
"Aaarrghh..." Terdengar suara jeritan dari seorang wanita didalam sebuah ruangan gelap hanya diterangi lampu remang-remang. Di hadapan nya tampak seorang pria tampan sedang tersenyum sinis karena merasa puas dengan permainan nya.
"Friska, apa sekarang kau merasa menyesal, hem!" kata pemuda yang tak lain ialah Atha melakukan penyiksaan kesekian kalinya tanpa mempedulikan beberapa bagian tubuh Friska berbelatung. Karena dari awal memang itu keingannya.
"Seperti nya sudah waktunya bagimu untuk berakhir didunia ini" Atha kembali duduk di tempat semula sambil meneguk wine nya.
"Kau pancung kepalanya dan kirim mayatnya pada keluarga Wijaya!" perintah Atha pada salah satu bawahan yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Pria itu langsung melakukan tugas nya dengan baik sesuai perintah Atha.
Dia sangat puas dan segera beranjak dari sana keluar dari tempat tersebut, sekarang tujuannya pulang, apalagi sudah menunjukkan pukul 24.05 malam pasti istrinya akan mengomel jika semakin larut. Dia juga tidak sabaran melihat reaksi keluarga Wijaya.
"Ini baru hal kecil, tinggal keluarga Georgio! tunggu kejatuhan kalian" Ia akan bergerak lebih awal ia tidak sampai Daddy, dan kedua abangnya serta orang-orang terdekat nya sampai menjadi korban lagi.
Dia sendiri akan membalas kematian sang kakek.
Saat dipertengahan perjalanan tiba-tiba saja ia dapat panggilan dari seseorang dengan terpaksa ia menunda pulang.
"Semoga saja Luna tidak mendiamkan ku nanti" gumam saat mengingat istri tercinta nya.
Sedangkan lain sisi, Luna terlihat ketiduran di atas sofa dalam kamarnya akibat menunggu Atha terlalu lama ia jadi tak tahan menahan kantuknya dan akhirnya ketiduran.
Tak butuh waktu lama, Atha sampai di depan sebuah Club’ keluar dari mobil dengan berat hati ia melangkah pelan memasuki tempat laknat tersebut.
“Kenapa kedua ****** itu memilih tempat beginian sih!” Sampai didalam Atha mencari keberadaan kedua makhluk tersebut tanpa mempedulikan suara music memekik gendang telinga nya. Bahkan beberapa kali netranya melihat hal tak senonoh namun ia hanya bodoamat.
“Ck...itu mereka” decak nya saat melihat orang yang dicari nya sedang duduk santai di meja bagian pojok. Lalu berjalan kesana.
Disana Atha langsung mendudukkan bokongnya disalah satu kursi kosong dekat mereka. “Kalian benar-benar mau gue geplak, malah ngumpul disini, selain tempat laknat ini kan bisa!” omel Atha membuat kedua pria itu cengar-cengir tak jelas.
“gak usah muna Lo tha, ini itu tempat paling ternyaman dan terbaik dari tempat mana pun” protes salah satu dari mereka dengan tatapan jijik nya pada Atha.
“ternyaman dengkul mu!” sentak Atha ketus. Jika tidak ingat umur mereka lebih tua darinya sudah ia geplak benaran.
__ADS_1
“Santuy dek, jangan marah-marah” ucap satu nya lagi sambil menyengir lebar pada Atha.
“Gak usah panggil gue dek, gue bukan dedek lo pada!”
“Salahnya dimana? Kan emang situ adek kita, ya nggak bro”
“Ho’oh”
Atha mendegus karena tidak salah juga, diakan memang adik mereka, “udah, gak usah banyak omong. Mending sekalian kalian jelasin semuanya, biar kita bergerak lebih, gue gak mau lama-lama lagi diganggu hama seperti mereka”
Mendengar perkataan Atha, mereka menjadi serius, “Ok. Tapi gimana sama Daddy, bang Sean dan bang Mike. Apa mereka tidak kita beritahu?!”
