Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 89


__ADS_3

Beberapa tahun berlalu...


“Mamiii... liat sepatu aku nggak!” Teriak seorang gadis remaja dari lantai atas.


Membuat seorang wanita yang sedang berkutat di dapur menghela nafas.


“Cari aja ditempat biasa, ada tuh!” balas wanita yang dipanggil mami tersebut.


“Gak ada mii” Wanita itu terpaksa menghentikan kegiatannya dan menyusul anak gadis nya yang berada di kamar nya.


Sampai di kamar anak gadisnya itu, “Ini apa sayang, kalo ncari tuh yang benar” omelnya saat menemukan sepatu sekolah, sedangkan si empu malah cengengesan.


“Ehehe...kok aku gak liat tadi ya”


“bilang aja malas nyari, dah ini pakai nanti telat. Ini udah jam tujuh lho tapi kamu masih santai aja, dasar” Omelnya lagi menatap garang anak gadisnya itu.


“Bukan gitu mami. Lagian aku juga uda biasa telat kok. Mami gak tau aja putri mu yang cantik ini sangat populer di sentero sekolah jadi gak masalah terlambat” Oceh gadis remaja itu dengan santai nya tanpa ada beban.


“Serah. Tapi awas aja kalo kamu buat ulah lagi, mami gak mau tau kamu harus pindah sekolah ditempat abangmu!” Ucap nya bermaksud memperingati anak gadisnya sebelum berbalik keluar.


“Yah...kok gitu sih mi, aku gak mau satu sekolah sama bang Al” Ia menggerutu kesal.


“Mami gak peduli” jawab sang mami sedikit berteriak karena sudah keluar dari kamar nya.


Gadis remaja itu yang tak lain adalah Aurelia Queensley Albert, yang sudah menginjak usia 17 tahun dan wanita tadi yang tak lain adalah Luna.


Usai memakai sepatu nya, ia buru-buru keluar menuruni tangga satu persatu. Sampai di ruangan makan ia hanya melihat Papi dan Maminya.


“Morning All”


“Morning sayang” balas mereka.


“Abang mana mi” tanyanya setelah ikut duduk.


“Masih nanya kamu, udah berangkat lah. Emang kamu udah setengah lapan aja baru mau otw” Jawab Luna dengan nada kesal.


“Ehehe...maap mi” Aurel hanya menyengir kuda sembari memakan nasgor yang sudah di siapkan maminya. Ia tidak tersinggung karena emang itu kenyataan.


“Kamu nggak bikin ulah lagi kan” Itu suara Atha setelah menyelesaikan sarapannya menatap intens sang putri.


“Kalo kemarin enggak Pi, nggak tau kalo nanti” jawab nya santai. Yang mana membuat Atha menghela nafas panjangnya. Dia bingung, sebenarnya siapa yang ditiru putrinya ini, padahal dulu waktu remaja ia tidak se bandel ini, apalagi istri nya. Aurel itu sangat nakal, bandel. Tidak pernah mengikuti aturan sekolah, bahkan hampir setiap hari masuk ruang BK. Sering kali mendapatkan surat panggilan, kadang para guru mengeluh. Tapi mereka juga tidak bisa mengeluarkan Aurel gitu aja, sebab Aurel itu sangat pintar dan jenius. Makanya mereka tidak mau mengeluarkan Aurel. Apalagi mengingat Aurel juga dari keluarga Albert, mana berani mereka.


Berbeda dengan abang kembarannya, Al itu sangat disiplin karena dia menjabat sebagai ketua OSIS di sekolah nya. Dia juga tidak bisa mengawasi sang adik karena mereka berbeda sekolah. Itu pun permintaan Aurel sendiri, Al sendiri sebenarnya tau alasannya tapi ia juga tidak bisa memaksa keinginan adik kembarannya tersebut.


...


“Yaudah mi, pi Aurel berangkat ya” Ucap nya sembari menyalimi kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Iya hati-hati sayang, jangan ngebut”


“Nggak janji mi” teriaknya setelah sampai di luar. Luna hanya geleng-geleng kepala mendengar nya.


“aku juga berangkat ke kantor sayang” Ucap Atha. Luna membalas dengan senyuman tak lupa salim. Atha juga tak lupa memberikan kecupan sayang di kening sang istri.


“Hati-hati sayang. Jangan pulang kemalaman” yang hanya dibalas satu jempol oleh Atha.


...


Aurel sudah sampai di depan gerbang sekolah dengan motor kesayangan nya. Kebetulan sekali gerbang baru akan ditutup. Buru-buru ia menerobos masuk. Yang mana membuat pak satpam terkejut.


“Astaga! Kebiasaan untung saya gak punya riwayat jantungan” Gumam pak satpam sembari mengelus dadanya. Dari motor nya saja ia sudah tau siapa pemiliknya. Sudah dibilang Aurel itu terkenal.


“Hufff...moga aja kagak ada si Jamet” ucapnya pelan usai memakirkan motor dan membuat helm full face nya.


Sebelum melangkah, ia celingak-celinguk memastikan apa ada yang liat, “Aman” sat tak melihat apa yang dicari nya. Lalu melanjutkan langkahnya memasuki koridor sekolah, tujuan kelas.


