
Atha benar-benar dilanda kacau sekarang istrinya mendiamkan nya, bahkan tidak mau berbicara sepatah kata pun padanya. Ia ingat mungkin istri masih marah padanya karena bentakan waktu itu.
Benar-benar merasa tersiksa!
“Sayang jangan gini dong, aku gak sanggup di diamin begini...udah sehari lho masa kamu masih betah diamin aku” Atha menatap sendu istrinya yang malah memilih berbicara dengan kedua kakak iparnya dan kedua sahabatnya. Mendengar rengekan Atha mereka susah payah menahan tawa tak disangka Atha akan se lebay ini. Satu hal lagi mereka juga belum mengatakan kebenaran nya, Luna sendiri juga belum menyadari.
Dengan tatapan tajam Atha . melirik-lirik kedua gadis dan kedua wanita itu seperti mengatakan, 'Tinggalkan kami berdua' , Ana dan Alisya seperti mengerti maksudnya langsung mengajak Zoya dan Rere keluar.
“Lun, kita keluar dulu lebih baik kamu perbanyak rehat”
Luna kebingungan, “mau ngapain kak? Disini aja temanin aku”
“Ow...itu kita mau makan bentar soalnya belum sempat makan tadi” Dengan tak rela Luna mengiyakan saja. Setelah mereka keluar Luna melirik sekilas kearah Atha yang lagi menatapnya sendu, bukanya merasa kasihan ia malah membalas dengan tatapan tajam.
“Apa liat-liat!” sentak Luna dengan ketus membuat Atha tersentak. Atha semakin merasa bersalah.
“Sayang, aku tau aku salah tapi jangan gini dong. Aku minta maaf...a-aku memang suami yang becus jaga kamu...” Atha menghampiri ranjang istrinya sambil memegang telapak tangan sang istri dengan mata berkaca-kaca. Namun, Luna malah membuang wajahnya kearah lain sambil menyentakkan tangan nya yang genggam Atha.
“Sayang...a-aku tau kamu pasti merasa kecewa banget, a-ku minta maaf karena jaga kamu dan dia dan sekarang...”
“dia siapa maksud kamu!” sentak Luna merasa ada yang salah dari omongan suaminya. Dan entah kenapa ia merasa ada yang hilang, tapi apa? Luna menatap tajam suaminya.
“Apa? Jawab aku siapa maksud kamu!”
Tenggorokan Atha terasa tercekat mendengar pertanyaan istrinya, haruskan ia mengatakan sekarang tapi ia takut kesehatan istrinya ikut menurun, apalagi ia masih sehari sadar dari koma. Jika tidak dikatakan pasti istrinya akan semakin marah dan kecewa, ia jadi bingung.
“Kenapa kamu malah diam? Cepat jawab jangan buat aku semakin penasaran” Luna terus mendesak.
__ADS_1
Atha menghela nafas dengan berat seperti sudah waktunya istrinya tau kebenaran ini.
“Oke, akan aku katakan...” Atha memejamkan matanya, “Anak kita udah gak ada!” rasanya ia pengen tenggelam saja saat mengungkapkan nya. Luna tampak terhenyak mendengar nya, sungguh ia tidak mengerti maksud suaminya tersebut.
“M-maksud k-kamu apa sih? sumpah aku enggak ngerti!” kata Luna tergagap dan menatap intens suaminya yang terlihat membuang muka kearah lain.
“Ayo jawab! Maksud kamu apa?” Pekik Luna seraya menggoyang-goyangkan lengan suaminya. Atha benar-benar tidak tega melihat tatapan sang istri.
“S-sayang m-maksud aku, diperut kamu anak kita udah gak ada lagi...kamu keguguran!” jawab Atha dengan nada lemah. Apalagi saat melihat istri terdiam, Atha dengan cepat mendekap sang istri, dia yakin sebentar lagi istrinya akan histeris.
