Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Sama-sama Terluka


__ADS_3

Waktu tak akan berhenti, seperti apapun kenyataan yang terjadi pada setiap diri manusia. Meskipun pahit dan terkadang enggan untuk melewati hari. Seperti halnya pagi ini, Shazna dengan segala sesak yang masih menghimpit dada. Ia tetap menjalani rutinitasnya.


Mata sembabnya menyambut pagi wanita cantik itu. Ia telah mengompres matanya dengan air dingin. Berharap bisa sedikit menghilangkan sembab di area mata. Ia tak mau sang ayah melihat keadaannya yang berantakan pagi ini. Akhirnya wanita itu memakai kacamata untuk menyamarkan sisa sembab di matanya.


Namun sepertinya ayah menaruh curiga kepada sang putri. Nyatanya lelaki itu pagi ini begitu pendiam dan sering kali menatap lekat wajah ayu putri semata wayangnya. Tak ada kata yang keluar dari mulut lelaki yang mulai menampakkan garis penuaan di wajahnya. Hanya sebuah genggaman tangan hangat serta senyum menentramkan mengantar sang putri saat berpamitan berangkat kerja.


Seolah lelaki itu sedang menyampaikan pada anaknya, semua akan baik-baik saja. Shazna membalas senyuman ayah dengan senyum lebar seolah memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Kemudian wanita itu masuk kedalam mobil miliknya yang telah di antar ke rumah oleh orang suruhan Brandon.


Pagi ini nampak sendu, dengan mendung yang menyelimuti seluruh kota. Awan tampak gelap menyembunyikan semburat cahaya matahari di balik gumpalan tebal awan hitam. Berkali-kali Shazna menghela nafas panjang, mencoba melonggarkan himpitan rasa di dada. Ia benar-benar merasa dalam dilema.


Satu sisi hatinya tak rela melepaskan lelaki yang begitu tulus mencintai dirinya. Memperlakukan ia bagai seorang putri. Tapi sisi lain hatinya, menyuruh untuk ia menyerah. Sampai kapanpun keadaan tidak akan berubah, restu tak mungkin di raihnya. Dan rumah tangga macam apa yang hendak ia bangun ?, jika restu saja tak ia miliki.

__ADS_1


Pikiran wanita itu berkelana sepanjang perjalanan menuju ke kantor. Untung saja lalu lintas pagi ini tak terlalu padat, hingga menyelamatkan dirinya dari kecelakaan meski mengendara dengan melamun.


Akhirnya sampai ia di area parkir kantor. Belum Shazna keluar dari mobil, pintu mobilnya sudah terbuka. Senyum lebar menyambut wanita itu.


" Pagi sayangnya aku ," sapa Brandon seraya membuka lebar pintu mobil kekasihnya. Dengan senyum sumringah yang terlukis di bibir lelaki itu. Shazna memejamkan mata sejenak sebelum menoleh kearah sang kekasih. Saat tatap keduanya bertemu , senyum Brandon sedikit surut. Lelaki itu menundukkan badan hingga sejajar dengan wajah wanitanya. Perlahan tangan lelaki itu melepas kacamata yang di kenakan sang kekasih. Namun Shazna menahan tangan Brandon dengan gelengan pelan di kepalanya.


Brandon menundukkan kepala dengan mata terpejam. Ia menyadari wanitanya menangis semalam. Saat lelaki itu kembali menegakkan tubuhnya ia meraih tangan sang wanita dan membawa turun dari mobil. Taj ada percakapan di antara keduanya. Brandon tak melepaskan genggaman tangannya sepanjang perjalanan masuk kantor meski beberapa kali Shazna mencoba menarik tangannya dari genggaman sang kekasih. Meski hubungan mereka bukan lagi rahasia fi kantor namun tak etis rasanya jika harus mengumbarnya.


Sampai di dalam ruangan Brandon lelaki itu langsung memeluk Shazna.


" Maaf," lirih Brandon dengan suara tercekat. Shazna mematung tangannya masih terjatuh di samping tubuhnya, belum membalas pelukan Brandon. Brandon semakin erat memeluk tubuh sang kekasih. Membuat dada Shazna terasa kian penuh sesak. Haruskah ia melepaskan lelaki sebaik ini ?. Bolehkah ia sedikit egois untuk memilikinya meski tak akan pernah ada restu di antara mereka ?.

__ADS_1


Dan sekelebat pemikiran yang mendatangi kepalanya justru membuat air mata kembali mengalir dari bola mata indah itu. Menyadari wanitanya hanya mematung, Brandon melepaskan pelukan. Ia menunduk dan memegang dia sisi wajah sang kekasih. Menatap sendu wajah yang telah berurai air mata.


" Percayakan padaku sayang,aku akan mengembalikan keadaan seperti seharusnya," ucap Brandon sembari mengusap air mata wanita itu. Shazna memalingkan wajah, tak mampu bertatapan langsung dengan lelakinya.


" Tapi aku sadar keberadaan ku di mana Mas, kehadiran wanita itu diantara kita bukan tanpa sebab. Aku yakin ada sebab yang memang mengharuskan kehadirannya," ucap Shazna tercekat, wanita itu memberanikan diri menatap wajah tampan lelaki di hadapannya.


" Mungkin keadaan yang seharusnya bukanlah aku di sisimu,tapi dia," lanjut Shazna. Brandon menggeleng cepat.


" Nggak,aku nggak bisa tanpa kamu sayang," ucap Brandon dengan tatapan sendu.


" Sssttt," Shazna meletakkan jari telunjuk di bibir lelaki itu.

__ADS_1


" Jangan bicara seperti itu, dengan atau tanpa aku. Kamu akan baik-baik saja," ujar Shazna dengan tenang, air matanya tak lagi mengalir dari bola matanya. Brandon kembali membawa tubuh sang kekasih ke dalam pelukan. Kali ini Shazna membalas pelukan lelakinya. Di sini ia sadar bukan hanya dia yang terluka, Brandon pun pasti terluka dengan keadaan ini .


__ADS_2