Tak butuh waktu lama, ia sampai di depan kelas 11 IPS1, dengan tak akhlak nya ia menendang pintu tersebut.


Brak


Membuat seisi kelas mengeluarkan sumpah serapah karena kaget, begitu juga seorang guru wanita yang masih terbilang muda sedang mengajar.


“Maaf saya terlambat bu” Ujar Aurel dengan nada tak bersalah nya. Membuat pandangan seisi kelas mengarah padanya. Mereka juga tidak terlalu kaget saat melihat siapa pelakunya.


“Sorry bu, refleks saya mah. Lagian siapa suruh tutup pintu kan jadinya saya tendang”


“Sekarang jam berapa? Kenapa kamu baru masuk Hah” Menatap tajam muridnya tersebut.


“Cuma lima menit doang kok bu” Sautnya dengan santai bahkan sudah berjalan ke arah bangkunya yang berada di bagian pojok belakang.


Mata guru tersebut melotot, “siapa suruh kamu jalan Hah!”


“Kok marah sih bu, saya kan cuma mau duduk. Capek berdiri. Sekalian mau belajar” jawab setelah mendudukkan bokongnya.


Sedangkan guru wanita tersebut tidak tau harus berkata apa lagi, “baiklah. Untuk hari ini saya maafkan, tapi jika besok-besok masih terlambat di jam saya, tidak usah masuk” Ya mungkin sekarang ia biarkan saja. Mengalah.


“Kalo kayak gini kan cantik, murid cantikmu juga gak perlu susah-susah jemuran” Aurel berkata dengan senyuman manisnya. Yang mana membuat muka si guru sangat masam. Ingat! Dibandingkan para guru lainya dia adalah yang paling penyabar menghadapi siswi nakal seperti Aurel.


Semua penghuni kelas tersebut hanya bisa menahan tawa saat melihat raut wajah sang guru, kasihan juga. Apalagi mendengar kata-kata Aurel yang kelewatan santai.


“Yasudah kita lanjutkan”


Di saat semuanya memperhatikan ke depan, beda lagi dengan Aurel ia malah molor dengan buku paket ditenggakkan di atas meja guna untuk menutupi nya, Itulah sebabnya ia memilih bangku bagian pojok belakang biar mudah melakukan apapun. Memang dasar anak kurang akhlak.


🌼🌼

__ADS_1


“Bang, Lo ambil es krim gue ya” Aldebara yang lagi duduk di sofa main hp terpaksa menoleh mendengar tuduhan adik kembaran nya.


“Gak dek” jawabnya singkat, perlu diketahui Aldebara itu orang nya pendiam banget, tegas dan lembut tidak seperti Aurel. Bahkan banyak yang tidak menyangka jika mereka kembaran selain wajah yang tak ada mirip-mirip nya sifatnya juga berbeda jauh.


“Ck, jangan boong bang, kalo bukan Lo siapa lagi yang ambil” Cetus Aurel yang sekarang menghempaskan bokong di samping Al dengan wajah cemberut.


“Mungkin diambil tuyul” jawabnya setelah mengalihkan pandangannya pada ponselnya kembali.


“Lo kali tuyul ntu” Degus Aurel lalu bangkit dari duduknya.


Al hanya melirik sekilas tanpa menjawab apapun.


“Kenapa sayang muka kok cemberut gitu” tanya Atha yang baru menuruni tangga bersama istrinya.


Aurel yang akan menaiki tangga menjawab, “lagi kesal sama tuyul” lalu melanjutkan langkahnya. Sedangkan kedua pasutri itu hanya menaikkan alisnya bingung. Dan memilih bertanya pada putranya.


“Adikmu kenapa sayang” Tanya Luna yang sekarang sudah duduk di samping putranya.


“Pms kali” jawabnya asal.


Mereka hanya terkekeh mendengar nya. Sebenarnya mereka sudah mendengar sedari tadi di atas tangga tapi memilih  diam saja.


“Sekolah kamu gimana? Gak ada masalah kan” tanya Atha yang sudah memegang sebuah koran.


“Baik Pi. Aman kok” Al sudah tak meletakkan ponselnya diatas meja.


Atha mengangguk, puas mendengar nya. “Oiya... rencana papi sama mami mau pindahin adik mu, gak sanggup papi lihat kelakuan adikmu yang bandel itu. Sakit kepala papi...”


“Benar tuh. Dia terlalu di biarkan bebas di sekolahnya, bukannya berubah malah makin menjadi” tambah Luna bersungut-sungut.


“Hm... dengan ada nya kamu bisa ngawasin Aurel tiap hari”


“Kapan Pi” Al tentu saja senang bakal satu sekolah dengan adik nakalnya itu, dengan begitu ia bisa menegurnya.


“Belum tau, mungkin habis Minggu ini. Kita lihat dulu, jika ada surat panggilan lagi”  Al hanya mengangguk mantap.


“Tapi Pi, nanti kalo Aurel gak mau”


“Ini sudah keputusan Papi.  Dulu papi biarin karena papi nggak nyangka dia akan se bandel ini”


“Bagus sayang. Aku suka gaya mu” Luna tersenyum lebar sembari memberikan satu jempol nya, kedua lelaki berbeda usia itu hanya terkekeh melihat nya.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT

__ADS_1


__ADS_2