“Hikss...ini gak benar kan, anak kita gak mungkin ninggalin kita, Sayaaang...jawab aku kamu pasti bohongkan!” Luna menangis histeris dengan tangan terus memukul dada bidang suaminya. Lalu mengarahkan sebelah tangan nya mengusap perus ratanya.
Atha ikut menangis dalam diam, sungguh dia tidak ingin melihat istrinya seperti ini.
“Kamu yang sabar sayang, mungkin Allah lebih sayang sama dedek nya...” Atha melepaskan pelukannya dan beralih menangkup kedua pipi sang istri dan terus mengucapkan kata-kata penenang tak lupa mengucapkan kata-kata maaf berkali-kali.
“Tante cantik kenapa nangis!” kata Aleta dengan tatapan polosnya. Mendengar suara tersebut Luna dengan cepat menghentikan tangisannya dan berusaha tersenyum pada Aleta.
“Sini sayang...tante gak nangis kok cuman kelilipan doang kok” Aleta tentu saja menurut dan meminta sang opa menghampiri tante cantiknya.
Sedangkan Atha merasa sedikit lega setelah mengecup singkat dahi sang istri ia kembali duduk di sofa. Setelah memindahkan Aleta pada Luna, Arya ikut duduk dekat sang putra.
“Apa kamu sudah makan?” tanya Arya sekedar basa-basi saat melihat wajah murung putranya.
Saat melihat gelengan dari putranya, Arya menghela nafas pelan. “Lebih kamu makan dulu Daddy tidak mau kamu kenapa-napa! Biarkan istrimu bersama Aleta, Aleta akan menghibur kesedihan istrimu!”
Atha diam seraya memandang kearah istrinya yang sekarang tampak tertawa bersama Aleta tapi ia akan itu hanya tawa kepalsuan. Arya mengikuti arah pandangan sang putra dan bergumam dalam hati, “Hahh... kenapa harus putra dan menantuku yang merasakan hal pahit ini. Benar-benar tidak adil!”
__ADS_1
“Setelah ini Daddy tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakiti kalian lagi. Daddy pasti akan membalas mereka lebih menyakitkan lagi” Arya menatap putra dan menantunya bergantian dengan sendu.
Akhirnya, dengan tak rela Atha pergi bersama Daddy nya keluar.
...
Disisi lain, terlihat Monalisa mencak-mencak jelas karena Max mengacuhkan nya beberapa hari ini.
“Sialan! Dia ada masalah apa sih sampai tidak menjawab panggilan gue!” dengan kesal ia lempar ponselnya sembarangan arah, bodoamat lah kalo rusak tinggal beli lagi.
“Kayaknya gue harus samparin langsung nih anak” Mona mengambil tasnya diatas nakas dan keluar dari apartement tersebut, tujuan nya pergi ketempat tinggal Max.
Hampir setengah jam melakukan perjalanan, akhirnya ia sampai didepan apartement sahabat partner nya tersebut. Dia mencoba memasukkan password nya dan ternyata masih sama.
Dengan tersenyum puas Mona melangkahkan kaki jenjangnya masuk, pandangan nya mengitari setiap sisi ruangan tersebut.
“Ck...kemana anak itu” degusnya dan melanjutkan langkahnya kearah kamar milik Max. Namun saat sesampai didepan pintu berwarna hitam tersebut sayup-sayup ia mendengar suara ******* wanita. Membuat muka Mona jadi memerah dengan tangan mengepal erat.
“Max babi! Berani-beraninya dia main sama cewek lain di saat gue lagi butuhin dia!”
“Cih... palingan lebih cantikan dan seksi gue, awas aja Lo minta puasin ke gue...gue potong otong Lo!” Mona menghentak-hentakan kaki nya kesal dan berbalik berencana pergi, males banget dia lama-lama berada disana.
Setelah keluar dari apartement Max, Mona mengumpat berkali-kali lebih tepatnya mengumpati Max. Entah kenapa ia tidak suka saat melihat Max bermain bersama wanita lain. Padahal ia sendiri sering bermain dengan lelaki lain selain Max, sebut saja ia egois.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT