
Beberapa hari sudah berlalu, Dilla telah pulih kembali. Luka gores di tubuhnya sudah sembuh. Namun sikap manja dan ketergantungan terhadap Fattan semakin menjadi.
" Mas temenin makan ", rengekan dari Dilla menyambut Fattan yang baru keluar dari dalam kamar. Fattan menghela nafas berat. Sesungguhnya ia ingin sekali untuk tidak menghiraukan wanita itu. Tapi rasa tak tega terkadang menghantui dirinya. Buar bagaimanapun ia dan Dilla sudah cukup dekat. Ia tak bisa mengabaikan rasa sayang pada wanita yang sudah ia anggap seorang adik.
" Gak bisa Dil,aku buru-buru. Kamu sarapan sendiri ", sahut Fattan seraya melipat lengan baju panjangnya.
Dilla tampak mengerucutkan bibir. Tanda protes pada Fattan, Fattan menggelengkan kepala. Merasa sudah tak mampu lagi menghadapi Dilla.
" Ya udah,aku gak mau makan ", sungut Dilla sembari meletakkan sendok di atas piring . Fattan mendekati Dilla dan duduk di seberang wanita itu terhalang meja makan. Menatap tajam wanita yang masih menampilkan wajah cemberutnya.
" Please Dil,kamu bukan anak kecil lagi. Bersikaplah sedikit dewasa ", ucap Fattan yang kesal melihat tingkah kekanakan Dilla.
" Memang mas Fattan pernah melihat Dilla sebagai wanita dewasa ? ", wanita itu justru memberikan pertanyaan lain.
__ADS_1
" Dil, mungkin sudah saatnya mas ngasi batasan yang jelas. Mas sayang sama kamu,tapi sebagai seorang kakak terhadap adiknya. Gak lebih dan gak akan pernah bisa lebih ", ucap Fattan mencoba menekan rasa kesal yang mengendap dalam dirinya.
" Karena kak Shazna kan ?, karena dia mas berubah ?", tuduh Dilla yang kini menatap tajam pada Fattan.
" Gak ada yang berubah Dil,dan gak ada hubungannya dengan Shazna. Dari awal mas memang hanya menganggap kamu adik,gak lebih ", jelas Fattan, dengan mata menatap Dilla yang menggelengkan kepala dengan raut tak suka.
" Terus semua perhatian mas selama ini apa ?", mata itu telah berkaca-kaca. Fattan memalingkan wajah,rasa tak tega melihat tangis Dilla yang membuat Fattan sulit untuk tegas terhadap wanita itu.
" Aku gak mau jadi adiknya mas Fattan,aku cinta sama mas. Ngerti gak sih ?", Dilla menaikkan intonasi suaranya. Fattan menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi. Sulit berbicara pada wanita di hadapannya.
" Hati gak bisa di paksa,yang mas cinta itu Shazna ", lelaki itu hanya ingin mempertegas tentang perasaannya.
Ia tak bisa membalas cinta Dilla, sampai kapanpun Dilla hanyalah seorang adik di hatinya.
__ADS_1
" Mas jahat,apa hebatnya dia di banding aku. Aku yang lebih dulu ada di hidup mas, kenapa harus dia yang mas pilih ?", Dilla tampak semakin murka. Wajahnya sama sekali tak bersahabat. Fattan mencoba menekan egonya untuk tidak ikut terbawa emosi.
" Kamu salah Dil,dia lebih dulu ada di hidup mas. Dan dia adalah alasan kenapa aku tidak pernah bisa membuka hati untuk wanita lain ", jelas Fattan.
Dilla bangkit dari duduknya dengan kasar hingga membuat kursi yang baru didudukinya bergeser dengan suara cukup keras .
" Bohong,mas Fattan jahat ", ucap Dilla yang langsung pergi dari meja makan dengan penuh amarah. Fattan hanya mengikuti dengan tatapan matanya.
Ia tak bisa terus bersikap lembut pada wanita itu. Ada hati yang kini harus ia jaga. Salah dia dulu terlalu dekat dengan Dilla, hingga membuat wanita itu merasa dirinya memiliki perasaan lebih.
Fattan bangkit dari kursi, berjalan keluar dari rumah. Ada rasa lega saat drama pagi ini tak di saksikan sang pemilik rumah. Karena mereka telah pergi pagi-pagi untuk ke pasar. Dan bidan Lira sejak semalam ada di klinik, karena ada seorang warga yang hendak melahirkan. Seharusnya ia segera pergi untuk mengecek keadaan di sana. Namun Dilla malah membuat drama yang menahan dirinya.
Tapi ia memang harus membuat batasan jelas. Agar Dilla tak semakin berharap,dan membuat luka yang semakin dalam . Ia tak akan pernah bisa membalas perasaan Dilla. Shazna adalah hidupnya. Dan tak mungkin ia melepas wanita itu untuk kedua kalinya.
__ADS_1