
Shazna datang ke kantor setelah merawat Brandon. Ada satu klien yang tidak bisa di batalkan. Akhirnya dia ke kantor untuk mengurus segala berkas, sebelum asisten Brandon menggantikan sang atasan yang hari memilih tidak datang ke kantor.
" Siang Grace !," sapa Shazna saat berpapasan dengan sahabatnya yang baru keluar dari ruangan salah satu manajer.
" Hai Shaz, aku pikir gak berangkat kamu. Ada yang nyariin kamu tadi. Aku bilang kamu belum dateng," ucap Gracia seraya berjalan di samping Shazna.
" Nyari aku ? siapa ?," tanya Shazna, Gracia tampak mengangkat bahu.
" Kurang tahu,cewek masih muda," terang Gracia yang membuat Shazna mengernyitkan dahi.
" Kamu gak nanya namanya ?," sambung Shazna ,Grace menggelengkan kepala.
" Gak kepikiran tadi, dia nitip undangan pernikahan gitu buat kamu," lanjut Grace.
" Undangan, temen ku siapa ya yang mau nikah ?," tanya Shazna lebih kepada dirinya sendiri. Gracie hanya mengangkat bahu.
Sampai di depan ruang kerjanya, Gracia berhenti sesaat.
" Si bos gak berangkat ?," tanya wanita berambut pendek itu pada Shazna.
" Gak ,lagi kurang enak badan," jawab Shazna, Gracia mengangguk-anggukan kepalanya sebelum menghilang di balik pintu.
Shazna melanjutkan langkah menuju ruangannya, menyiapkan dokumen yang hendak di bawa rapat. Ia melihat undangan pernikahan yang tergeletak di atas meja. Namun ia abaikan, karena ia harus segera menyiapkan dokumen untuk keperluan rapat.
__ADS_1
Shazna mencari satu dokumen yang ternyata tak ada di atas meja kerjanya. Shazna bergegas masuk ke dalam ruangan Brandon. Untuk mencari dokumen yang harus segera di siapkan. Shazna membuka pintu yang tertutup rapat itu tanpa mengetuk pintu karena sang pemilik ruangan yang tak datang.
" Surprise !!!!,'' seorang gadis muda tersenyum lebar merentangkan tangan saat Shazna masuk ruangan. Namun sesaat kemudian senyum gadis itu menghilang dan berubah tatapan tajam yang ditujukan pada Shazna.
'' Lho kok bukan Om Brandon ?,'' tanya gadis yang kini tampak cemberut. Shazna tersenyum tipis dan berjalan masuk, mendekati tamu yang entah datang sejak kapan.
'' Maaf nona, Pak Brandon hari ini tidak datang ke kantor. Kalau boleh saya tahu, apakah anda sudah ada janji dengan Pak Brandon ?,'' tanya Shazna lembut dengan senyum profesional nya.
'' Yah, padahal mau bikin surprise,'' gadis itu tampak menghentakkan kaki dan berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana.
'' Kamu siapa ?,'' tanya gadis cantik namun tampak masih kekanak-kanakan.
'' Saya Shazna nona, sekertaris Pak Brandon,'' sahut Shazna yang masih berdiri di depan meja kerja Brandon. Gadis itu tampak semakin menajamkan penglihatannya. Menatap Shazna dengan tatapan tak suka.
'' Cantik banget sekretarisnya,'' gumam gadis itu dengan tangan bersedekap di dada. Shazna tersenyum tipis mendengar gumaman gadis tersebut.
'' Sedang kurang enak badan nona. Maaf nona ini siapa ?,'' sambung Shazna yang merasa tak mengenali gadis itu. Gadis itu berdiri dan mendekati Shazna, menyodorkan tangan yang langsung di sambut oleh Shazna.
'' Kenalkan saya Kellie Bramantyo , calon istri Om Brandon,'' ucap gadis itu yang membuat Shazna berusaha tersenyum meski dadanya seperti ada yang menyengat mendengar pengakuan gadis itu.
