
“Zoy, Lo benaran marah sama gue” sekarang mereka berada di kantin, Luna benar-benar tak berdaya jika di diamin sahabat nya sendiri. Luna terus menatap Zoya yang duduk di depan nya.
“Sejak empat hari ini Lo selalu diamin gue, gue minta maaf karena udah buat Lo kecewa dan marah...gue benar-benar minta maaf!” ujar Luna dengan mata berkaca-kaca, bahkan Zoya saja tidak ingin melihat nya, hanya Zoya sahabat satu-satunya tapi sekarang sang sahabat kecewa padanya.
“Kal-“ ucapan Luna terpotong oleh gebrakan meja oleh Friska dkk.
Braaak...
“Dasar anak miskin! Gara-gara Lo semua nya jadi kacau, gue harus kehilangan 5M!” teriak Friska menatap Luna marah dan penuh kebencian.
Seisi kantin menatap kearah meja Luna, mereka hanya menatap kasihan karena sudah hampir setiap hari mendapatkan pembullyan yang di lakukan Friska dkk.
Luna yang dalam keadaan tidak baik, memberanikan diri membalas tatapan Friska.
“Maksud Lo apa nuduh gue hahh! Muak gue liat orang sok berkuasa kayak lo, Lo pikir Lo siapa hah, seenak nya bully gue, LO EMANG GAK OTAK MAU JUAL GUE...LO PIKIR GUE BARANG...UDAH PUAS LO SELAMA INI HINA GUE, BULLY GUE...GUE BUKAN CEWEK PELACUR KAYAK LO ANJIIING!!” Luna benar-benar emosi, selama ini ia menahan diri untuk tidak melawan tapi tidak sekarang.
Mereka tercengang mendengar ucapan Luna bahkan Zoya ikut terkejut.
Muka Friska memerah dengan kasar ia menarik rambut Luna, “BERANI LO LAWAN GUE! APA KARENA COWOK WAKTU! JANGAN LO PIKIR GUE TAKUT BANGSAT!”
“dan Lo bilang apa kita pelacur...kalo gue pelacur Lo *****!” Friska terus menarik kasar rambut panjang Luna, teman-teman malah ikut-ikutan.
Luna menangis dan meringis, “l-lepasin s-sakit...hiks...hiks...”
“Hahaha...sakit ya... makanya jangan sok berani” kinan dan Riya tertawa mengejek.
Tidak ada yang berniat menolong, karena tidak ada gunanya juga, walaupun ada yang merasa iba tapi tak berani melawan Friska yang di kenal Queen bullying. Apalagi dia juga putri donatur terbesar di sekolah tersebut.
“seret dia!” perintah Friska yang langsung dituruti teman-teman nya.
“Lepasin gue!” Luna terus memberontak dengan sesenggukan, namun tenaga nya kalah dari mereka. Luna benar-benar merasa tak berdaya sahabat nya saja tidak mau membantu lagi.
Zoya mengepal tangannya kuat, ia tak terima sahabat nya di perlakukan seperti itu lagi. Buru-buru Zoya mengejar mereka.
“Maafin gue Lun!”
Zoya terus menyusuri lorong sekolah, sampai di gudang belakang, samar-samar ia mendengar suara tangisan dan rintisan yang ia yakini Luna.
“Lo tau gara-gara Lo kita dapat luka ini” geram Friska mencengkram dagu Luna kuat sambil memperlihatkan luka lembam di pipi dan lengannya pada Luna, begitu juga teman-temannya.
Luna terlihat bingung dan menggeleng cepat, ia benar tidak tau.
“jawab *****...Lo ada hubungan apa sama cowok waktu itu...pasti ini ulah dia kan...”
“Tapi tidak masalah...kita bakal balas ke elo!”
Plak
Plak
Bugh
__ADS_1
Suara tamparan, tendangan menggema dalam ruangan tersebut, Luna benar-benar kacau sekarang dan beberapa berkas tamparan di pipinya, sudut bibirnya berdarah. Bahkan tubuhnya terasa remuk akibat tendangan Friska.
“A-am-mpun...s-sa-kit...hiks...hiks...Re-han” Luna meringkuk kesakitan di atas lantai kotor tersebut, air mata tak berhenti untuk mengalir, yang ada di pikirannya sekarang Rehan, dia butuh Rehan.
“ups...sakit ya...maaf ya, tapi kita gak ngerasa” ejek Friska sangat puas.
“Hahaha...makanya jangan coba-coba ngelawan kita...kan jadi gini” Mereka ketawa puas, sungguh menyenangkan sekali melihat Luna menyedihkan.
Braakk...
Namun, tawa mereka harus terhenti mendengar pintu di tendang dari luar.
“FRISKA BANGSAT...LEPASIN SAHABAT GUE!” mereka kenal suara itu, siapa lagi kalo bukan Zoya, anak itu sudah kesetanan mencoba mendobrak pintu.
