Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Tentang Ayah dan Anak


__ADS_3

Shazna tampak mengerjapkan mata,saat pagi menjelang. Wanita itu merenggangkan tubuhnya. Bangun dari tempat tidur sejenak duduk dan meraih air putih yang tersedia di atas meja.


Wanita menggerakkan lehernya yang terasa kaku. Sesaat setelah duduk Shazna beranjak dari ranjang.


'' Shaz ! '' suara lirih dari kamar sebelah membuat Shazna berjalan cepat meninggalkan kamar.


'' Iya Yah, sebentar !" sahut Shazna sembari melangkahkan kaki dengan langkah lebar.


Sampai di depan kamar yang terletak bersebelahan dengan kamar miliknya, wanita itu segera membukanya. Sosok lelaki yang tampak renta tengah duduk di atas tempat tidur. Shazna menggulung rambutnya dengan asal, dengan kaki yang terus melangkah mendekati sang Ayah.


'' Maaf ya nak, ganggu tidur kamu '' ucap ayah seraya menundukkan kepala. Shazna tersenyum sambil mengusap lembut bahu lelaki yang tampak lebih tua dari umur yang sebenarnya.


'' Kenapa Ayah selalu minta maaf ?,apa Shazna juga harus minta maaf karena ayah sudah membesarkan dan merawat ku ?'' tanya Shazna dengan lembut,sembari meraih tangan sang Ayah. Ayah menatap putri semata wayangnya dengan seulas senyum.


'' Ibu mu pasti bangga melihat mu dari atas sana. Karena kamu sudah menjadi anak yang berbakti'' ucap Ayah sembari berusaha bangkit dengan tertatih.


'' Dan Ibu pasti sangat bahagia, karena memiliki suami yang begitu mencintai ibu. Sampai rela menyendiri,merawat aku sampai dewasa. Dan terus merawat cintanya untuk satu wanita '' ucap Shazna sembari membantu sang Ayah untuk duduk di atas kursi roda.

__ADS_1


'' Dan Ayah selalu berdoa, semoga sebelum Ayah si panggil menghadap Tuhan, anak Ayah akan mendapatkan cinta yang lebih dan lebih besar dari cinta yang ayah punya '' sahut Ayah yang kini telah di dorong sang putri di atas kursi roda. Lelaki tua yang tiga bulan lalu kecelakaan di tempat ia bekerja. Dan kini lelaki itu harus rela duduk di kursi roda. Karena sebelah kakinya yang patah. Sebelah kaki yang lain pun terluka, belum mampu sepenuhnya menopang berat tubuhnya sendiri.


Hal itulah yang menyebabkan Shazna sedikit kecapekan, karena ia harus bekerja di siang hari dan malam hari ia selalu siaga setiap waktu ayah membutuhkan dirinya. Sehingga tekanan darah wanita itu rendah.


"Dan Ayah belum akan meninggalkan Shazna, karena ayah akan melihat cucu-cucu ayah dan menceritakan pada ibu nanti saat kalian bertemu " ucap Shazna yang diangguki oleh Ayah.


" Iya,ayah akan melihat cucu-cucu ayah dulu. Makanya buruan kamu menikah " ujar Ayah seraya mengusap lembut punggung tangan sang anak yang mendorong kursi roda.


" Sebentar lagi Yah " jawab Shazna,kini ia telah mengantar Ayah sampai kamar mandi yang terletak di dekat dapur.


" Shaz tunggu di luar ya Yah " imbuh Shazna setelah mengantar Ayah sampai kamar mandi. Untuk berpindah ke kloset duduk Ayah bisa melakukan sendiri meski dengan tertatih.


Rasa sayang pada anak gadisnya tak mampu terhitung lagi. Banyak hal yang telah ia lalui berdua saja dengan sang putri. Semenjak istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua mereka dan meninggalkan dirinya beserta seorang gadis cilik berusia delapan tahun. Hidupnya ia dedikasikan hanya untuk sang anak.


Kehilangan sang istri dan anak yang baru saja lahir, membuat ia merasa begitu hancur. Dan satu-satunya penguat dalam hidupnya hanyalah Shazna. Dan kini gadis kecilnya telah tumbuh dewasa.


Seperti pagi biasa ,saat Ayah berada di kamar mandi. Wanita yang mengenakan piyama pendek itu merebus air untuk membuatkan teh ayahnya. Sambil menunggu air mendidih, wanita itu duduk di kursi ruang makan.

__ADS_1


Terlihat wanita itu menghela nafas seraya menatap cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia memutar-mutar cincin itu dengan tatapan menerawang. Ia tak pernah meragukan tentang cinta dan ketulusan yang di miliki seorang Brandon. Tapi ia ragu dengan hubungan yang ia jalani dengan lelaki itu. Restu dari Ibu sang kekasih rasanya tak mungkin ia raih.


Betapa menyakitkan hatinya saat ia bertemu dengan wanita yang telah melahirkan kekasihnya. Ia seperti di anggap tak ada. Wanita itu menatap dirinya dengan tatapan yang begitu merendahkan. Kalimat pedas yang terlontar dari mulut wanita itu pun rasanya sungguh membakar hati.


Ia sadar tak sebanding dengan keluarga Brandon. Namun sungguh bukan tentang materi ia menerima lelaki itu. Namun lelaki bermata sipit itu menawarkan sebuah ketulusan yang sulit untuk ia abaikan.


Suara air mendidih, menyadarkan Shazna dari lamunan. Wanita itu bangkit dari kursi. Mengambil dua cangkir dan di tuangkan air panas di sana. Setengah sendok gula ia tuangkan, kemudian teh ia celupkan di dalam air yang masih mengepulkan asap.


" Nak " suara Ayah tak lama memanggil anaknya saat hajatnya telah selesai. Shazna bergegas menghampiri Ayah.


" Sudah Yah ?" tanya Shazna yang melihat Ayah masih berdiri berpegang pada dinding.


" Sudah nak " .


Shazna merangkul Ayah dan membawanya duduk di kursi roda. Kemudian membawa lelaki yang tampak lebih segar setelah mencuci muka itu keluar dari kamar mandi. Bukan kembali ke kamar, Shazna membawa sang ayah duduk di teras. Menikmati semilir sejuknya udara pagi hari.


" Shaz ambil teh dulu Yah " pamit Shazna yang di balas dengan anggukan. Shazna meninggalkan Ayah, kemudian wanita itu menyempatkan diri membasuh muka sebelum kembali keluar dengan nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring bolu yang sudah Shazna potong kecil.

__ADS_1


Menikmati suasana pagi dengan secangkir teh di temani makanan kecil. Menjadi rutinitas sepasang ayah dan anak itu. Mereka akan berbagi cerita dan tawa bersama. Semakin merekatkan hubungan ayah dan anak yang begitu harmonis. Penuh dengan cinta, kasih dan sayang.


__ADS_2