
Gontai langkah Shazna keluar dari kamar. Wanita itu berusaha tersenyum dan menghampiri sang ayah yang masih duduk menunggu. Meski terlihat kantuk di mata lelaki itu.
'' Yah,Ayah tidur aja di kamar. Brandon gak jadi kesini. Mobilnya kata dia mogok. Biar Shazna saja yang ke sana Yah,'' ucap Shazna memberi alasan. Ia tak tega mengatakan pada ayah yang sudah menunggu namun ternyata Brandon menggagalkan janji.
Ayah menatap wajah sang putri, Shazna berusaha tersenyum tulus. Ayah ikut tersenyum kemudian mengusap telapak tangan Shazna yang berada di bahu sang Ayah.
'' Ya sudah kamu susul ke sana. Kasihan nanti dia menunggu kamu lama,'' ucap Ayah, Shazna mengangguk dengan dada yang terasa begitu sesak.
'' Tolong bawa Ayah ke kamar ya Mas, malam ini kamu nginep aja. Aku pulangnya agak malam soalnya,'' tutur Shazna pada lelaki yang merawat ayahnya.
'' Baik Mbak,'' sahut lelaki yang tampaknya lebih muda dari Shazna itu.
'' Ya udah Yah, Shazna berangkat. Ayah istirahat.'' lanjut Shazna sembari menyalami Ayah.
'' Hati-hati,'' ucap Ayah mengiringi langkah Shazna keluar dari rumah.
'' Iya Yah,'' jawab wanita itu yang kemudian meneruskan langkah, menghilang di balik pintu utama.
Sampai di teras rumah, Shazna tak mampu menahan derai air matanya. Ia benar-benar merasa tidak lagi bisa meneruskan hubungan ini. Brandon ia rasa terlalu abai dengan dirinya. Bukan ia yang mengajak dinner malam ini, namun ia di kecewakan oleh lelaki itu.
__ADS_1
Shazna menghapus air matanya, tersenyum getir kemudian melangkah masuk ke dalam mobil. Ia butuh waktu untuk menenangkan batinnya. Alasan mobil Brandon mogok membuat ayah tak akan berpikiran apapun tentang kepergian dirinya malam ini. Ia ingin sedikit menghibur diri.
Duduk di sebuah club malam dengan gaun malam yang begitu indah, jelas membuat beberapa orang terpesona di buatnya. Mata lelaki hidung belang tak bisa lepas dari wajah cantik yang terlihat begitu menggoda.
Namun Shazna tak ingin menghiraukan semuanya. Ia hanya ingin duduk menikmati segelas wine. Mendengarkan hiruk-pikuk suara musik yang menghentak hingga tak ada bagian hatinya yang tersisa untuk memikirkan rasa kecewa yang ia rasakan.
'' Hei sendiri saja, boleh saya temani,'' lelaki berparas cukup tampan namun dengan usia yang terlihat matang.
'' Makasih, saya lagi pengen sendiri,'' sahut Shazna yang kemudian meneguk wine yang telah bartender siapkan untuk dirinya.
'' Patah hati ya ?, jangan terlalu di pikir nona. Kita bisa melupakan semuanya bersama,'' ucap lelaki yang semakin mendekat pada Shazna. Wanita itu tampak mengatupkan mulutnya. Tanda ia merasa kesal dengan keberadaan lelaki itu.
'' Maaf Tuan,tapi dia gadis saya. Bisa anda menyingkir ?,'' ucap Fattan yang entah dari mana lelaki itu tiba-tiba telah di sana. Lelaki yang di peringatkan tampak mengernyit kesal. Namun sepertinya ia tak ingin membuat keributan. Karena tanpa sepatah kata pun ia pergi begitu saja.
Shazna tak lagi memperdulikan keberadaan Fattan, wanita itu kembali pada gelas wine yang tadi telah tandas dan kini kembali terisi. Fattan menghela nafas kasar. Tanpa berbicara Fattan meraih tangan Shazna dan menarik wanita itu untuk bangkit dari duduknya.
'' Masukkan bon saya,'' ucap Fattan sambil lalu pada bartender yang mengacungkan jempol pada Fattan.
'' Apa-apaan sih Tan ?,''tanya Shazna kesal karena di seret keluar oleh Fattan. Wanita itu menatap tajam lelaki yang tak menghiraukan ucapannya. Ia tetap membawa Shazna keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Fattan yang malam itu ada janji temu dengan sahabat lamanya yang sedang berulang tahun. Tak menyangka akan menemukan Shazna di sana. Teman lama Fattan adalah pemilik club malam tersebut,dan entah takdir apa yang membuatnya harus melihat Shazna ada diantara para pengunjung club malam itu.
Sampai di tempat parkir , Shazna menyentak tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Fattan.
'' Kenapa sih kamu ?,'' ulang Shazna menatap tak suka pada Fattan .
'' Kamu yang kenapa ?, ngapain kamu datang ke club malam ?, Dan ini apa ?,'' cecar Fattan sambil membuka jas yang dikenakannya dan dipakaikan pada Shazna untuk menutupi pundak yang terbuka lebar itu.
'' Aku gak butuh,'' ucap Shazna dingin hendak menanggalkan jas dari bahunya. Tapu Fattan memegang di sisi kanan kirinya lebih erat.
'' Pakai !, kamu suka jadi objek fantasi laki-laki dengan pakaian kamu ini !," suara Fattan sedikit keras. Nada suaranya terdengar begitu tak suka.
'' Bukan urusanmu ,'' jawab ketus Shazna.
'' Jelas urusanku Shazna Rivania. Karena aku gak akan pernah rela tubuh kamu jadi santapan mata liar mereka,'' ucap Fattan, Shazna tersenyum sinis sambil menatap wajah Fattan yang tampak kesal.
'' Haruskah aku tersanjung ?,'' tanya Shazna dengan sebelah alis yang terangkat. '' Tapi sayangnya buat aku semua laki-laki itu sama. Brengseek dan egois, termasuk kamu,'' ucap Shazna menunjuk dada Fattan kemudian berlalu dari hadapan lelaki itu.
'' Tunggu kamu mau kemana ?,'' teriak Fattan yang melihat Shazna menjauh, Shazna tak menoleh ataupun menjawab. Wanita itu hanya mengangkat tangannya. Kemudian masuk ke mobil milik Shazna sendiri.
__ADS_1
Fattan yang melihat Shazna sedang tidak baik-baik saja. Turut masuk ke dalam mobilnya sendiri,fan mengikuti kemana wanita itu mengemudikan mobilnya.