
Suara hak sepatu beradu dengan lantai terdengar nyaring melewati ruangan Shazna. Shazna yang masih sibuk dengan laptop yang masih menyala di hadapannya, mengangkat wajah untuk tahu siapa yang datang.
Shazna berdiri dan mengangguk saat melihat siapa yang kini berdiri menghadap dirinya dengan tatapan tajam.
" Selamat siang nyonya," sapa Shazna penuh hormat, namun wanita itu masih mengangkat tinggi dagunya dengan wajah angkuh.
"Saya mau bertemu dengan anak saya," ucap wanita berumur sekitar kurang lebih 60 tahun. Namun masih tampak cantik dan anggun dalam balutan pakaian mahal yang dikenakannya.
" Maaf nyonya,Pak Brandon sedang ada meeting di luar. Mungkin setelah jam istirahat beliau kembali ke kantor," ujar Shazna pada Ibu Marita ibunda dari sang kekasih. Wanita itu terdiam sesaat dengan tatapan lekat kepada wanita berparas cantik yang tak berani beradu pandang dengannya.
" Kalau begitu, saya ingin berbicara dengan kamu. Saya tunggu di cafe depan," ucap Bu Marita. Tanpa menunggu jawaban dari Shazna, wanita melangkah keluar dari ruangan. Bagi wanita itu,apa yang baru saja di ucapkan bukanlah penawaran melainkan titah yang wajib dipenuhi.
Shazna menghela nafas saat ibu dari kekasihnya itu tak lagi tampak. Ia mendudukkan diri dengan rasa cemas yang menggelayut di hati. Sebenarnya ia sangat tidak siap jika harus berhadapan dengan wanita itu seorang diri.
Ia mempertimbangkan untuk memberi tahu Brandon. Namun ia tak mau membuat lelaki itu khawatir dengan dirinya. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk tak memberi tahu Brandon tentang pertemuannya dengan ibunda sang kekasih. Shazna dilema,namun ia tak bisa terus berdiam diri. Sementara ada orang yang sudah menunggunya.
Ia mematikan laptop yang masih menyala, kemudian membereskan beberapa dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Setelah selesai ia beranjak dan meraih tas yang tergeletak di atas meja. Dengan debar jantung yang meningkat, wanita itu beberapa kali menarik nafas. Meyakinkan diri, semua akan baik-baik saja.
'' Shaz !," suara Gracia memanggil Shazna yang hampir masuk ke dalam lift.
'' Ya,'' sahut Shazna sembari menoleh pada sang sahabat yang melangkah cepat ke arahnya.
'' Mau ke kantin ?, bareng dong,'' ucap Gracia yang ikut masuk ke dalam lift.
__ADS_1
'' Aku gak ke kantin Grace,ada perlu keluar,'' jawab Shazna yang di balas cebikkan bibir dari Gracia.
'' Pasti mau makan siang bareng Pak Brandon,'' gerutu Gracia. Shazna tersenyum menanggapi. Wanita itu menjawil dagu sahabatnya.
'' Ciee cemburu yeee,'' ledek Shazna. Gracia memperlihatkan wajah cemberutnya. Shazna hanya tertawa melihat tingkah sang sahabat. Sampai di lantai dasar keduanya terlibat canda yang sedikit mengurangi rasa gugup di hati Shazna.
Sampai di lantai dasar, mereka berjalan ke arah yang berbeda. Gracia melangkah ke arah kantin perusahaan sedang Shazna keluar kantor. Berjalan menyeberangi jalanan yang lumayan ramai di waktu jam istirahat siang itu.
Sampai di depan pintu masuk cafe, Shazna menarik nafas dalam. Debaran jantungnya kian bertambah,rasa was-was menghampiri dirinya.
'' Tenang Shazna, semua bakal baik-baik saja,'' ucap Shazna memenangkan dirinya sendiri.
Dengan langkah pasti , wanita itu memasuki area cafe yang cukup ramai. Pandangan matanya mengitari seisi cafe untuk melihat wanita berambut pendek bergelombang, yang masih tampak ayu di usia yang tak lagi muda.
Setelah meyakinkan diri, Shazna melangkah tegap. Menghampiri wanita yang duduk santai dengan secangkir teh di hadapannya.
'' Selamat siang nyonya, maaf membuat anda menunggu,'' ucap Shazna seraya mengangguk sejenak. Wanita itu menatap sekilas dengan tatapan tak suka.
'' Duduk !,''titah wanita itu dengan nada dingin.
