebih. Dilla tersenyum getir dengan air mata yang menetes di pipinya. Kenyataan yang di dapatnya sungguh membuat hatinya terluka.
__ADS_1
'' Haruskah aku menyerah ?,'' tanya Dilla pada dirinya sendiri.