Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 55. Kekhawatiran Alfredo dan Jeon


__ADS_3

“Apa! Kenapa bisa kecolongan yah, bisa gawat jika isi dalam map itu di ketahui” Alfredo tampak sangat takut sekali, dia bahkan menggusar rambutnya dengan kasar.


Sedangkan Jeon malah lebih ketakutan dibandingkan sang putra, “kau pikir hanya kau yang khawatir, aku juga! Jika semua nya terbongkar habislah kita bahkan Monalisa pun juga akan menjadi kecewa dan mungkin saja dia akan membenci kita!” Wajah Jeon semakin pucat begitupun Alfredo rona wajahnya sudah berubah sangat pucat.


“Enggak, semua tidak boleh terjadi! Kita harus mencari orang itu sampai ketemu, ayah aku tidak ingin anak-anak mengetahui nya apalagi Mona, aku tidak ingin kehilangan Mona apalagi istriku” Alfredo memohon kepada ayahnya, dia terlihat sangat kacau sekarang.


“Dasar bodoh, kau pikir aku menginginkan itu terjadi, tentu saja tidak akan pernah. Tapi sampai sekarang Viko dan yang lain nya tidak menemukan jejak dan informasi sedikitpun tentang orang itu!”


“Ayah yakin dia mungkin dari keluarga lebih tinggi dari kita dan bisa saja masih berhubungan dengan keluarga Albert!” Mendengar semua perkataan ayahnya, Alfredo terduduk lemas. Jika memang itu benar, mampus lah dia.


“Ck, keluarga Arya lagi, ayah apa tidak bisa kita bunuh saja si Arya sialan itu, dengan begitu kita akan lebih mudah menghancurkan keturunan nya dan kita juga bisa menikmati kekayaan mereka!”


Plak


Jeon yang kesal mendengar ucapan melantur sang putra langsung menamparnya.


“Kenapa kau semakin bodoh sialan! Apa kau lupa mereka siapa Hah! Kau pikir mereka hanya keluarga rendahan, bahkan kekayaan mereka jauh lebih tinggi dari kita, kau jangan main-main!” Tutur Jeon dengan nada marahnya.


“lalu bagaimana dengan ayah bahkan dengan beraninya membuat ayah Arya meninggal! Apa lupa, tidakkan! Bahkan waktu ayah lebih bodoh dariku dan juga karena hal itu keluarga kita di benci dan dimusuhi keluarga Albert” Alfredo ikut marah, ayahnya ini tidak sadar apa? Semua itu karena ulah dia juga, mengatakan dirinya bodoh tapi tidak mengoreksi diri sendiri.


Mendengar balasan putranya membuat Jeon menunduk, apa yang dikatakan putra nya memang benar tapi tidak ada gunanya lagi untuk menyesal semua sudah terjadi. “Al, ayah memang benar-benar bodoh, dulu ayah sangat bodoh, ya ayah bodoh hanya karena keirian dan kedengkian ayah, ayah dibutakan oleh obsesi ayah sendiri...”


Jeon menghela nafasnya pelan, “Hahh...sudahlah ayah tidak ingin mengingat lagi, sekarang yang perlu dipikirkan bagaimana cara nya mendapatkan barang yang telah dicuri itu! Ayah hanya berharap semua nya baik-baik saja”  Jeon memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas dalam-dalam dan melepaskan kembali.


“Sudah lebih sekarang kau pergi ke kantor jangan sampai kau libur dan membiarkan Zex menangani sendiri” ucap Jeon.


“Dan jangan lupa tetap waspada kita tidak tau apa yang akan direncanakan musuh selanjutnya” Jeon menambahkan dengan penuh peringatan.


“Baik ayah, kau tenang saja. Lebih baik ingatkan dirimu sendiri untuk tetap menjaga kesehatan mu yang semakin hari makin menurun” balas Alfredo dengan nada penuh kekhawatiran. Membuat Jeon terbatuk-batuk, “Hais...kau ini tidak usah pikirkan kesehatan ayah, ayah itu sudah semakin tua jadi sudah sewajarnya” ucap Jeon dengan kekehan pelan sambil menepuk-nepuk lengan putranya.


Alfredo hanya menggelengkan kepalanya lemah, “terserah ayah saja, baiklah aku berangkat dulu, jangan lupa minum obat mu yah” setelah itu ia beranjak dan keluar meninggalkan Jeon tampak terdiam.


“Kawan kau pasti tidak tenang disana! Ya kau benar semua nya salah ku seandainya aku tidak dibutakan keserakahan mungkin semua ini tidak akan terjadi! Aku pasti tidak akan kehilangan mu! Dan keluarga kita pasti akan berhubungan baik seperti dulu!” batin Jeon memandang keatas dengan tatapan sendunya.

__ADS_1


...


Di kediaman keluarga Albert.


Tampak semua nya sedang berkumpul di ruangan keluarga termasuk Atha bersama Luna bahkan Sean dengan istri dan putranya pun berada disana. Dan masih ada tiga orang lagi menambah suasana semakin ramai. Membuat Arya sebagai kepala keluarga merasa tenang dan bahagia walaupun masih ada yang kurang.


