
“enggak, gak mungkin! Mama pasti bohong!” Monalisa memekik heboh, dia sangat syok mendengar penjelasan mama Wulan. Semuanya diluar pemikiran nya. Begitupun Zex, pemuda itu terus menggeleng lemah.
“Kenapa, kenapa mama baru cerita sekarang? Kenapa ma? Andai aja aku tau orang yang selama ini aku anggap papa ternyata pembunuh papa kandung ku sendiri pasti semuanya enggak akan seperti ini!?...”
Wulan menangis sesenggukan seraya memeluk kedua anaknya, “maafin mama sayang, dulu kamu masih terlalu kecil mau mama jelasin kamu enggak bakal tangkap... apalagi papa Leon jarang pulang waktu itu, dan satu hal lagi yang harus kamu ingat nak, Alfredo sengaja membuat kamu melupakan tentang papa kandung mu sendiri bahkan mama saja tidak bisa berbuat apa-apa!...mama tidak berguna, melindungi kalian saja mama tidak bisa dan sekarang semuanya berakhir seperti ini!” Zex dan Monalisa hanya bisa menangis, ternyata selama ini mama mereka tidak sebahagia mereka lihat semua itu cuman kepura-puraan.
“Sudah, mulai sekarang kita tidak akan sama lagi, Alfredo sama kakek kalian pasti akan mendapatkan ganjarannya, keluarga Albert sangat membantu kita” Wulan mengecup singkat dahi putra dan putrinya bergantian.
“Lalu gimana sama bang Tirta dan bang Harley!” tanya Monalisa menatap mama nya sendu. Wulan tersenyum lembut sembari mengelus surai putrinya dan berkata, “Mereka tentu saja harus kembali ketempat seharusnya, mereka lebih tersakiti dari kita kedua orang tuanya telah tiada dan itu disebabkan kakek dan Alfredo sendiri!”
“berarti mereka bukan abang Lisa lagi!” Monalisa cemberut, dia tidak rela.
“Kan ada abang” saut Zex yang hanya dibalas manyun oleh Monalisa.
Max yang duduk tidak jauh dari mereka hanya tersenyum tipis, dia lega melihat kekasihnya kembali seperti awal. “Hahh... syukurlah dia tidak terlalu stres” gumamnya.
“Samparin sana” kata Atha yang baru saja masuk dan ikut duduk dekat Max.
“Tidak perlu..”
“Udah beres!” Max melirik Atha singkat sebelum kembali memandang kearah Monalisa.
Terdapat gelengan dari Atha, “belum, Lo kayak enggak tau aja bang...mereka kalo udah mode iblis susah dihentikan” ujar Atha seraya mengisap rokok nikotinnya. Max memandang Atha heran.
“Parah Lo, sejak kapan Lo merokok! Setau gue lo paling benci yang nama nya rokok” Gimana enggak heran, karena setaunya selama kenal seorang Atha yang dia tau anak itu sangat benci yang namanya rokok jangan kan menyentuh kena asapnya saja dia sudah marah dan sekarang, entah apa yang merasuki si bontot satu ini.
“Kenapa? Ada masalah, cuman sesekali doang kok baut ngilangin rasa bosan!” jawab Atha santai.
“Ketahuan bini mampus Lo! Setahu gue ya...mood bumil itu susah ditebak nanti diusir tidur diluar mampus Lo!” kata nya sengaja buat menakut-nakuti Atha.
Atha hanya memutar bola matanya males, dia tidak akan takut cuman karena hal itu, “kagak akan terjadi, lagian Lo pikir gue kayak Lo. Belum nikah aja udah hamilin anak orang”
“Sialan lo!” Max langsung kena mental lagian kenapa harus disebut juga, dia kan jadi malu walaupun terkadang suka malu-maluin.
“Coba deh Lo ingat, udah berapa kali terong Lo masuk lubang anak orang, kerjaan Lo nebar benih terus sana-sini, kagak capek apa?!” Atha kadang ngomong suka benar, Max jangan ditanya anak itu hanya menggaruk tengkuk belakang.
__ADS_1
“Ck, ngapain bahas kesana sih, gue kan cuman bilang tidur diluar tadi!” kesal juga dia dibuat nya, untung sayang.
“Lah suka-suka gue dong, mulut-mulut gue!” sewot Atha sembari membuang puntung rokok nya dan pergi meninggalkan Max yang sedang merendam rasa kesal.
