
Sepulang dari acara pesta Luna merengek minta beli ketoprak dan sekarang mereka berada di tempat penjual berada dipinggir jalan. Atha harus rela menunggu bumil sampe selesai, mau protes juga tidak akan mempan.
“Enak lho kak, yakin enggak mau nih!” Luna memandang suami nya yang masih setia bersandar di mobil menghadap kearah nya.
Tampak gelengan dari si empu, “kamu habisin sendiri aja, aku enggak mau” tolak Atha, benar-benar tidak berselera memakan makanan itu. Lagian istrinya kenapa harus minta makanan dipinggir jalan begini padahal yang lebih baik kan ada.
“Ish...kamu mah gitu, ini enak banget lho... sesekali makan makanan disini enggak harus ditempat mewah juga!” Omelnya.
“benar yang dibilang si mbak nya, mending aden coba ketoprak bapak...dijamin enak!” Si bapak penjual ikut nimbrung. Sedangkan Atha hanya menghela nafas mendengarnya, bukannya apa-apa tapi memang dia lagi tidak laper.
“Udah biarin aja pak, mending bapak tambahin ketoprak saya, masih belum puas soalnya”
Atha melotot mendengarnya, apa istrinya itu belum kenyang juga padahal sudah nambah satu tadi. Entah lah heran juga dia, apa seperti itu setiap wanita hamil.
“Mending dibungkus aja sayang, kamu enggak boleh di luar terlalu lama...gak baik buat kandungan kamu” tegur Atha seraya menghampiri istrinya.
“Tapi...” saat mau protes sudah dipotong duluan.
“Enggak ada tapi-tapian”
“Pak, dibungkus aja ya” Luna langsung cemberut tapi tidak membantah juga, takut si bapak bayi marah.
“Baik den”
Beberapa saat setelah itu, Atha membawa istri pulang. Di dalam mobil Luna terus mengomel-ngomel dan Atha hanya diam mendengar nya tanpa menjawab sepatah kata pun.
“Kok kamu diam aja sih, aku lagi kesal lho!” ujarnya saat tak mendapatkan tanggapan apapun dari Atha. Menghela nafas nya, Atha menjawab, “terus aku harus apa, Hmm...kamu ngomel mulu dari tadi, nanti aku jawab salah lagi!” Salah lagi dia.
“Emang kamu salah” Nah kan apa dia bilang, hanya karena malah ketoprak tadi jadi panjang masalah nya, tau gini mending dia biarin aja tadi.
Selalu saja begitu, masalah sepele selalu diperpanjang. Dan yang salah pasti lah dia. Untung dia orang nya cukup penyabar dan sayang istri.
Berselang lama mereka sampai dirumah, istrinya tampak masih belum puas dari rasa kesalnya. Atha tidak membujuk nya karena tau akan baik sendiri saja nanti.
Sampai masuk kedalam rumah, Atha hanya menatap punggung istrinya yang malah langsung pergi ke dapur bukannya ganti baju.
“Hahh...” menghela nafas panjangnya dan memilih pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Sedangkan di dapur Luna mengambil mangkok dan sendok makan, lalu memasukkan ketoprak tadi kesana.
“Apaan tu nya!” tanya Bik Neneng yang baru memasuki dapur habis mengambil minuman.
“Eh...belum tidur bik”
“Baru aja nya, ini habis minum” Luna mengangguk mengerti, “bibi mau, ini Luna beli ketoprak” sambil membawa nya kemeja makan.
“Woah...kayak enak nya, tapi enggak usah deh, soalnya udah kenyang”
“Yaudah”
“Saya balik ke kamar aja nya mau tidur” Luna hanya menganggukkan kepala. Setelah itu, ia juga pergi ke kamar. Sampe disana pas sekali melihat suaminya yang baru keluar dari kamar mandi tanpa banyak bicara langsung ia tarik begitu saja.
Atha tentu saja dibuat heran, “eh...ada apa ini! Main tarik aja”
“Udah diam aja” cetus Luna yang mana langsung membuat Atha benar diam.
