
Shazna terpaku di tempatnya berdiri. Sebuah tempat dengan dekorasi yang begitu romantis. Tertata apik di sebuah rooftoop restoran mewah. Lilin-lilin cantik diletakkan di berbagai sudut. Meja bundar dengan dua kursi di sana. Sebuah musik mengalun indah terdengar begitu romantis di telinga.
Brandon tersenyum puas kekasih hatinya tampak terkesan dengan kejutan romantisnya. Lelaki itu mengulurkan tangan dengan senyum terkembang. Shazna meraih tangan Brandon dan mengikuti langkah lelaki tersebut untuk mendekat ke arah meja yang telah di siapkan.
Brandon memundurkan kursi untuk duduk wanitanya. Shazna yang malam itu tampil menggunakan dress selutut berwarna biru dengan lengan pendek, dengan high heels tujuh sentimeter. Rambutnya tergerai indah dengan make up tipis , namun kecantikan wanita itu terpancar dari wajah ayu itu.
Belum ada kata yang terucap dari bibir keduanya. Shazna sibuk menatap pemandangan di malam hari itu. Lampu kota terlihat begitu indah dari atas sana. Bulan meski tak bulat sempurna terlihat terang di temani ribuan bintang.
Brandon tak lepas menatap wajah sang wanita. Bagaimana ia bisa melepaskan wanita ini ?,jika perasaan cintanya selalu bertumbuh setiap harinya.
'' Cantik ,'' lirih Brandon yang masih terdengar jelas di telinga Shazna.
'' Iya cantik banget ,''sambung Shazna. Namun kata cantik dari mulut dua manusia itu memiliki persepsi yang berbeda. Brandon mengatakan cantik pada sang wanita. Terbukti dari tatapannya yang enggan berpaling dari sang wanita. Sedang Shazna mengatakan malam yang begitu cantik terlihat dari tatapan wanita itu yang terus berkeliling melihat pemandangan sekitar.
Tak berselang lama, datang makanan yang telah Brandon pesan sebelumnya.
'' Sayang ,maaf untuk yang kemarin ya,'' ucap Brandon seraya meraih tangan sang kekasih dan mengecupnya. Shazna tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
'' Kita makan dulu,'' lanjut Brandon, Shazna mengiyakan ajakan sang kekasih.
Keduanya makan malam dalam diam. Brandon sesekali melirik sang kekasih yang di rasa malam ini terlalu banyak diam. Bahkan tampak wanita itu tak terlalu berselera makan.
'' Ada apa ?,'' pertanyaan itu meluncur dari bibir Brandon setelah mereka menyelesaikan makan malam. Shazna tersenyum getir. Wanita itu terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
'' Maaf,aku rasa perjuangan kita cukup kita akhiri sampai di sini. Aku menyerah mas,'' lirih Shazna sembari memberikan kotak berisi cincin yang telah ia lepaskan dari jarinya.
'' Sayang, please jangan bercanda ,'' Brandon menatap nanar kotak cincin yang di letakkan di atas meja.
'' Aku gak mau sayang,'' ucap Brandon seraya menggenggam tangan Shazna dan menatap manik mata wanita itu. Shazna tak bisa lagi menahan laju air matanya. Brandon pun telah berkaca-kaca. Ia tak pernah berpikir Shazna akan memutuskan hubungan mereka malam ini. Malam dimana ia ingin memberikan surprise untuk permintaan maaf atas kesalahannya kemarin.
Shazna menggeleng perlahan, sebelah tangannya yang terbebas dari genggaman Brandon ia gunakan untuk menghapus air mata yang terus menetes.
'' Aku gak bisa nyuruh kamu buat memilih,antara aku dan wanita pilihan mamamu. Aku tahu perjodohan itu bentuk terima kasih dan baktimu pada mereka. Aku tidak ingin justru menjadi orang ketiga di antara kalian. Aku mundur,maaf ,'' tutur Shazna sembari menyingkirkan tangan Brandon.
Brandon tertegun, dunianya seakan runtuh seketika. Air mata mengalir dari dua pelupuk matanya. Shazna berdiri,meraih tasnya dan berjalan dengan air mata yang belum juga surut. Brandon berdiri , melangkah cepat dan menyambar tangan Shazna. Menarik wanita itu dalam pelukannya.
__ADS_1
''Jangan pergi,'' lirih Brandon dengan suara seraknya. Shazna melepaskan pelukan. Menangkup wajah Brandon dengan kedua tangannya. Menatap wajah sayu yang berlinang air mata.
'' Maaf tapi aku gak mau , orang yang aku sayang menjadi orang yang tidak tahu terima kasih. Aku tahu ini sulit buat kamu. Tolong lepaskan aku, anggap ini adalah takdir memang harus kita jalani,'' ucap Shazna,dua pasang bola mata itu saking menatap dalam.
Brandon tergugu dalam tangisnya. Rasanya sungguh sesak. Bahkan ia tak bisa menjanjikan apa-apa pada wanita yang sangat ia cintai. Ia tak bisa berbicara apa-apa, karena memang ia tak tahu bagaimana cara terlepas dari jerat perjodohan itu. Brandon kembali membawa Shazna dalam pelukan uai lebih erat.
'' Aku cinta sama kamu,'' bisik lelaki itu dalam isak tangisnya.
'' Aku tahu, aku juga cinta sama kamu. Maka dari itu, tolong lepaskan aku. Jangan perangkat aku dalam hubungan rumit ini. Kita jalani takdir kita masing-masing,'' sahut Shazna. Brandon menghirup nafas dalam. Yah mungkin memang ini yang harus terjadi.
'' Janji sama aku, kalau kamu bakal hidup bahagia setelah aku lepaskan,'' ucap Brandon dengan memegang dua bahu Shazna dan tatapan mata yang tertuju dalam lembah bening yang tergenang.
Shazna mengangguk, tanpa berkata-kata. Karena ia pun tak tahu,masih adakah kata bahagia dalam hidupnya setelah ini ?.
'' Baik aku melepas kamu,tapi jika aku melihat kamu tidak bahagia,maka aku akan mengikat mu kembali di hidupku. Aku akan membuatmu bahagia dengan caraku,'' ucap Brandon. Shazna tak bisa berucap , wanita itu hanya mematung dalam tangis.
Di bawah langit yang bertaburan jutaan bintang. Sepasang manusia itu saling berpelukan untuk yang terakhir. Saling melepaskan dengan ikhlas. Berharap ada bahagia didepan sana yang mampu mereka raih dengan cara mereka sendiri-sendiri.
__ADS_1