Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 99


__ADS_3

Sesampai di meja makan, Aurel melihat disana ada Opa Arya, papa Sean, ayah Mike, mama Ana, Bunda Alisya, kak Aleta, bang Alano dan Aidan. Ia menyapa mereka semua sebelum ikut duduk diantara kak Aleta dan Aidan.


“Au, apa kamu ingin pergi tawuran!” Tanya Mike dengan mata melotot. Semua nya ikut menatap kearah Aurel.


“Ck, kau kayak tidak tau saja seperti apa Aurel” Degus Atha. Bagi nya sudah biasa.


“Aurel, apa tidak bisa kamu berpenampilan seperti gadis sebenarnya” itu suara Arya, dia menatap datar cucu nakal nya itu.


Aurel yang ditanya kan begitu tampak tak terima, “salah nya dimana coba, opa gimana sih? Ini tuh anak gaul, kan udah berapa kali Aurel bilang, Aurel itu gak suka penampilan kayak cewek peminim!”


Yang lain geleng-geleng kepala mendengar nya, Arya apalagi dia sudah lelah menegur cucunya ini, apalagi Atha dan Luna sebagai orang tua.


“Aurel, nanti kamu papa antar” Sean yang sejak tadi menyimak akhirnya bersuara.


“Kok gitu pa, aku kan udah biasa bawa motor” Aurel protes. Bagaimana pun ia lebih nyaman pergi sendirian dari pada diantar apalagi orang nya papa Sean.


“Tidak ada bantahan” tekan Sean tak terbantah. Seketika membuat Aurel mau tak mau menurut. Yang lain hanya terkekeh melihat wajah pasrah Aurel. Perlu diingat diantara yang lain Sean lah yang paling posesif apalagi menyangkut Aurel.


“Sudah, sekarang makan” ucap Arya. Semuanya segera mulai makan dalam keheningan hanya suara dentingan sendok terdengar. Karena itu sudah peraturan dari dulu.


Beberapa menit kemudian. Mereka selesai makan. Aurel pamitan berangkat begitu pun Aidan dan Al. Mike, Atha, Sean dan Alano juga berangkat ke kantor. Arya jangan ditanya, dia tidak perlu ke kantor lagi karena semuanya telah di urus anak-anak dan cucunya. Dia hanya ingin bersantai tapi jika terjadi masalah yang tidak bisa ditangani mereka dia sendiri akan turun tangan.


...


Selama dalam mobil papanya, Aurel terus menggerutu dalam hati. Yang paling ia kesal kan ia dipaksa mengganti celana nya dengan rok sekolah sebelum masuk mobil. Bahkan penampilan nya sudah terlihat bukan seperti seorang Aurel berandalan, sangat rapi.


“Aurel, jangan mendumel dalam hati, papa hanya ingin melihat kamu seperti perempuan sesungguhnya” Begini lah seorang Sean yang irit bicara dan dingin jika bersama Aurel sifat dingin nya sedikit mencair.


Sekali lagi Aurel mendegus papanya ini kayak cenayang saja, tapi buru-buru tersenyum ralat tersenyum paksa, “ehehe...gak gitu pa, papa sok tau deh. Mana berani Aurel kayak gitu” suara nya lembut sekali, namun itu malah membuat Sean melirik datar.


“Papa tidak ingin mendengar kamu membuat onar lagi. Papa tidak tega mendengar keluhan papi mu lagi. Anak bandel seperti mu sudah sekali dibilangin” Sean geleng-geleng kepala, walaupun jarang pulang tapi tetap saja selalu mendapatkan kabar dari adik kecilnya, yang terus menceritakan kenakalan putrinya.


Senyuman Aurel seketika luntur mendengar ucapan papanya, di sudah menduga akan mendengar hal itu dari mulut seksi papanya.


“Iya pa, papa tenang aja Aurel gak pernah buat onar lagi. Papa kayak gak tau aja anak-anak lainnya aja yang sering cari masalah sama aku, karena Aurel gak terima makanya Aurel bales, jadi Aurel gak salah dong” Ucap nya panjang lebar, ck kenapa ia jadi curhat gini sih pikir nya. Lagian apa yang dikatakan nya tidak sepenuhnya salah. Sean mengiyakan karena dia cukup tau.


“tapi tetap saja kamu anak bandel. Jangan pikir papa tidak tau kelakuan mu diluar sekolah”


“Ehehe...sorry pa” Aurel mengumpat dalam hati. Dia melupakan siapa keluarga papi nya. Sialan! Namun yang disyukuri nya selama ini mereka tidak pernah mengekang. Hanya mengawasi dari jauh. Mungkin keluarga nya itu tidak ingin dirinya merasa terkekang dan berakhir pembangkang walaupun terkadang dia suka membangkang.


“Eh, tapi. Bukannya papa gak bakal lama disini. Dia pasti balik lagi ke Korsel” Aurel menyeringai dalam hati saat mengingat hal tersebut.

__ADS_1


🌼🌼🌼


“Ck, Lo ada masalah apa sih sama teman gue!” Aurel menatap sinis lawan bicaranya, dia Gisel bersama kedua temannya.


Gisel tersenyum remeh, “masalah ya, jelas banyak lah. Salahin teman Lo karena udah berani senggol gue” kesenggol aja sampai segitu, emang anjiiim.