“ih...om Atha jangan digituin geli” terdengar suara tawa Aleta karena perut bulatnya di geliti oleh Atha.


“Ck, tha udah Lo mah bikin anak gue ngences nanti” kata Mike menghentikan kegiatan adiknya dan menarik putrinya.


“Lebay Lo” cibir Atha, lalu beralih menarik Alano yang lagi enteng duduk di pangkuan Sean ayahnya dan memindahkan di pangkuannya. Membuat Sean memandang nya tak suka namun hanya di acuhkan si empu.


“Waahh...gak benar nih, adik ipar keknya adik gue emang udah ngepet pengen anak” cetuk Tirta, Yap tiga orang lain nya ialah Tirta, Haryel dan Max.


Luna yang sedang ngerumpi bersama Ana dan Alisya tiba-tiba saja mengalihkan pandangan nya kearah Tirta lalu selanjutnya menatap suaminya. Tatapan yang awalnya bersinar berubah sendu. Dan itu disadari oleh mereka termasuk Atha, dia juga merasakan hal sama.


“Tirta!” mendengar suara dingin Daddy Arya membuat Tirta sebagai tersangka merasa bersalah dan dia juga menyadari semuanya ikut menatap nya dengan tajam kecuali Luna.


“Heheh...maaf Dad, Tirta nggak maksud begitu”


“Udah bang, Lo nggak usah minta maaf segala” sahut Atha saat melihat wajah bersalah abang nya itu. Sedangkan Luna hanya menunduk lesu, Ana dan Alisya yang berada di samping kiri, kanannya mengusap lembut lengan nya.


“Udah, kamu enggak usah bersedih lagi, apa yang dikatakan Tirta benar gak lama lagi kamu sama Atha pasti bakal dapat momongan lagi” ucap Ana.


“He'em, benar yang dibilang kak Ana. Enggak usah sedih gitu dong” tambah Alisya seraya tersenyum untuk menghibur Luna.


“Iya kak, Luna enggak bakal sedih lagi” akhirnya Luna tersenyum lagi, dia juga tidak ingin terlalu lama memikirkan nya karena itu hanya akan membuat dirinya semakin merasa bersalah dan menyesal.


“Hmm...gimana kalo kita pergi Shopping udah lama kita enggak belanja bareng” usul Alisya. Yang di anggukan oleh Ana. “Sekalian ajak sahabat kamu, Zoya sama Rere” kata Ana yang disetujui Alisya.


“boleh juga, yuk kak nanti aku kabarin mereka” saat melihat ketiga wanita itu akan beranjak membuat Sean, Mike dan Atha bertanya.


“Mau kemana?” tanya Sean.

__ADS_1


“Mau ganti baju mas, kita mau shopping boleh kan!” jawab Ana dan tak lupa sekalian minta izin. Sedangkan Luna dan Alisya ikut memandang suami mereka.


“Boleh, tapi harus tetap dikawal” kata Sean.


“Iya kita tidak bisa membiarkan kalian berkeliaran tanpa ada penjaga” tambah Mike yang dibenarkan oleh Atha begitu pun yang lainnya termasuk Arya.


“Ih...kita mau ikut” pekik Aleta dan Alano secara bersamaan dan langsung berlari kearah mereka membuat Alisya, Ana dan Luna tersenyum.


“Yaudah kita ganti baju dulu” yang dianggukan semangat oleh kedua bocah itu.


...


“Dad, apa tidak masalah membiarkan mereka keluar” tanya Harley dengan raut khawatir.


“Benar dad, kita tidak tau jika keluarga Georgio mencurigai dad dan yang lain atau tidak” Max ikut menambahkan.


“Kenapa kalian malah cemas begitu sih, bukannya tugas kalian selama ini mengawasi keluarga itu, seharusnya kalian tau lah”  ujar Mike sedikit ngegas membuat Tirta yang berada di dekat nya menoyor kasar jidat Mike.


“Lo pikir kita cenayang hah! Lagian bisa aja mereka ikut mencurigai kita” balas Tirta dengan nada kesal.


“Tau nih” Harley melirik Mike sinis, bodoamat Mike itu lebih tua dari nya.


“Waahh... Lo ya! gue ini abang Lo berdua jangan kurang ajar dong, enak aja main noyor pala gue!” Mike berkecak pinggang sambil menunjuk-nunjuk Harley dan Tirta dengan tatapan galaknya.


“dan Lo Max, Lo juga sama” Max yang akan protes hanya mendelik.


“Berisik kalian, yang jelas lebih tua itu Daddy disini kagak usah ribut”  ucap Atha sedikit keras membuat keempat pria berbeda usia itu mendegus.


Sean sebagai anak tertua hanya geleng-geleng kepala begitu pun Arya, dia tidak heran lagi jika mereka sudah kumpul selalu ada saja yang diributkan.


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2