'' Maafkan saya nona,saya tidak mengenali anda,'' lanjut Shazna seraya mengangguk kecil.
'' Tidak apa-apa, karena saya memang baru saja kembali dari luar negeri. Oh ya,saya belum punya nomer om Brandon. Anda pasti punya,tolong tuliskan di ponsel saya,'' gadis itu menyodorkan ponsel miliknya pada Shazna. Shazna mengambil ponsel tersebut dan menuliskan nomer milik kekasih yang kini diakui gadis di hadapannya sebagai calon suaminya.
__ADS_1
Shazna mengembalikan ponsel milik gadis berwajah imut dengan senyum ceria itu.
'' Thanks ya Mbak,oh ya mbak nya mau ngapain masuk ke sini ?,'' tanya Kellie. Shazna menoleh ke arah meja kerja Brandon. Dan dokumen yang di carinya berada di sana. Wanita itu mengambil dokumen tersebut dan menunjukkan pada gadis di hadapannya.
'' Saya mau mengambil ini nona, kalau begitu saya pamit nona. Sebentar lagi harus menghadiri rapat,'' ucap Shazna undur diri.
'' Oke, makasih ya mbak nomer Om Brandon nya ,'' ujar ceria gadis itu. Shazna mengangguk seraya tersenyum . Kemudian melangkah keluar ruangan Brandon.
Setelah menutup pintu, wanita itu mendekap dokumen di dadanya. Wanita itu memejamkan mata dan butir bening mengalir tanpa permisi.
'' Apa ini alasan kamu sampai mabuk-mabukkan ?,'' Shazna berbicara sendiri. Dadanya terasa nyeri. Hubungan yang sudah ia perjuangkan selama ini sepertinya akan berakhir sia-sia.
Shazna menghapus air mata di pipinya. Ia kembali melangkah dan kembali ke meja kerjanya,ia harus segera menyiapkan segalanya untuk rapat. Saat Shazna sedang bersiap, Kellie telah keluar sari ruangan Brandon. Melambaikan tangan dengan senyum ceria yang terkembang di bibir gadis tersebut. Shazna hanya bisa tersenyum getir.
Saat gadis itu telah menghilang dari penglihatannya, Shazna menghela nafas dalam. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi. Berkali-kali mengerjapkan mata berharap air matanya tak kembali menetes.
'' Apa aku harus bertanya pada Brandon ?,'' ucap lirih Shazna seraya mengambil ponsel miliknya.
Namun sesaat kemudian,ia meletakkan ponselnya di atas meja.
'' Aku tunggu dia yang memberi tahuku,'' ucapnya lagi. Wanita itu memejamkan mata dan menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi. Dadanya terasa penuh sesak. Tangannya meraih jari dimana cincin yang Brandon sematkan sebagai tanda tunangan mereka. Kemudian wanita itu membuka kelopak matanya dan tersenyum pahit.
'' Sampai kapan cincin ini akan ada di jariku ?, hanya menunggu waktu saja untuk di lepaskan,'' gumam Shazna dengan senyum sumir di bibirnya. Ia cukup sadar, bahwa saatnya kini untuk mundur dari hubungan ini.
__ADS_1
Restu dari kekasihnya jelas tidak akan ia dapatkan. Pasti sang ibu dari kekasihnya lah yang telah menyiapkan calon istri untuk putranya. Dan bukan main-main wanita yang di siapkan sang ibu. Shazna cukup tahu siapa keluarga Bramantyo, salah satu pengusaha sukses yang memiliki cukup banyak saham di perusahaan sang kekasih.
'' Hufhh, hidup gak akan berhenti hanya karena patah hati. Ada Ayah yang harus aku jaga,'' ucap Shazna seraya meraih dokumen di hadapannya dan beranjak dari ruang kerjanya.