“Dan jangan lupa, Lo juga bermasalah buat gue” Aurel mengerutkan alisnya, lalu tertawa remeh, “Owh...terus gue harus bilang Woww gitu!” ledek Aurel. Maurel yang berada di belakang nya ikut tertawa.


Gisel tentu saja kesal, “sialan! Berani Lo sama gue”


“Apa? Lo pikir gue takut sama Lo, heleh...cewek gatel kayak Lo gak perlu di takuti” Cibir Aurel.


“Widiiih...ada apa nih?” Terlihat Ghina dan Stella berjalan menghampiri mereka. Posisi mereka sekarang berada di rooftop sekolah.


“mau ngapain Lo sama sahabat gue hahh!” Ghina menatap Ghina tajam.


“Palingan mau cari masalah kak, liat aja tuh muka kak Maurel memerah keliatan banget habis kena tampar” Yap, mereka telah menganggap Maurel sebagai sahabat.


“Waahh...cari mampus Lo ya”


“Gimana rel, perlu gue bantu hajar mereka” Aurel yang melihat muka songong sahabat nya itu dibuat mendegus.


Tak lama terdengar lagi beberapa langkah kaki berjalan kearah mereka. Dan tak lama terlihat Nano bersama Xeno dan Renzi. Hal itu membuat Gisel dan teman-temannya makin kesal.


“ngapain lo kak, jangan bilang Lo mau adu jotos ama ***** ntu” Nano yang telah berada di sebelah kakaknya itu menyenggol lengan nya dengan dagu menunjukkan kearah Gisel, Bryna dan Freya.


“ntu Lo tau bangsul” cetus Aurel langsung ngegas.


“Lonte, Ha-ha-ha” Ghina malah tertawa mendengar ucapan Nano. Renzi dan Xeno ikut tertawa. Berbeda dengan Gisel bersama kedua sahabatnya wajah mereka menjadi gelap.


“Siapa Lo bilang ***** bajingan?!” Pekik Gisel ngegas.


“Elo lah, gak mungkin kakak gue” Ucap Nano dengan santainya. Membuat Gisel, Bryna dan Freya mengepalkan tangannya. Mereka juga heran hubungan dia dan Aurel, bukannya Nano itu tidak suka dekat orang asing dan ini kenapa Aurel yang masih murid baru sedekat itu. Jangan bilang mereka saudara.


“Ck, awas Lo Aurel, gue bakal bikin perhitungan sama Lo dan teman-temannya Lo” ancam Gisel sebelum beranjak pergi diikuti oleh Bryna dan Freya, jika lama-lama disana bisa habis dia apalagi ada Nano. Cowok berandalan itu sangat kejam.


“Nano, Lo ngapain sih kesini. Coba aja Lo sama dua curut Lo tuh gak nongol gue pasti udah bogem tuh cewek” pekik Aurel sembari menjambak rambut acak-acakan adik sepupunya tersebut.


“A-aduh...kak, sakit goblok” Nano meringis heboh saat merasakan jambakan maut Aurel. Mereka disana ikut meringis melihat nya apalagi Renzi dan Xeno.


“Pasti sakit banget! Galak amat tuh kakak si bos” batin mereka.

__ADS_1


“Hiks...jahat Lo kak” rajuk Nano dengan muka menyedihkan.


“Rasain siapa suruh Lo datang” Degus Aurel tanpa rasa kasihan.


“Njiir...kasar amat Lo rel, gue jadi tega liat muka si nanonjiing” Ghina ikut menyahuti membuat Nano emosi, jika tidak ingat Aurel itu kakaknya dan cewek menyebalkan ini sahabat kakaknya sudah ia tendang ke laut samudra.


“yang sabar beb!” celetuk Stella dengan muka di imut-imut kan. Bahkan dia telah berpindah dekat Nano sembari mengelus kepala Nano ralat pacarnya. Yah, Nano itu pacar Stella dan hubungan mereka sudah jalan satu tahun. Tidak banyak yang tau selain orang terdekat mereka.


“Sakit tau yang”


Tentu saja mereka disana jengah melihat nya.


“Woiii...ingat yang jomblo. Kalo mau mesra-mesraan sana ke kamar” seru Xeno yang malah dapat geplakan dari Renzi.


“Otak lo isi nya kamar mulu, masih bocil juga”


“Keseringan nonton bokep kali makanya isi otaknya ngeres” Cibir Ghina.


“niiir... Mulut lo na” Aurel tertawa.


“Sembarangan Lo kak” Xeno mana terima dituduh enggak-enggak.


“Dah, mending kita  pergi aja. Lama-lama liat beginian mata jadi gak suci lagi” Seru Maurel yang sedari tadi masih diam. Bahkan dia sudah tak merasa ngilu lagi bekas tamparan Ghina tadi.


Mendengar perkataan Maurel mereka ikut mengiyakan. Sungguh sebal sekali mereka melihat kedua pasangan itu, tidak tau tempat.


“Yok lah”


Stella yang sedang memeluk sang pacar mendegus melihat kepergian mereka. Sementara Nano malah bersyukur mereka pergi, dengan begitu tidak ada mengganggu mereka.


“Yang kiss dong” Rengek Nano sambil memanyunkan bibirnya.


Stella melotot.


Plak


“Gak usah ngelunjak” Nano yang merasa pipinya panas meregut, kasar sekali pacarnya ini.


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2