Ternyata dia dibawa ke ruang makan, “mau ngapain sayang, aku kan enggak laper” protesnya, namun si empu tidak menghiraukan.
“Tuh kamu makan sampe habis, awas kalo enggak habis aku usir kamu dari kamar!” ancamnya saat menunjuk mangkok yang telah berisi ketoprak tadi.
Langsung saja melotot seraya berkecak pinggang, dia tidak ingin mendengar bantahan apapun, “Owh...jadi kamu benaran mau tidur luar, ya udah terserah kamu!”
“Kok gitu sih yang, tega kamu”
“Makanya dimakan jangan beralasan terus” Karena tak ingin ancaman istrinya menjadi kenyataan dengan terpaksa Atha menuruti. Walaupun rada ogah-ogahan memakan nya.
Melihat itu, Luna tersenyum miring, “rasa in tuh, emang enak dipaksa. Lagian siapa suruh buat aku kesal, cuman makanan doang, untung kagak gue kasih yang aneh-aneh!” ucap nya dalam hati.
“Udah sayang”
“Apanya yang udah, baru juga dua suap. Pokoknya aku enggak mau tau semuanya harus habis, kalo perlu sampe mangkoknya sekalian!”
Hampir saja Atha tersedak mendengar perkataan terakhir dari istrinya, “kejam banget sih, emang aku apaan disuruh makan mangkok segala, jahat kamu yang!” Atha mendramatis, sungguh tega sekali bumil ini.
“Bodo ah, derita Lo!” Setelah itu, Luna pergi begitu saja meninggalkan Atha misuh-misuh sendiri.
__ADS_1
“Gini amat punya bini, si cebong baru aja dalam perut udah ngeselin, gimana udah keluar nanti! makin menjadi mungkin” gerutunya sambil menyuap paksa ketoprak ke mulutnya. Ia akui rasanya enak, jadi gak nyesel dia memakannya.
“KAKK...BURUAN KESINI, LAMA BANGET SIH CUMAN MAKAN DIKIT DOANG!”
“Uhuk...uhuk...” tersedak juga dia akhirnya, apa-apaan istrinya itu pakai teriak segala mana sekarang malam hari.
“Ya Tuhan, ampunilah dosa hambamu ini!” ucapnya dengan muka dibuat-buat menyedihkan. Lalu meneguk air minumnya, selesai bergegas pergi ke kamar sebelum bumil mengomel-ngomel lagi. Pusing kepalanya.
Sesampai dikamar, ia langsung menghampiri istrinya yang tampak telah duduk bersandar ke kepala ranjang.
“Ada apa Hm!” Memandang istrinya dengan lembut. Ingat Atha itu tidak bisa kasar sedikitpun terhadap istri, walaupun sekesal, semarah apapun dia tapi tetap berusaha berkata dengan baik. Apalagi mengingat kejadian waktu itu, dia benar-benar merasa menyesal sekali, dia tidak ingin hal seperti itu terulang lagi.
“Sini” menepuk tempat tidur di sebelah nya. Atha mengikuti gerakan istrinya.
“Kenapa?”
Luna malah tersenyum manis, “Enggak napa-napa kok, kamu pasti kesal ya sama aku gara-gara tadi! Maaf ya” Ia pikir ada apaan ternyata cuman mau minta maaf, sadar juga dia salah.
Atha terkekeh pelan dan memeluk istrinya dengan gemas, “Nggak papa, aku ngerti kok”
“benaran enggak marah nih” memandang suaminya dengan lekat. “enggak sayang, buat apa juga aku marah cuman gara-gara itu doang” Mendengarnya membuat Luna tersenyum cerah.
Cup
“Makin sayang deh” katanya setelah memberi satu kecupan di pipi kanannya. Atha yang mendapatkan nya tentu saja merasa senang.
“Ciee...udah berani cium duluan!” goda Atha yang mana membuat Luna cemberut malu.
“Ish...emang kamu terus yang boleh”
“Boleh dong tapi kalo di bibir mah boleh-boleh banget!” menunjuk bibirnya sendiri.
“Kamu mah dikasih hati minta jantung!” Cibir nya, namun tetap melakukan nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT