Terjerat Pesona Sang Mantan

Terjerat Pesona Sang Mantan
Di Dua Tempat yang Berbeda


__ADS_3

Tuk tuk tuk


Suara ketukan pulpen beradu dengan meja kayu. Shazna tampak termenung sendiri di ruang kerjanya. Hati ini weekend, namun ia harus menemani sang atasan untuk lembur.


Semenjak pagi mood wanita itu kurang baik. Pasalnya sang kekasih belum juga menghubungi dirinya. Biasanya weekend adalah waktu mereka saling berkabar. Bahkan terkadang masih sangat pagi saat lelaki itu menghubungi dirinya.


Suara dering telepon di mejanya membuat Shazna terbangun dari lamunan. Dengan sigap wanita itu mengangkat telepon dari atasannya.


'' Ya pak ,'' ucap Shazna.


'' Tolong antar kan dokumen dari perusahaan Tirta Jaya keruangan saya ,'' pinta lelaki di seberang telepon.


'' Baik pak, segera saya antar ke ruangan bapak ,'' jawab Shazna sigap sebelum mematikan sambungan telepon.


Shazna mengambil map berisi dokumen untuk di berikan pada sang atasan. Langkah anggun wanita berkaki jenjang membawanya ke arah ruangan sang atasan yang terletak tak jauh dari ruang kerjanya.


Suara heels beradu dengan lantai terdengar nyaring. Membelah sepinya kantor pagi menjelang siang itu. Karena hanya ada beberapa karyawan yang ikut lembur di akhir pekan itu.


Tok tok tok

__ADS_1


Shazna mengetuk pintu yang tertutup rapat. Suara seseorang mempersilahkan wanita itu masuk. Tanpa menunggu lama, Shazna membuka daun pintu. Sebuah ruangan luas yang terdapat meja kerja dengan kursi nyaman yang di duduki lelaki berumur lebih dari setengah abad. Tampak beberapa helai rambutnya telah memutih. Namun wibawa lelaki itu terpancar dari raut wajahnya.


'' Siang pak ,'' sapa Shazna dengan membungkukkan sedikit badannya. Lelaki berparas tampan di usia matang itu mengangguk kecil.


'' Mana dokumen yang saya minta ?,'' tanya lelaki bernama Setiawan Wicaksana.


'' Ini pak ,'' ucap Shazna seraya menyodorkan map pada lelaki yang kini menjabat atasannya tersebut.


Tiga bulan terakhir Shazna telah kembali bekerja ,dan wanita itu kembali menjabat menjadi seorang sekertaris. Namun kali ini atasannya lelaki yang sudah cukup berumur. Namun memancarkan ketampanan seorang lelaki seusai nya dengan wajah karismatik yang membuat orang segan saat berinteraksi dengan lelaki tersebut.


'' Ya terima kasih, kamu boleh pulang setelah ini,'' ujar lelaki tersebut yang di sambut senyum Shazna .


Sampai di parkiran , wanita itu terdiam sesaat setelah memasuki mobil miliknya. Ada perasaan tak nyaman yang menggelayut di hatinya, perasaan yang ia coba ingkari keberadaannya. Tampak wanita itu menghela nafas panjang. Kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area perkantoran.


Jalanan siang itu tak terlalu padat, akhirnya Shazna memutuskan untuk tidak kembali ke rumah. Ia berhenti di salah satu mall yang cukup besar di kotanya. Ia ingin me time, menghilangkan penat setelah seminggu bergelut dengan pekerjaannya. Dan mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif terhadap sang kekasih yang bergelayut di kepalanya.


Turun dari mobil,ia memasuki area mall. Berjalan-jalan tanpa tujuan yang pasti. Hingga akhirnya ia merasa lapar dan berhenti di salah satu restoran cepat saji. Duduk menyendiri di sudut ruangan. Menikmati makan siangnya dalam diam. Entah kenapa pikirannya terus melayang pada Fattan, sebegitu merindunya kah ia pada kekasihnya itu ?. Shazna hanya bisa menghela nafas seraya mengotak-atik ponsel untuk menghubungi nomor sang kekasih yang bisa di pastikan dalam keadaan tidak aktif.


Sementara di seberang pulau sana. Fattan yang mendapat laporan tentang kecelakaan yang dialami Dilla berlari cepat menuju klinik. Hari itu klinik sebenarnya tidak buka, karena mereka semua ikut kerja bakti di sungai. Namun klinik tidak pernah benar-benar tutup. Akan ada perawat yang stand by di sana. Perawat yang di pekerjakan di sana adalah salah seorang pemuda desa yang telah lulus kuliah keperawatan di ibukota daerah tersebut.

__ADS_1


Saat sampai di klinik, Dilla sedang di rawat pemuda itu. Tampaknya ada beberapa luka yang sedang di bersihkan. Fattan memasuki ruangan dengan raut panik.


'' Bagaimana Wan ada yang parah ?,'' tanya Fattan pada Wandy, perawat lelaki tersebut.


'' Tidak dok, hanya ada beberapa goresan kecil di lutut, tangan dan kaki,'' terang Wandy. Mendengar suara Fattan yang datang, Dilla yang tadinya terpejam membuka matanya.


'' Mas Fattan ,'' rengek Dilla yang kemudian bangkit dari tidurnya. Tanpa perduli dengan sekeliling wanita itu memeluk Fattan yang berdiri di samping ranjang.


'' Dilla takut mas ,'' ucap wanita itu serai sesenggukan dalam tangisnya. Fattan yang awalnya ingin mengelak,tak tega mendengar tangis wanita itu. Tanpa berucap sepatah kata, Fattan hanya mengusap punggung Dilla. Berharap wanita itu merasa tenang.


Wandy yang telah selesai membersihkan lukanya tampak menganggukkan kepala berpamitan pada sang dokter. Fattan membalas juga dengan anggukan.


'' Dilla takut mas,'' lagi ucapan itu yang terdengar oleh Fattan.


'' It's oke gak apa-apa,ada aku ,'' ucap Fattan yang merasa ada sesuatu yang terjadi yang membuat adik sahabatnya itu ketakutan. Ia hanya bisa membiarkan Dilla memeluknya , hingga akhirnya wanita itu tenang dan perlahan melepaskan pelukannya. Fattan melihat kearah wanita itu, ternyata telah terpejam.


Perlahan Fattan menidurkan Dilla, mengamati wajah berlinang air mata yang kini terlelap. Fattan menghela nafas dalam,ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Fattan keluar ruangan,ia merogoh saku celananya dan melihat jam di ponselnya. Saat melihat wallpaper di layar ponselnya lelaki itu tersentak. Ada yang telah ia lupakan hari ini.

__ADS_1


__ADS_2