
Duduk berhadapan, dengan tangan Fattan menggenggam tangan Dilla. Menenangkan gadis yang terlihat ketakutan di hadapannya.
'' Coba kamu ceritakan,ada apa sebenarnya. Mas dengerin. Jangan takut mas di sini ,'' ucap Fattan lembut bak seorang kakak terhadap adiknya.
Dilla mengangkat wajahnya yang tertunduk, menatap wajah tampan di hadapannya. Rasa tenang menghampiri hatinya saat wajah lembut yang tersenyum tipis padanya, memberikan sebuah rasa nyaman di hatinya.
'' Kamu tenang dulu, pelan-pelan coba kamu ceritakan apa yang terjadi ,'' suara lembut Fattan mengalun di genderang telinga Dilla. Menentramkan rasa yang sedang dilanda ketakutan.
'' Tadi Dilla jalan-jalan menunggu kalian kerja bakti, sampai-sampai Dilla tidak sadar masuk jauh ke dalam hutan dan....'' suara wanita itu terhenti, kembali air mata mengalir dari pelupuk mata itu. Fattan menatap iba wanita di hadapannya. Dan memeluk untuk kembali menenangkan.
__ADS_1
Cukup lama Fattan memeluk Dilla seraya mengusap lembut punggung wanita itu. Sampai suara tangisnya mereda dan nafas yang teratur. Fattan melepas pelukannya dan menatap wajah Dilla yang tertunduk.
'' Dilla tersesat, tidak ingat jalan keluar hutan. Dilla bertemu tiga orang yang sedang berburu. Dan Dilla minta tolong pada mereka tapi .... '' lagi wanita tenggelam dalam isak tangisnya. Fattan menghela nafas,ia tak sesabar itu ternyata menghadapi wanita di hadapannya.
'' Oke kamu belum bisa buat cerita semuanya,kamu tenangin diri kamu dulu. Bu Lira tolong jaga Dilla,saya harus pergi ,'' ucap Fattan setelah ia melihat jam si pergelangan tangannya. Ia jauh lebih tidak tenang karena belum menghubungi sang kekasih.
'' Mas ,'' panggil Dilla seraya meraih tangan Fattan. Fattan yang telah berdiri dari duduknya menatap wajah memelas Dilla dengan helaan nafas berat.
Dia memang merasa khawatir dengan keadaan wanita itu. Tapi ia juga tak nyaman berada di dekat Dilla yang terkesan ingin selalu di perhatikan oleh dirinya.
__ADS_1
Dilla melepaskan lengan Fattan, wanita itu menundukkan wajahnya, seolah terlihat begitu rapuh. Namun Fattan tak bisa terus bersama Dilla. Ia menyadari sikap Dilla terhadap dirinya bukanlah sikap seorang adik terhadap kakaknya. Ia tahu Dilla menaruh rasa terhadap dirinya sebagai seorang wanita dewasa terhadap lelaki dewasa. Dan ia tak bisa memberikan peluang untuk itu. Hatinya sudah di penuh satu nama, Shazna.
'' Bu Lira,titip Dilla. Saya akan keluar,'' ujar Fattan pada Lira yang sedari tadi duduk di kursi yang berada di sudut ruangan. Fattan menoleh sekilas kearah Dilla yang kini telah berbaring di atas ranjang dengan posisi membelakangi pintu masuk. Fattan berlalu tanpa berpamitan pada Dilla yang ia tahu sedang kecewa terhadap sikapnya.
Setelah Fattan keluar dari kamar rawat dimana Dilla berada. Lira mendekati wanita yang tampak memberengut.
'' Aku gak tahu apa yang sudah terjadi sama kamu. Mungkin sesuatu yang memang membuat kamu trauma. Tapi aku pikir kamu mendramatisir nya untuk mendapatkan perhatian dokter Fattan. Seperti yang sudah aku katakan, lebih baik kamu berhenti mengejar dokter Fattan sebelum kamu terluka sendiri,'' ucap Lira yang kini duduk di samping ranjang tempat Dilla berbaring.
Dilla menatap tajam Lira dengan wajah tak suka.
__ADS_1
'' Mbak Lira gak sok menggurui ya,aku tahu apa yang harus aku lakukan ,'' ucap sengit Dilla. Lira hanya mengangkat bahunya. Ia menyadari bahwa gadis di hadapannya itu hanya mendramatisir keadaan. Hanya untuk mengambil simpati Fattan. Terlihat jelas raut tak suka wanita itu saat Fattan keluar dari ruangan.
Dan bisa di pastikan, lelaki itu pergi keluar untuk menghubungi sang kekasih. Lira cukup jeli membaca keadaan Dilla yang terkesan melebih-lebihkan apa yang terjadi. Meski wanita itu pun belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Namun jelas terbaca Dilla hanya sedang mendrama.