Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 102


__ADS_3

“Kenapa Lo?” Al yang baru pulang setelah sampe di lantai atas memandang kembarannya heran. Saat melihat wajah merah kembaran habis keluar dari kamar milik nya.


“Habis ngapain Lo sama Arthur, jangan Lo--!”


“Diem bangsat! Salahin teman bajingan Lo tuh!” pekik Aurel dengan nada emosi antara malu. Lalu bergegas pergi ke kamar nya.


Brakk


“Astaghfirullah!!” Al langsung istighfar.


Al mengusap dadanya sabar, untung dia masih muda dan gak punya penyakit jantung. “Dia kenapa sih?” lalu memasuki kamar nya. Seperti nya dia harus menanyakan pada Arthur. Sudah jelas sahabat nya itu menjadi tersangka penyebab kembaran nya begitu marah.


“Ar, Lo apain Aurel sampe semarah itu?!” tanya nya saat melihat sahabatnya tersebut sedang duduk bersandar di kepala ranjang.


“Gak ada” jawab Arthur acuh.


Al yang lagi membuka kancing seragam nya mengernyit tapi ia tidak menanyakan lagi karena tidak penting juga. Kembaran nya juga terkadang aneh suka-suka marah-marah sendiri. Mungkin lagi pms.


“Udah mendingan” Al menyentuh dahi Arthur dan sudah tidak sepanas pagi tadi. “Mata Lo kenapa sembab gitu, Lo habis nangis Ar?” tanya saat menyadari mata sahabat nya sembab seperti habis menangis. Tapi ia kurang yakin, seumur-umur bersahabat dengan Arthur ia tidak pernah melihat anak itu menangis hanya ada wajah datar dan dingin.


Ekspresi Arthur terlihat sedikit berubah terkejut tapi hanya sesaat, “Gak. Kelilipan tadi” ucapnya kembali datar.


“Oh, gitu” Al hanya mengangguk acuh sembari beranjak masuk walk in closet mengambil pakaian nya. Saat Al telah masuk, Arthur mengangkat tangannya kearah matanya yang sudah dipejamkan, Lalu mengusapnya.


“Kenapa harus menangis!” gumamnya sangat pelan. Untung saja sahabatnya itu percaya saja dengan ucapannya jika tidak ia pasti malu sekali mengakuinya. Ia segera menghentikan kegiatannya saat mendengar ponsel nya berdering bertepatan Al keluar dengan baju kaos hitam dan celana Levis pendek hitam.


Saat melihat nama 'Mommy' ia buru-buru mengangkat nya. Bukan panggil suara tapi vc. Pertama kali menekan tombol hijau terlihat wajah cantik mommy nya.


“Haii...son!” Monalisa tersenyum hangat saat melihat wajah tampan putranya tapi sedikit pucat.


“Udah minum obat sayang?”


“Udah mom” Arthur tersenyum tipis, jika bersama Mommy nya dia tidak akan terlalu dingin begitupun pada Daddy dan adiknya Stella.


“Cepat sembuh ya sayang, maaf ya nggak mau kamu makin sakit. Baik-baik disana ya, mommy sama yang bakal balik lusa”


Arthur hanya mengangguk. “Gak apa-apa mom, aku juga udah sedikit mendingan. Mungkin besok bakal sehat lagi”


“Tapi mom, apa Daddy sudah mencari tau siapa dalang orang-orang itu?!”


“Bagus lah”


“Maksud kamu yang nyerang kamu waktu itu ya, udah kok Daddy sama opa kamu sudah tau siapa penyebab, dia bawahan salah satu musuh bisnis Daddy mu. Dari yang mommy dengar dia mau menghancurkan keluarga kita dan itu melalui kamu dan adikmu”

__ADS_1


Mendengar penjelasan mommy nya, Arthur menjadi marah, “dari keluarga mana mom?!” tanya nya dengan suara sangat dingin.


Monalisa melihat perubahan putranya, jadi bersalah. “Sayang, kamu jangan marah oke. Urusan ini biar Daddy sama Opa yang urus. Mommy nggak mau kamu sampe ke pikiran, kamu itu harus perlu fokus sama sekolah kamu dan kesehatan kamu”


Arthur menghela nafas sedikit berat, dan memilih mendengar kan perkataan mommy nya tetapi tetap saja dia masih tidak tenang.


“Mom, yang lain mana? Mommy sendirian aja”


“Maaf sayang” Monalisa tertawa kecil.


“Mereka lagi keluar tadi, mungkin bentar lagi balik. Yaudah...udahan dulu ya, mommy mau mandi dulu. Cepat sembuh ya sayang, mommy sayang kamu!”


“Iya mom, aku juga sayang mommy” Arthur tersenyum. Dia sudah sering mendengar perkataan terakhir mommy itu, sebenarnya itu sudah kegiatan rutin bagi wanita melahirkan nya itu. Dan itu tidak pernah membuat nya bosan mendengarnya, malahan itu membuat nya semakin menyayangi mommy tercintanya melebihi siapa pun, begitupun adiknya Stella.


Sementara di sisi lain. Aurel misuh-misuh sendiri di kamarnya. Di masih terbayang-bayang permintaan Arthur sebelumnya, apalagi eksepsinya yang mana membuat nya semakin naik darah.


Flashback on


!!


“Coba ulangi, Lo bilang apa tadi?” tanya Aurel sedikit gugup mendengar ucapan Arthur barusan.


“Peluk Au” Jawab Arthur  dengan suara merengek dan itu terdengar manja banget membuat Aurel geli.


“Peluk Au” Rengek Arthur lagi. Kemana wajah datarnya, kenapa jadi manja begini, sungguh Aurel ingin kabur saja dari rumah.


“Ck, Lo jangan bikin gue kesel. Dah sini gue antar ke kamar sebelah” Aurel berusaha untuk menghiraukan ucapan ngelantur Arthur tadi. Arthur tampak menurut saja saat di tarik keluar.


Sesampai di kamar Al, Aurel membantu Arthur berbaring diatas tempat tidur. “Dah, mending Lo tidur, atau ngapain kek sampe bang Al balik. Gue mau lanjut nonton”


“Gara-gara Lo gue jadi ke halang nonton” degusnya yang akan berbalik keluar. Tetapi malah tertahan oleh tangan besar Arthur memegang sebelah lengannya.


Aurel terpaksa menoleh dengan mengernyit, “kenapa lagi?” tanya nya sedikit nyolot.


“mau peluk Au” Sudut bibir Aurel berkedut, lalu mengusap kasar wajahnya sembari menatapnya tajam. “Lo jangan ngelunjak deh. Udah gue bantuin aja bersyukur, sekarang Lo malah minta di peluk. Woiii...bro ingat batasan!”


“Lo---“ Ucapan nya tercekat saat melihat tatapan sendu itu dan tak perlu lama terdengar isakan kecil. Tentu saja Aurel dibuat terkejut.


“Whatt! Demi apa? Dia nanges...apa dia nanges, yang bener aja. Gue nggak salah dengar kan!!” jerit Aurel dalam hati. Ia benar-benar dalam situasi menegangkan sekarang. Si makhluk es menangis, Hahaha...ayo lah, jika ini mimpi tolong bangunkan dirinya.


Plak


Aurel menampar pipinya agak kasar, membuat nya mengaduh. Lalu pandangan kembali beralih kearah makhluk es yang sudah berubah menjadi makhluk lain.

__ADS_1


“Au, peluk...mau di kalongin!” rengek Arthur lagi dengan sesenggukan.


Diam. Aurel masih terdiam bisu. Bukan karena apa, masa iya dia harus melakukan permintaan cowok ini yang hanya orang asing. Andai aja itu Al meminta belum tentu bakal di lakukan nya. Kecuali maminya, pasti diturutin.


“Sialan! Gimana nih, gue jadi bingung. Demi apa gue bingung njiiirr!” teriak Aurel lagi dalam hati.


Namun, saat melihat tatapan mengiba Arthur, entah kenapa hatinya sedikit bergerak. Dia jadi tidak tega melihat nya.


“Oke, tapi awas ya Lo sampe macem-macem! Cuman peluk oke!” ucapnya setelah berpikir, kasihan juga kan.


Lalu ia ikut naik dan membiarkan Arthur memeluknya. Dan itu terlihat sedikit intim. Aurel merasa kegelian saat merasakan kepala Arthur mendusel-dusel dekat dadanya.


Plak


“gue bilang, jangan macem-macem Ar” keselnya sembari mengeplak punggung Arthur. Dan itu membuat si empu diam. Aurel jadi lega.


“Elus Au”


Aurel berdecak, banyak maunya. “Ck, iye” lalu mengangkat tangan untuk mengelus surai Arthur. Beberapa kali ia mengumpat dalam hati. Baru kali ini ia melakukan hal in pada seorang cowok, dan itu bukan dari keluarga nya.


Berselang lama ia merasa kan nafas teratur dari Arthur, itu tandanya anak itu sudah tertidur. Karena terlalu asyik mengelus kepala Arthur tanpa sadar ia juga ikut mengantuk. Tidak butuh lama ia juga ikut tertidur.


Namun, baru saja beberapa menit. Ia dipaksa bangun saat merasakan keanehan. Perlahan ia sadar, apa yang dirasakan nya.


“Arthur goblok! Lo ngapain njiir!!” pekik Aurel seketika. Arthur yang masih terlelap terkejut mendengar suara Aurel. Dia belum menyadari perbuatannya sendiri.


Dengan paksa, Aurel melepaskan pelukannya dan buru-buru bangun. Lalu merapikan kaosnya dengan wajah memerah, menahan amarahnya.


“Berdosa banget lo! Gue kan udah bilang jangan macem-macem. Terus tadi Lo ngapain bangsul. Liar banget tangan Lo asu!” Ucap Aurel menggebu-gebu sampe urat-urat lehernya terlihat dengan jelas.


Sementara Arthur, tampak linglung. Dia tidak tau maksud Aurel. Bukannya tadi ia hanya sekedar memeluk. Lagi pula ia lagi tidur.


“Lo marah?” Arthur berkaca-kaca. Jangan pikir Aurel akan kasihan. Dia sudah terlanjur marah dan juga malu. Jelas lah marah, tadi ia merasakan tangan kampret itu masuk kedalam baju kaos dan juga membuat kaos nya tersingkap keatas. Baru saja ia tertidur bentar sudah begini.


Satu kata ada di benaknya, ia menyesal, sungguh ia menyesal menuruti kemauan cowok menyebalkan itu.


“bodoamat! Gue gak sudi kalongin Lo lagi!” sentak Aurel sebelum bergegas keluar meninggalkan Arthur yang masih menatap nya dengan mata berkaca-kaca.


Flashback off


“Aaarrghhh... bajingan mesum, Bangsat!”  pekiknya sembari menenggelamkan wajahnya ke bantal.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2