“Ada pahlawan kesiangan ternyata, ya udah biarin aja dia temuin sahabat tercinta nya ini, hahaha!” cibir Friska dan mengajak teman-teman keluar, dari Zoya juga telah berhenti mendobrak pintu.
“Dasar gak punya hati, gue sumpahi lo pada dapat Karma!” sentak Zoya sangat kesal, namun hanya di balas cibiran dan ejekan dari mereka.
“Mending bantuin aja sana dari pada mati nanti!”
Zoya hanya bisa menahan emosi dan langsung melewati mereka masuk ke dalam.
“Cabut gusy...” mereka mengikuti Friska meninggalkan gudang tersebut.
Sedangkan dalam gudang, Zoya menangis melihat Luna, “Lun, maafin gue, gue emang sahabat yang gak berguna...hiks... seharusnya gue gak cuekin Lo...maafin gue!”
Luna yang masih setengah sadar tersenyum mendengar ucapan Zoya, ia cukup senang ternyata sahabat masih peduli terhadapnya.
...
Sampai di rumah sakit, Zoya tak lupa menelepon Rehan sebagai suami ia harus tau.
Sedangkan di sisi lain, Rehan yang akan berkunjung ke mansion keluarga kandungnya saat mendapatkan kabar dari Zoya ia langsung membatalkan.
“Dad...keknya aku gak bisa datang hari ini!” Rehan benar-benar merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, kau pergi lah lihat menantu Daddy” Arya mengerti karena ia juga dapat kabar dari salah satu bawahannya tanpa sepengetahuan Putranya.
Rehan sedikit lega, “makasih Dad...”
Arya hanya mengangguk, lalu memasuki mobilnya dan meminta Yanto menghantar ke rumah sakit yang di katakan Zoya.
Setelah melihat mobil putranya jalan, Arya segara menatap Anton tajam.
“berikan pelajaran lebih keras kepada anak-anak itu!” perintah Arya dingin.
“Baik tuan!”
“Ternyata belum cukup pelajaran dua hari yang lalu” seringai Arya. Berani sekali mereka melukai menantunya.
🌼🌼
__ADS_1
“bagaimana keadaan Luna?” tanya Rehan pertama kali sampai di depan ruangan rawat Luna.
Zoya menghela nafas, “lo gak perlu terlalu khawatir luka nya udah di obati... dokter udah kasih obat penenang mungkin bentar lagi Luna bangun” Jelas Zoya dengan raut sendu. Rehan lebih memilih menghampiri Luna yang sedang terbaring di brankar.
“Bajingan siapa yang berani melukai bini gue!” Rehan sangat geram saat melihat pipi dan sudut bibir Luna terluka, bukan hanya itu lengan Luna juga ikut memar.
Rehan benar-benar marah, “apa masih ada yang lain!” tanya Rehan dingin tanpa mengalihkan pandangan dari Luna.
Zoya meneguk ludah nya, dengan gugup menjawab, “hm...i-itu perut Luna juga sempat di tendang beberapa kali”
Dengan sigap Rehan melihatnya ternyata benar terdapat beberapa memar.
“Ceritakan semua nya!” titah Rehan dingin dengan tatapan menajam membuat Zoya jadi takut.
“Jadi begini...” Zoya menceritakan semuanya dari awal Luna dapat perlakuan tak baik dan pembullyan Friska dkk terhadap Luna. Semuanya diceritakan tanpa ditutupi karena sudah seharusnya Rehan tau.
...
“jadi sudah sering Luna di perlakukan seperti ini! Kenapa para guru dan kepala sekolah gak menghentikan!” Rehan benar-benar geram, ternyata istrinya sering mendapatkan kekerasan di sekolahnya.
“mereka tidak berani karena Friska anak donatur terbesar disekolah”
“Cih... benar-benar sekolah anjiing...” Rehan benar-benar jijik.
Segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan menghubungi Daddy nya.
“Dad...apa Daddy bisa membantu ku!”
“Ada apa son? Apa ini tentang istri kecilmu itu!”
“benar, aku ingin Daddy ambil alih sekolah itu, aku tidak mau pembullyan ini terulang lagi!”
“Serahkan pada Daddy mu ini...”
“Terima kasih dad”
“Kau putra ku sudah menjadi kewajiban ku sebagai seorang ayah”
Rehan hanya tersenyum mendengarnya, setelah panggilannya dimatikan ia kembali menyimpan ponsel nya dan memandang Luna lama.
Sedangkan Zoya yang mendengar percakapan Rehan tampak kebingungan dan penuh keingintahuan.
“Daddy... berarti Rehan udah ketemu keluarga kandungnya dong...! Gue kan jadi kepo” batin Zoya, tapi tidak berani langsung bertanya. Mungkin sebelum nya ia berani terang-terangan tapi semenjak Rehan sudah menikah dengan Luna ia sedikit tak berani apalagi mengingat Rehan waktu marah benar-benar bikin takut.
BERSAMBUNG....
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1