“Mau kemana lo?”
“balik, mau ketemu bini!” sahut Atha yang sudah berjalan keluar.
“Ck, mentang udah punya bini sombong” Degus Max, “kayaknya pernikahan gue ama Monalisa harus dipercepat deh biar kagak ngiri lagi gue kan!” Lalu Max memilih berdiri menghampiri Monalisa dan calon abang ipar sama calon mama mertua nya.
🌼🌼
20.30 Malam.
Disini mereka sekarang di mansion kediaman Albert. Kecuali Wulan, Zex dan Monalisa, mereka dibawa Max kerumah orang tuanya. Sebenarnya bisa saja mereka langsung kembali kediaman Georgio tapi karena keadaan masih belum membaik, Arya melarang.
Jeon dan Alfredo masih dalam tahanan bawahan Arya sampai luka yang dibuat Tirta dan Harley sedikit membaik maka baru diserahkan pada pihak kepolisian karena tidak ingin mengotori tangannya lagi membunuh kedua human itu jadi lebih baik ditangani pihak berwajib.
“Jadi kapan kalian membawa calon menantu Daddy, disini hanya kalian berdua yang belum menikah!” kata Arya saat pertama kali membuat kedua pria jomblo itu tersedak air liurnya sendiri.
“Dad, jangan tanyakan itu lagi kami masih belum memikirkan untuk berumah tangga” ucap Harley mewakili abang nya Tirta. Bukannya senang Tirta malah melirik sang adik jengkel, “kita, Lo aja kali! Gue mah udah ada” ledeknya tidak terima disamakan.
“Yang benar aja, sejak kapan Lo punya cewek selama ini gue liat kagak pernah tuh dekat ama cewek mana pun, ngehalu aja lo!” Harley memandang Tirta sinis.
“Cih...sok tau Lo!” cibir Tirta sama sinisnya. Sedangkan Arya hanya geleng-geleng kepala mendengar perdebatan ke-dua nya, apalagi bahasa nya, lama-lama bosan juga dia menegur.
“Sudah, kalian ini kalo sudah berdebat pusing Daddy jadinya” Arya memijit kepalanya pura-pura pusing.
“Ehehe...pusing ya Dad, sini Ley pijitin!” cengir Harley, lalu beranjak dari tempat duduk pindah ke belakang sang Daddy dan langsung saja memijit kepala Daddy nya. Arya tentu saja menerima dengan senang hati.
Tirta hanya mencibir dan memilih memainkan Laptopnya.
“Eh...tumben banget nih!” seru Alisya membawa minuman dan beberapa cemilan dan kue dari dapur, diikuti Luna di belakangnya.
“Mungkin ada maunya tuh!” Luna ikut nimbrung. Orang yang di omongin hanya diam tidak peduli.
__ADS_1
“kak Atha sama bang Mike mana Dad?” tanya Luna saat tidak menemukan suami dan abang iparnya, karena setaunya mereka tadi ada disana.
“Iya ya, kemana tuh dua human!” Alisya baru sadar tidak melihat suami tercinta nya.
“Oh...Mike pergi keluar, tadi Aleta merengek minta jajan. Kalo Atha mungkin diruang kerjanya” jawab Arya.
Luna mengangguk, lalu membawakan minuman ketempat suaminya.
...
“Kak diminum dulu nanti lanjutin kerja nya” kata Luna saat telah memasuki ruangan kerja suami nya.
“Iya bentar sayang”
“Kak gimana keadaan Mona?” tanya nya karena tidak terlalu jelas mendengar cerita yang lain sebelumnya. Atha yang sudah menghentikan kegiatannya beralih duduk dekat istrinya.
“Ya gitu, dia syok banget tapi enggak sampai parah sih”
Luna mengangguk mengerti, “terus kapan acara pernikahan mereka, apa dipercepat? Apalagi aku dengar Mona udah isi”
“Hahh...dari mana kamu tau tentang itu, perasaan aku belum pernah cerita deh!”
Luna mendegus, “emang aku tau harus dari kamu gitu, kan ada kak Alisya sama yang lain”
“Ehe...maaf sayang” Atha tersenyum lebar tak lupa mencuri kecupan manis di bibir istrinya. Luna hanya mengerucut kan bibirnya sebal.
“baby nya enggak rewel kan” Atha mengelus perut datar istrinya, “kapan besar nya”
“Sabar dong kak”
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1