Tanpa menyahut, Shazna duduk di hadapan wanita yang mengawasi dirinya dengan tatapan tajam. Saat Shazna telah duduk di hadapannya, Bu Marita memundurkan tubuhnya. Bersandar pada kursi dengan tangan bersedekap di dada.
'' Berapa yang kamu inginkan,agar kamu mau meninggalkan anak saya ?,'' pertanyaan menyakitkan yang bahkan ditanyakan wanita itu tanpa basa-basi. Shazna mengatupkan gigi-giginya, menahan amarah yang menggelegak dalam dada. Shazna berusaha tersenyum, menanggapi pertanyaan menyakitkan dari wanita berkelas di hadapannya.
__ADS_1
'' Saya tidak bisa menyebutkan berapa yang saya inginkan. Karena saya tidak tahu seberapa mahal cinta itu. Dan saya tidak berniat untuk menjual cinta," sahut Shazna pelan. Bu Marita tersenyum sinis kemudian mendengus.
" Cinta ?, jangan kamu pikir aku tidak tahu pikiran picik mu. Berapa banyak uang yang sudah anak saya keluarkan untuk kamu ?," tanya wanita itu dengan pelan namun penuh penekanan.
" Anda bisa bertanya itu pada putra anda. Apakah saya pernah menerima uang Brandon secara cuma-cuma ?. Karena selama ini,uang yang saya terima adalah hak saya sebagai pekerja. Dan jika anda menginginkan saya pergi dari hidup Brandon, akan saya lakukan. Jika Brandon yang memintanya. Saya akan pergi dengan suka rela," tutur Shazna cukup panjang. Wajah wanita di hadapan Shazna semakin mengeras.
" Asal kamu tahu, saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Saya sudah menyiapkan jodoh yang pantas untuk Brandon," ucap ketus Bu Marita.
Shazna tersenyum sumir, sesungguhnya ingin sekali kata kasar terlontar dari mulutnya. Namun tak mungkin ia melakukan hal itu pada wanita yang jauh lebih tua darinya.
"Saya tidak tahu, kalau anda sudah siap bersaing dengan Tuhan tentang jodoh putra anda. Saya pasrahkan semuanya pada Tuhan, jika Tuhan memang menggariskan takdir saya bersama dengan Brandon maka tak ada yang bisa saya lakukan. Tapi jika Tuhan tak menggariskan saya berjodoh dengan putra anda. Anda tidak perlu capek-capek menghalangi hubungan kami," ucap Shazna dengan tenang.
" Dasar tidak tau diri," geram wanita yang semakin menatap tak suka pada Shazna. Shazna masih mempertahankan wajah innocent nya di hadapan nyonya Marita.
" Ya mungkin saya tidak tahu diri,atau mungkin juga justru sadar diri. Semua yang terjadi di dunia ini,tak lepas dari tangan Tuhan. Maaf jika saya mengecewakan anda nyonya. Sepertinya waktu istirahat saya hampir habis, kalau begitu saya permisi,," ujar Shazna yang bahkan tak sempat memesan segelas minuman di cafe tersebut.
Tanpa menunggu jawaban dari wanita yang terdiam dengan bibir mengatup. Shazna berdiri, menganggukkan kepala sejenak kemudian meninggalkan wanita yang bahkan tak menoleh dirinya sama sekali.
Mungkin apa yang di ucapkan dan dilakukan Shazna terlihat kurang sopan dan cukup berani. Tapi ia hanya sedang menyelamatkan harga diri dan egonya yang terluka. Gemuruh di dadanya semakin terasa saat langkah membawanya menjauh sari cafe.
Shazna membelokkan langkah ke arah belakang cafe yang cukup sepi. Sebuah kursi panjang terdapat di bawah sebuah pohon cukup besar yang terletak di pinggir sebuah lapangan kecil. Shazna menjatuhkan diri di bangku panjang itu. Perlahan air matanya mengalir dari dua pelupuk matanya.
Shazna tergugu dalam tangis,dua telapak tangannya menutupi wajah berurai air mata. Siang yang cukup sepi di sana. Shazna menumpahkan segala yang telah ia tahan sejak tadi. Rasa sakit sungguh sangat terasa menyengat hatinya. Rasanya ia tak ingin lagi memperjuangkan hubungan ini. Namun haruskah ia mengecewakan Brandon yang begitu tulus mencintainya ?.
__ADS_1
Saat Shazna mengangkat wajahnya yang tertunduk, sebuah tissue di sodorkan di hadapannya. Ia mendongak dan mendapati wajah muram yang menatapnya dengan sorot mata sendu. Shazna terpaku di tempat. Menatap tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.