“Kau lupa, sebelum kita beritahu pun Daddy bakal juga bakal tau sendiri. Lo pada gak amnesia kan ini club’ milik Daddy jadi pasti dalam pengawasan Daddy”
“Eh...iya ya, kita jadi lupa... maklumlah udah tua” Atha hanya memutar bola matanya melas tua dari mana kalo tua setahun diatas nya emang iya.
“Jadi gimana?” Atha menatap mereka dengan intens, dia tidak ingin lama-lama.
“Ogah! Udah langsung saja, gue harus cepat-cepat pulang. Lo gak lupakan kalo gue udah nikah dan berarti gue udah punya istri jadi karena itu gue gak bisa lama-lama disini!”
Mendengar nya, mereka hanya mengangguk males padahal niat mereka ingin mengajak sang adik minum-minum sambil pargoy. “Iya...iya, tapi nanti aja lewat telpon. Sekarang kita mau bersenang-senang dulu” ucap satunya dengan santai diikuti oleh satunya lagi tanpa peduli tatapan tajam Atha.
“Shiit..!!” Atha mengumpat kesal jika tidak ingat mereka abangnya sudah ia tendang dari tadi. Jika tau akan begini lebih baik ia lanjut pulang saja, benar-benar menyebalkan.
“Oh... silakan bersenang-senang sepuasnya! Tapi jangan salahin gue kalo Daddy sampai tau dan memborgol kalian!” kata Atha dengan menyeringai sebelum pergi dari tempat laknat itu.
Sedangkan kedua pria itu tidak menanggapi peringatan Atha, mereka malah asik mendekati para wanita. Tanpa memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.
🌼🌼
Keesokan harinya, tepatnya di kediaman keluarga Wijaya terjadi kehebohan dengan ditemukan mayat seseorang di depan rumah mereka. Dan yang lebih parahnya lagi setelah dipastikan ternyata itu mayat Friska Naora Wijaya, putri bungsu Brayen dan Fio.
__ADS_1
"Papa...hiks...p-putri kita pa..!" tangisan pilu terdengar dari nyonya Fio yang berada dalam pelukan suaminya. Brandon dan Ronal hanya terdiam kaku melihat semua itu, mereka benar-benar tidak menyangka sang adik akan meninggal tragis begini.
"b-bang princess k-kita!" kata Ronal tergagap pada abangnya Brandon yang duduk di kursi roda.
Beberapa saat setelah itu beberapa kepolisian datang mereka juga berjanji akan menyelidiki kasusnya.
...
Sedangkan di sisi lain, Atha malah tersenyum mendengar berita menghebohkan itu. Dia benar-benar membuat keluarga Wijaya menjadi sorotan awak media.
"Sayang, apa itu perbuatan kamu? kamu benaran bunuh Friska!" Luna memandang suami dengan curiga. Atha yang awalnya memandang kearah televisi menoleh kearah istrinya yang berada di samping kanannya.
"Kenapa? kamu gak suka aku bunuh dia? bukannya ini pembalasan yang setimpal, nyawa dibalas nyawa, hm..."
Luna melotot, ternyata memang benar, suaminya membunuh orang. "J-jadi benaran! kamu benaran bunuh Friska! tapi KENAPA? KENAPA KAMU HARUS BUNUH DIA!" Suara Luna langsung naik oktaf membuat Atha meringis mendengarnya.
"gimana nanti jika kamu di tangkap polisi lalu dipenjara atas kasus pembunuhan berencana! Aku gak mau ya ditinggal sendirian!"
Bukan nya takut, Atha malah terkekeh mendengar ocehan sang istri, "emang kapan aku ninggalin kamu?" godanya sambil menarik sang istri ke pelukannya.
Luna semakin cemberut, "pakai tanya lagi, ya jelas lah kalo kamu di penjara...aku kan jadi ditinggal, gak ada yang peluk aku lagi dong"
Atha menaik-turunkan alisnya, "jadi istriku ini takut gak ada yang peluk toh" Atha tertawa geli.
"ih...gak usah ketawa"
"Kamu tenang aja, aku gak bakalan ditangkap ataupun dipenjara. mereka gak akan tau. jadi kamu gak usah takut aku tinggalin..."
"lagian siapa coba yang mau jauh-jauh dari istri semok ku ini" Atha mencium gemes kedua pipi tembem sang istri.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT