
“Sudah waktunya mengakhiri semuanya!” Arya berdiri dari kursi kebesaran nya dan membawa langkahnya keluar. Diikuti Anton dibelakang-Nya.
Malam ini Arya akan bereaksi karena barusan ia mendapatkan kabar baik dari Tirta dan Harley.
“Adik, ayah semoga kau tenang dialam sana. Hari ini Arya pasti akan membalas semua perbuatan mereka, sudah waktunya mereka mendapatkan balasan apa yang sudah mereka perbuat”
Arya memandang keluar jendela mobil yang sekarang telah di kendarai Anton sendiri.
...
Sedangkan disisi lain di kediaman keluarga Georgio terlihat semuanya sedang berkumpul di ruangan keluarga usai makan malam.
“Mas, bagaimana keadaan perusahaan kita!” Wulan pertama kali bersuara bertanya pada suaminya yang sedang fokus membaca koran.
Mendengar pertanyaan itu semua nya ikut menoleh kearah Alfredo, “Hah... sekarang sudah mulai membaik tapi tetap saja tidak seperti dulu lagi. Mulai sekarang lebih baik kita harus belajar sedikit berhemat”
Mereka disana tentu saja dibuat kaget kecuali Zex yang sudah mengetahui dari awal.
“Yah...kok gitu sih, aku kan harus shopping tiap hari Pa” Monalisa tampak tidak terima, mana bisa ia berhemat seperti yang dikatakan papanya.
“Iya mas, kamu tau kan kebutuhan princess banyak banget” Wulan ikut mengomentari. Sedangkan Tirta dan Harley hanya diam saja menjadi pendengar.
“Sayang kamu harus belajar berhemat mulai sekarang, keluarga kita tidak sekaya seperti dulu lagi...” Alfredo menatap putri nya tajam
“Benar, bahkan perusahaan besar lain nya menolak kerja sama dengan perusahaan kita!” Zex ikut menambahkan dengan nada lesunya.
“Bagaimana dengan kakek” Tirta akhirnya bertanya saat sejak tadi hanya diam.
Terdengar helaan nafas berat dari Alfredo, “Apalagi kakek kalian, semenjak kemalingan waktu itu papa sering mendapatkan dia termenung sendirian” seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Mereka hanya bisa mendesah pelan, Wulan mengusap lembut bahu suaminya, dia tau apa yang dirasakan suaminya.
“Sabar mas, aku yakin semuanya pasti ada jalannya. Yang terpenting kamu harus tetap tabah dan perbanyak sabar” Nasehat Wulan dengan nada lembut nya.
Zex dan Monalisa mengiyakan nasehat mama mereka. Berbeda dengan Tirta dan Harley mereka hanya memandang sang papa dan mama dengan pandangan sulit diartikan.
“Mau sampe kapan mama bersikap seperti itu pada orang yang telah menghancurkan kebahagiaan mama sendiri!”
Tiba-tiba saja terdengar deringan dari ponsel milik Tirta.
__ADS_1
“Siapa bang!” tatapan semuanya beralih kearah Tirta saat mendengar pertanyaan Monalisa.
“kayanya teman, bentar aku angkat dulu” Tirta membawa langkahnya keluar dari ruangan tersebut. Mereka hanya mengiyakan saja berbeda dengan Harley dia yakin pasti bukan teman dimaksud Tirta.
“Jangan-jangan Daddy lagi, apa sudah mau dimulai” Harley membatin. Namun dia tetap memilih pura-pura tidak peduli karena tidak ingin yang lain curiga.
Dor
Dor
Tiba-tiba saja terdengar suara tembakan menggema dari lantai bawah membuat mereka semua terlonjak kaget.
“Pa...apa yang terjadi!” Wulan dan Monalisa tampak ketakutan, sedangkan Alfredo, Zex dan Harley bergegas turun ke lantai bawah ingin melihat siapa pelakunya. Siapa yang berani menyerang dan membuat keributan di mansion nya malam-malam ini, pikir Alfredo.
Sesampai dilantai bawah, mereka menemukan beberapa orang berpakaian serba hitam sedang memegang sebuah senjata api. Bahkan para pengawal sudah banyak yang tumbang tapi tidak berdarah.
“SIAPA KALIAN!” rahang Alfredo mengeras karena amarahnya, dia yakin mereka hanya membuat para pengawal nya pingsan tanpa niat membunuh.
“Anda tidak perlu tau siapa kita? Karena malam ini keluarga Georgio harus ikut bersama kami!” ucap salah satu dari orang berpakaian hitam tersebut dengan nada datar nya.
“BAJINGAN! BERANINYA KALIAN BERLAKU KURANG AJAR PADA KELUARGA KAMI!” Zex sangat marah sekali saat ingin maju untuk melawan namun dirinya sudah langsung dihentikan oleh suara orang itu lagi dengan penuh ancaman.
“Kepung mereka, lalu seret keluar!” perintah nya pada yang lain, yang mana langsung dilaksanakan mereka.
“SIALAN! JAN...” teriakan Alfredo harus terhenti karena sebuah anak bius melekat ke lengannya. Yap mereka memang membawa senjata api tapi isi nya bukan peluru asli namun obat bius. Sengaja tidak menjatuhkan korban karena itu sudah perintah atasan mereka.
Monalisa dan Wulan hanya menunggu ketakutan diatas, namun beberapa detik ini mereka tidak mendapatkan balasan apapun dari yang lain.
“Ma, papa sama abang kok belum balik juga! Apa yang datang musuh besar kita”
“Mana mama tau sayang, mama aja masih disini sama kamu” kesal juga Wulan dengan pertanyaan sang putri.
“Ck, truus gimana dong” Monalisa terlihat gelisah sekali begitu pun Wulan. Namun berselang kemudian muncul Tirta menghampiri mereka dengan santai seperti tidak ada yang terjadi. Melihat siapa yang datang tentu saja membuat mereka lega.
“Tirta/Abang”
Tirta tersenyum, “mama sama princess tidak usah khawatir, semuanya tidak seperti yang kalian pikirkan”
“Terua suara tembakan tadi” tanya Monalisa masih tidak percaya.
__ADS_1
“Oh...itu udah abang beresin sama papa dan yang lain, sekarang lebih kamu sama mama ikut ke bawah”
Wulan dan Monalisa tampak saling pandang, lalu berikut nya mereka mengangguk saja karena penasaran juga siapa sudah membuat keributan malam-malam begini.
Beberapa saat kemudian, begitu sampai dilantai bawah mereka tidak melihat hal ganjal apapun hanya saja tidak ada para penjaga menjaga seperti biasanya melihat itu membuat mereka merasa aneh.
“tirta, kemana para penjaga di sini? Papa sama Zex dan Harley mana” mendengar pertanyaan Wulan membuat Tirta sedikit gugup namun tetap memberikan jawaban sebaik mungkin.
“Oh...itu mereka keluar tadi enggak tau mau ngapain!”
Kening Monalisa berkerut bingung, “tumben, emang mau kemana mereka” begitu pun Wulan dibuat makin bingung tidak biasanya suaminya itu pergi tanpa memberi alasan.
Sedangkan Tirta hanya mengedikkan bahunya tidak tau, eh... maksudnya pura-pura tidak tau.
Tiba-tiba saja netra Monalisa melihat seseorang yang mana membuat nya kesal. “Max, sejak kapan dia kesini bang” Degus nya tidak suka. Sedangkan Max yang baru saja masuk hanya menampilkan senyuman menawan nya.
“Eh, Max dari tadi ya” Wulan tersenyum lembut melihat calon mantu nya.
“Barusan ma” sahut Max.
“Sudah, kita pergi sekarang” ujar Tirta membuat Max mengangguk sedang kan kedua wanita berbeda usia itu hanya menatap mereka heran.
“Mau kemana?”
“Maaf ma” Tirta langsung saja menyuntikkan obat bius pada mamanya termasuk sang adik. Lalu mereka membawa mereka keluar dari mansion tersebut memasuki mobil.
Mereka tak menyangka rencana ini berjalan dengan lancar tanpa perlu ada korban jiwa. Karena mereka hanya ingin melukai orang-orang yang bersalah.
“Gue yakin setelah ini Mona pasti bakal terpuruk sekali” ujar Max yang sedang sibuk mengelus rambut halus kekasih nya.
“Iya Lo benar, tapi mau gimana lagi! Kalo kita enggak lakuin semua ini, kebusukan mereka pasti nggak akan terbongkar sampai kapan pun!”
Max hanya menghela nafas panjangnya, semua yang sudah terjadi tidak bisa di rubah lagi, dan hanya penyesalan yang akan datang.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1