
Tak terasa beberapa hari telah berlalu semenjak kematian Kakek Jeon dan putra pertama nya Alfredo, dan tepat hari ini acara resepsi pernikahan Monalisa dengan Max setelah selesai akad nikah nya kemarin.
Lokasi tempat acara nya dilaksanakan di mansion milik Max sendiri, semua dekorasinya terlihat elegan namun mewah. Maklum lah Max pewaris satu-satunya keluarga Harrison
(Kira-kira seperti itulah)
...
Di kamar pengantin tampak Monalisa telah selesai make up cantik dengan gaun pengantin nya berwarna putih membuat kecantikan nya semakin terlihat.
Disana juga ada Sisi, Wulan dan Jennie, mommy Max menemani nya.
“Princess mama makin cantik aja” Wulan memandang putrinya hangat. Dia jadi tidak rela putri satu-satunya bakal dipersunting.
“Cieee...yang udah jadi istri orang!” Ledek Sisi yang mana membuat Monalisa mendegus. Kemarin tepatnya Monalisa sah menjadi istri dari Max.
“Enggak salah mommy pilih mantu secantik kamu, emang dah putra mommy paling hebat cari istri!” Mereka ikut ketawa mendengar perkataan Ibu satu anak itu. Monalisa yang dipuji hanya tersenyum tipis.
...
Di sisi lain, Atha terlihat mondar-mandir menunggu istrinya yang sedari tadi belum keluar juga walk in closet, padahal cuman berpakaian tapi lama nya minta ampun, entah kadang ia bingung sendiri semenjak hamil kedua ini istrinya selalu saja membuat nya naik darah.
“Kamu ngapain aja lama banget, jangan bilang mau lahirin” tanya nya saat melihat istrinya akhirnya keluar juga.
Tidak terima dengan perkataan suaminya, Luna mendegus, “Ih...kamu mah, namanya juga lagi ganti baju, pakaian nya juga harus paling cantik dong makanya lama, emang kamu pakai baju itu-itu aja!” omel nya melirik Atha julit. Sedangkan Atha hanya mengusap dadanya sabar mendengar omelan bumil.
“Udah sana mending kamu tunggu diluar aja, aku mau dandan bentar” usir nya.
“Enggak usah dandan segala, gitu aja udah cantik kok. Lagian nanti kalo kamu terlalu cantik bisa terpesona lelaki lain, mana rela aku”
Bukannya nurut Luna malah kesal mendengar nya, “gak usah lebay kamu kak, dandan dikit aja kok. Lagian siapa juga yang mau sama wanita hamil model aku tapi kalo ada sih bagus banget apalagi kalo lebih ganteng dari kamu...”
Langsung saja Atha melototi istrinya, “enak aja, kalo lebih dari aku kenapa? Aku enggak mau loh di madu in”
Luna tertawa kecil mendengar ucapan terakhir suaminya, “apaan sih, di madu in bukan ke balik ya, seharusnya wanita yang ngomong gitu. Aneh-aneh aja kamu mah”
__ADS_1
Atha malah ikut tertawa, sadar apa yang diucapkan nya salah. “Yaudah aku tunggu diluar aja, awas kalo lama lagi, kita batal perginya”
“Ih...jangan dong” cemberut Luna.
“Makanya jangan lama-lama, nanti keburu selesai acaranya”
“Iya iya, sabar napa!” Atha tidak membalas karena sudah berlalu keluar dari kamar.
Entah iya atau tidak, Atha berpikir anaknya nanti cewek bukan cowok, semua itu sudah terlihat dari tingkah istrinya.
Berselang 15 menit, Luna baru selesai dan keluar menyusul suaminya. “Dah kak, yuk berangkat” serunya. Atha mengangguk dan mengajak istrinya memasuki mobil. Sebelum itu, ia memandang istrinya dari ujung kaki sampai kepala dan berhenti tepat pada wajahnya.
“Kok cantik banget sih!” mencubit pipi tembam sang istri, gemas juga dia.
Luna cemberut, “ih...jangan di cubit dong cantiknya jadi hilang” Atha terkekeh, “makanya jangan cantik-cantik, cukup cantik didepan aku aja”
“biarin, kalo depan kamu mah udah sering...dah ah nanti keburu acaranya dimulai” Atha hanya mengangguk, sebelum menyetir ia sempatkan mengecup singkat bibir istrinya. Kalo enggak ingat mau pergi udah ia sosor semuanya.
...(Pakaian Atha & Luna)...
🌼🌼
Hampir setengah jam melakukan perjalanan dari rumah, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan yang tak lain tempat acara pesta pernikahan Max & Monalisa.
Di sana sudah sangat ramai oleh tamu undangan, pertama kali masuk mereka langsung disambut oleh Zex, Wulan dan kedua orang tua Max.
“Ini Luna kan?” tanya Jennie saat melihat Luna sedikit berbeda.
“Iya tante” Luna tersenyum. Jennie tertawa kecil sambil memeluk hangat tubuh kecil Luna.
“Sampe lupa tante, lagian kamu makin cantik aja. Tuh liat Om kamu sampe pangling” Jonathan Harrison, merasa disebut hanya geleng-geleng kepala. Dia memilih berbicara dengan Atha dan Zex.
Cukup lama mereka berbincang kecil, Atha dan Luna melanjutkan langkahnya kearah kedua pengantin.
“Selamat ya kak, semoga langgeng sampai nenek kakek” ucap Luna pada Monalisa sambil tersenyum. Monalisa membalas senyuman nya, “iya, makasih udah datang kesini” tidak ada rasa tidak suka lagi dihatinya terhadap Luna. Luna pun begitu.
__ADS_1
Sedangkan Atha tampak membisikkan sesuatu pada Max, entah apa hanya mereka dan tuhan yang tau. Tapi terlihat setelah itu muka Max berubah kesal.
“Dasar adik laknat!” Si empu yang dibilang hanya senyum-senyum tengil sembari menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Max.
“Kamu bisikin apa sama bang Max!” tanya Luna karena melihat kelakuan suaminya itu dari tadi. Atha hanya tersenyum nakal, “urusan para lelaki, cewek enggak boleh tau” serunya.
“Eleh...palingan kamu bilang kuda-kudaan, kamu kan omes” cibir Luna telak membuat kedua lelaki beda usia itu melotot, sedangkan Monalisa hanya tertawa kecil. Untung kagak keras, enggak kedengaran para tamu lainnya.
“Astagfirullah, bukan sayang. Kamu mah nebaknya sembarangan”
“Ck... kenyataan nya”
“dah mending kita kesana yuk, kamu lapar kan” kalo tidak bisa panjang urusan nya. Luna menurut saja karena memang ingin mencicipi makanan disini, dia kan jadi laper.
Baru saja mendudukkan bokong mereka terdengar suara pekikan seseorang.
“Luna Zeyeeng...” tampak Zoya bersama Rere menghampiri meja mereka, dan yang membingungkan ada Tirta dan Harley juga bersama mereka.
“Kalian, baru dateng” balas Luna melakukan cipika-cipiki dengan kedua sahabatnya tersebut, sedangkan para lelaki hanya menatap datar, harus banget seperti itu padahal ketemu setiap hari.
“Tunggu dulu, gimana ceritanya kalian barengan sama mereka?” Luna menatap intens kedua sahabatnya tersebut, entah kenapa ia mencium bauk-bauk tidak asing.
Mendengar pertanyaan Luna, mereka malah ikut bingung namun ada yang beda dari Zoya.
“Oh...cuman kebetulan aja pas sampe kita sama-sama dateng jadi masuknya bareng” Jawab Rere.
“Yakin nih enggak ada apa-apanya” Luna tidak percaya, apalagi melihat tatapan Zoya pada Tirta, benar-benar mencurigakan. Tapi untuk sekarang ia tidak ambil pusing, nanti ia tanyakan.
“Sayang, aku kesana bentar” kata Atha menunjuk kearah Daddy Arya dan rekan-rekan bisnisnya. Saat telah mendapatkan anggukan dari istrinya, Atha pergi kesana diikuti oleh Tirta dan Harley.
Sekarang tinggal ketiga sahabat tersebut sambil berbincang-bincang santai.
“Gimana, selama ini Lo ada ngidam aneh-aneh nggak” tanya Zoya setelah mengambil sepotong kue.
“Ada juga sih, tapi enggak terlalu sering. Soalnya gue kasihan juga liat laki gue, enggak tega gue” mereka malah ketawa mendengarnya, “terus sama kita Lo enggak kasihan gitu, masak tengah malam datang kerumah kita cuman minta beliin donat!” Sampe sekarang masih terasa kesal nya, kalo tidak ingat sahabat nya ini hamil mungkin sudah ia usir.
“Maaf beb, itu kan bukan keinginan gue tapi si debay” Luna terkikik geli melihat wajah kesal kedua sahabatnya. Sedangkan mereka mendengar alasan Luna hanya memutar bola matanya males, mereka juga tau itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT