
Plak
“Apa yang Lo lakuin? Dimana otak lo, mau bunuh anak Lo sendiri!” Davin melayangkan sebuah tamparan pada Dona adik kembarnya.
Dona menatap abang kembarnya tak percaya, “b-berani Lo tampar gue, maksud Lo apa Hah! Kapan gue mau bunuh anak gue!” Sentak Dona tak kalah keras nya.
Pipi nya bahkan masih terasa panasnya, tamparan Davin memang tidak main-main, untung giginya gak sampai copot.
“Terus kenapa? Jangan karna Lo adik kembar gue terus gue gak berani lakuin! Lo tuh memang harus di kasih pelajaran biar kapok”
“Bajingan!”
Davin hanya berdecih, “lo pikir gue gak dengar Lo ngomong apa tadi Hahh! Jangan coba-coba Lo berbohong sama gue”
Seketika Dona terdiam, tidak salah lagi ia memang berencana akan menggugurkan kandungannya, karena ia tidak akan sudi hamil muda apalagi tanpa ayah.
“Lo gak ngerti apa yang gue rasain sekarang! Gue gak mau hamil muda apalagi tanpa ayah. Lo pikir gue sanggup Hah!” air matanya runtuh begitu saja, Dona itu akan lebih takut pada abang kembarnya dari pada ayahnya sendiri. Sifat keras nya tidak akan bisa bertahan lama jika Davin sudah terlanjur marah.
Melihat adiknya menangis Davin tidak merasa tersentuh sama sekali karena ia sudah terlanjur marah, jika terus di lunak kan kelakuan nya malah semakin menjadi maka itu lebih baik di keras kan.
“tidak perlu menangis, semuanya itu juga kesalahan Lo sendiri kan, jadi buat apa Lo bilang gitu atau Lo nyesel sekarang, udah basi”
Dona menggeleng ribut sambil memegang lengan Davin memohon, “g-gue mohon Lo harus dukung gue buat gugurin, gue belum siap punya anak!”
“Masih berani Lo minta dukungan sama gue, ingat sampai kapan pun gue gak bakal izinin, kalo sampe itu terjadi awas aja habis Lo sama gue!” emosi juga ia jadinya, apa adiknya ini tidak mengerti bahasa larangan.
“Terus gimana, Reno aja gak mau tanggung jawab apalagi mama gak sudi”
“Gue kan udah bilang, gue sendiri yang akan cari cara buat nikahin lo sama bajingan itu!”
“Dan gue yakin papa juga bakal setuju” Lanjutnya karena yakin si tua bangka itu mencari informasi tentang Reno dan ia yakin papanya itu tidak akan bisa menolak lagi.
“Sudah lah, lebih baik lo renungi baik-baik apa yang ingin Lo lakuin itu dosa besar!” Davin menepuk pelan pundak sang adik, lalu keluar dari kamar itu.
Sedangkan Dona seketika terduduk dengan tatapan kosong nya, dosa ya! Jika masalah dosa jangan ditanya, bahkan sejak dari dulu ia sudah banyak dosa dan menjadi pendosa.
“Aarggh...bisa gila gue!” pekik nya sembari menggusur rambut nya frustrasi.
...
Davin yang akan keluar langkahnya terhenti karena panggilan dari papanya.
“Davin!”
“Kenapa Pa?” saut nya sembari berbalik menoleh kearah papanya. Sandi menghampiri sang putra dan memeluk nya secara tiba-tiba membuat Davin terkaget dan bingung.
__ADS_1
“Eh...ada apa nih, tumben banget papa peluk Davin!” memandang papa nya dengan alis naik-turun, bukannya ia tidak tau tapi hanya pura-pura tidak tau.
Sandi malah tersenyum lebar, “Tidak udah pura-pura tidak tau, papa yakin kamu sudah mencari tau nya dari awal makanya mengatakan hal tersebut pada papa” katanya dengan nada males, putra nya ini pandai sekali berakting.
Davin hanya tersenyum tipis, “Salahkan saja pikiran bodoh papa tidak memastikan terlebih dahulu” ucap nya dengan santai.
“aish...sudah sudah, papa harus segera membicarakan hal ini pada mama mu, kita harus secepatnya menemui keluarga Reno, papa sudah tidak sabar memiliki menantu kaya raya!”
Davin hanya menatap datar papanya, terlihat sekali matre nya, apa masih kurang kekayaan nya ini. Walaupun tidak terlalu kategori orang terkaya tapi masih tetap termasuk kaya juga.
“Pa, lebih kurangi sifat matre papa itu, jangan nanti malu-maluin didepan calon besan papa”
Senyuman Sandi seketika luntur mendengar ledekan putranya, “kau ini membuat papa kesal saja, lagian siapa juga yang tidak senang memiliki mantu orkay, kalo ada muna mah yakin papa”
Memutar bola matanya males, “Ck, serah papa. Dah, Davin mau ketempat teman ngerjain tugas” Pamitnya.
“Baiklah, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam”
“Iya pa” Davin memasuki mobilnya, sedangkan Sandi kembali ke dalam.
🌼🌼
Di tempat lain.
Tampak seorang pria muda merenung di balkon kamarnya sambil menyesap sebatang rokok.
“Gimana keadaan dia? Apa gue brengsek banget karna udah ninggalin dia dalam keadaan berbadan dua!” katanya dan bertanya entah pada siapa dengan pikiran melayang memikirkan seseorang yang namanya masih terukir di hatinya.
“Hahh... seandainya kedua belah pihak saling mendukung dan merestui hubungan kita pasti kita bakal bisa bersama sampai sekarang” Membuang puntung rokok nya dengan tatapan berubah sendu. Bukannya dia tidak ingin bertanggung jawab tapi permasalahannya dari kedua orang tuanya.
Tok
Tok
“Reno, ini bunda sayang! Bunda boleh masuk” terdengar suara seorang wanita paruh dari balik pintu kamarnya, membuat pria bernama Reno tersebut tersadar dari lamunannya.
“masuk aja Bun” Reno juga berbalik ke kamarnya dan menutup balkon tersebut.
“Ada apa Bun?” tanya nya saat melihat wanita yang melahirkan nya itu telah masuk.
Renata, bundanya malah memandang putra sulungnya itu sembari mengajukan pertanyaan balik, “kamu itu yang kenapa? Bukannya malam ini kamu harus berangkat ke Singapura, ini sudah jam delapan lho!”
Ah iya, dia baru ingat, “Maaf bun, Reno kelupaan, ya udah Reno ganti baju dulu”
Renata hanya geleng-geleng, sebenarnya apa yang dilakukan putranya ini sampai melupakan hal sepenting itu.
__ADS_1
“Ya sudah, bunda tunggu di luar”
“Iya Bun” Renata berbalik keluar dari kamar putranya.
Sehabis keluar dari kamar putra sulungnya, Renata membawa langkahnya ke ruangan keluarga disana sudah berkumpul keluarga kecilnya.
“Reno mana bun” tanya Renaldy, ayah Reno.
“Anak kamu itu, kalo aja aku gak ingatin mungkin dia gak bakal jadi berangkat” seru Renata setelah ikut duduk.
“lah kenapa Bun” bukan Renaldy, dia Jihan adik perempuan Reno satu-satunya.
Renata menggeleng, “gak tau bunda”
“Jangan bilang dia mikirin wanita itu lagi” kata Jihan dengan nada tidak suka.
“Maksud kamu wanita yang waktu itu, kekasih abang mu itu” tanya Renaldy yang langsung dibalas anggukan oleh Jihan.
“Iya siapa lagi, lagian kenapa sih abang bisa berhubungan sama wanita matre kayak gitu mana gak ada sopan-sopan nya lagi. Aku tuh udah kenal banget ama sifat aslinya secara kan dia teman sekelas aku dulu”
Renata tampak tidak suka mendengar perkataan putrinya, “sudah bunda bilang tidak sebut-sebut wanita itu lagi, bunda gak bakal mau punya mantu selain Naya, cuman dia yang boleh jadi istri abang mu!” Kedua anak dan ayah itu hanya menghela nafas mendengarnya, lagian mereka juga setuju.
Tidak tau saja Reno mendengar semuanya, tapi hanya memilih diam. Dia sudah sering mendengar nya.
“Lagi ngomongin apa nih” ujarnya pura-pura tidak mendengar melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti menghampiri mereka.
Pandangan mereka teralih kearah Reno, “Owh...tidak ada, sudah kamu harus berangkat sekarang nanti bisa ketinggalan pesawat” jawab Renaldy dengan cepat tidak ingin membicarakan hal tadi lagi.
Reno hanya mengangguk.
“Jihan juga ikut” pekikan nya saat melihat mereka akan pergi.
“Katanya tadi gak mau ikut ngantarin abangnya”
“Kapan aku bilang gitu bun, salah dengar kali. Lagian Abang lama disana jadi aku harus antarin sampe Bandara”
Reno hanya mendengus mendengar nya, “gaya kamu, biasanya juga paling males pas di ajak”
“Biarin wlee!” meletakkan lidahnya. Reno hanya geleng-geleng kepala, sudah besar tapi kelakuan kayak bocah.
Walaupun begitu, dia sangat menyayangi adik manjanya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT