Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 58. Kesalnya Monalisa


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dengan muka datar Monalisa bergegas pergi mencari Max si biang masalahnya. Lihat saja dia akan membuat perhitungan pada pria bajingan itu. Tidak akan sudi dia menganggap bajingan itu sebagai sahabat nya lagi.


Namun, di perjalanan dia malah dapat panggilan dari Sisi dan mau tidak mau dia memilih menemui sahabatnya itu duluan, “Lo kenapa Lis, apa ada masalah lagi? bukannya pernikahan lo ama Max udah di tunda! Ini juga muka kenapa pucat gini sih!” Sisi bertanya dengan nada heran nya sembari mengelus pipi tirus Monalisa.


“Oh...gue tau nih pasti Lo patah hati lagi ya, udah berapa kali gue bilang Lis...mending lupain aja perasaan Lo ama Atha yang udah jadi laki or...!”


“Bukan beb” Monalisa yang sudah bedmood langsung saja memotong tuduhan Sisi.


“lah terus kenapa?” Sisi yang awal berdiri kembali duduk ditempat semula. Posisi nya sekarang mereka berada di sebuah kafe dan itu milik kakak Sisi sendiri.


Muka Monalisa semakin muram dengan mata berkaca-kaca, entah kenapa ia jadi mudah cengeng akhir-akhir ini, Ah...dia ingat mungkin hormon kehamilan nya.


“Hiks...hiks...si, g-gue...” Sisi jadi gelagapan sendiri mendapatkan sahabat nya menangis begini, tidak seperti seorang Monalisa sesungguhnya.


“aduh...Lo kenapa jadi nangis gini sih beb! Gue cuman tanya doang, salah lagi gue” Sisi yang panik mengambil tissue dan mengelap air mata sang sahabat, kan ia jadi ikut sedih.


“Si...M-ax si...hiks...” Monalisa menangis sesenggukan.


“Hah...Max, ada apa sama Max? Apa terjadi sesuatu ama Max!?” bingung juga dia kan sahabat nya ngomong setengah-setengah mulu dari tadi.


“M-max...”


Kesal juga ia jadinya, “iya gue tau, Max kenapa? Mending henti in dulu tangisan Lo baru lanjut cerita nya!”


Monalisa mengambil tissue untuk mengelap ingusan nya yang udah terasa penuh, lalu membuang ke tong sampah yang kebetulan berada dekat mereka duduk.


“Si...gue mau ke tempat Max duluan nanti gue cerita in” kata nya yang sudah akan beranjak membuat Sisi yang sedang menyedot minuman hampir saja di buat tersedak.


“Hahh...kok gitu sih” Sudah cukup Sisi benaran di buat kesal ama sahabat satunya ini, untung sayang.


Monalisa sudah ngacir duluan tanpa menoleh lagi. Karena tujuan awalnya ingin menemui Max tapi harus tertunda karena sahabat nya dan sekarang ia tidak peduli bodoamat jika Sisi kesal padanya sebab yang lebih utama itu Max, si bapak jabang bayi dalam rahim nya.


“tumben cariin Max, bukannya benci lah sekarang...wahh, gue tau nih pasti tuh anak udah mulai sadar ama perasaan sebenarnya” Sisi memicingkan mata seraya tersenyum misterius.


Puk


“Dek, ngapain Lo senyum sendiri, nggak waras Lo!” dia kakak sisi pemilik kafe tersebut karena bingung melihat tingkah adiknya langsung saja ia samperin.


Sisi tentu saja kaget, dan melirik kakak nya kesal, “kakak apaan sih pakai ngagetin orang segala”


“Yee...lagian ngapain bertingkah kaya gitu. Dah sana mending kamu balik kerumah, mami nyariin” kata si kakak.


“Iya iya... tunggu bentar napa”


“serah, tapi jangan sampe lama takut si macan ngamuk dan kakak enggak mau tau” si kakak memasuki ruangan nya meninggalkan Sisi yang sedang menggerutu sendiri.


🌼🌼

__ADS_1


Di sisi lain, Atha bersama Luna baru saja kembali dari rumah sakit habis melakukan pemeriksaan kehamilan Luna. Dan dari hasil pemeriksaan dokter kandungan, usia kandungan Luna baru saja berusia seminggu. Tentu saja membuat kedua mereka senang bukan main.


“Kak kita ketemu leta aja ya” sekarang mereka masih berada dalam mobil perjalanan pulang. Atha yang awalnya fokus ke depan seketika menoleh kearah istrinya.


“Bukannya Daddy mau ketempat kita pasti bakalan ada leta” Kalo Alano bocah itu sudah balik lagi bersama kedua orang tuanya ke Korsel.


“ih...enggak, pokoknya aku mau kesana titik!” kesalkan, dia kan cuman pengen kesana langsung lagian apa sulitnya sih tinggal antar kesana bentar enggak jauh juga.


Atha mengalah, dia tidak ingin membuat bumil marah dan berakhir ngambek, “iya sayang, jangan marah ya” seraya mengangkat satu tangannya mengelus kepala istrinya.


“kamu mau apa lagi?” tanya nya karena biasanya pasti bakal minta hal lain.


Mendengar, Luna menoleh kearah suaminya dengan bibir mengerucut sebal, ternyata masih kesal toh. Atha malah terkekeh pelan.


“Enggak mau apa-apa, mau nya cuman ketemu leta” tukas nya dengan bersedekap dada masih dengan manyun. Kan Atha jadi pen gigit, eh...salah cium maksudnya.


“Ngapain manyun gitu minta di cium ya” sengaja menggoda istrinya.


“Isshh...mesum kamu, cium mulu isi kepalanya” cibir Luna mendelik sebal.


Dengan alis bertautan Atha menjawab, “lah apa salahnya coba, kan cuman mesum ama Istri, boleh-boleh aja kok malah harus diwajibkan!” usai berkata Atha tersenyum sembari mengedip-ngedipkan matanya nakal. Sedangkan Luna, jangan ditanya dia hanya menatap suaminya sinis, “Enggak usah kegatalan deh, makin tua malah makin minus mesum nya”


“Mending fokus aja nyetir enggak usah mikir aneh-aneh, awas aja kalo sampe nabrak!” Mood bumil itu emang tidak bisa ditebak tadi aja ambekan sekarang malah marah-marah.


“iya...lagian siapa juga mikir aneh-aneh”


“Enggak tau” cetus Luna membuat Atha hanya menghela nafas dengan pelan. Dia tidak marah, karena maklum mood bumil suka berubah-ubah, sensian lagi.


Di kantor perusahaan Harrison's Group.


Tampak Monalisa memasuki gedung besar itu dengan langkah lebarnya. Sebelumnya sudah ia cari ke apartemen tapi orang tidak ada dan karena memilih ke kantor tersebut karena yakin Max berada di sana.


Langkahnya berhenti tepat di depan ruangan resepsionis dan menatap wanita berdandan menor itu dengan tajam, “apa Max ada diruangan nya!”


Bukannya menjawab, resepsionis berkata dengan kesal, “maaf anda siapa ya? Berani sekali anda menyebut nama bapak Max dengan tak sopan”


Mendengar nya, malah membuat Monalisa geram, “bukan urusan Lo, mau gue siapa pun? Mending sekarang jawab aja pertanyaan gue!” lagian apa wanita itu buta atau tidak pernah melihat televisi, masa seorang Monalisa saja tidak tau, ck... dasar kudet. Dandanan aja udah kaya nyai ronggeng.


“Ck, pak Max lagi sibuk jadi tidak bisa menerima tamu wanita seperti anda” jawab wanita itu dengan sinis.


Beberapa pekerjaan di sana sudah mengenal siapa Monalisa dan hubungan nya dengan Max tapi bagi yang masih baru tentu saja tidak tau. Contoh nya saja wanita resepsionis itu.


“Cari masalah” Monalisa yang sudah kesal langsung saja menarik-narik kasar rambut panjang wanita tersebut membuat si wanita terpekik.


“Aarrghhh...dasar wanita gila” yang lain melihat itu tentu saja di buat panik bahkan dari mereka langsung saja memanggil satpam untuk memisahkan mereka.


“Mampus Lo, siapa suruh buat gue kesal Hah!” Monalisa terus melakukan aksinya tanpa peduli dirinya sudah menjadi tontonan.


“Cepat pak lerai mereka”

__ADS_1


“Aduh gimana ini? Pak Max sedang meeting pula”


“Kalo enggak salah itu kan mbak Monalisa dari keluarga Georgio”


“Iya kau benar, dia juga memiliki hubungan dekat dengan pak Max, mampus lah kita” berbagai bisikan heboh terdengar dari beberapa karyawan bekerja di sana.


“Wanita sialan! Lepaskan rambut saya!” resepsionis itu benar-benar dibuat kacau dan meracau panik. Tenaga Monalisa bukan main.


“Siapa suruh buat gue kesal Hahh! Gue bakal buat gundul rambut buluk Lo” Bahkan pak satpam saja kesusahan melerai mereka tepatnya melerai Monalisa yang sudah seperti orang kerasukan.


Beberapa saat kemudian terdengar suara besar seseorang membuat orang-orang disana jadi tegang dan lega secara bersamaan.


“Ada apa ini” Namun, bola matanya membola saat melihat seseorang.


“Oh...tuhan!” Max, ya dia Max berkata dengan cepat berlari kesana membantu pak satpam menarik Monalisa.


“Sayang, sudah hentikan!” dengan sekali tarikan Max berhasil menjauhkan Monalisa.


Wanita resepsionis itu sudah menangis ulah Monalisa, “Huaaa...pak wanita ini udah gila” adu nya dengan wajah menyedihkan tapi tidak membuat Max merasa kasihan sedikitpun.


“Siapa yang kau bilang gila Hah! Kau di pecat” ucap Max mutlak, berani sekali mengatakan wanita nya gila.


Wanita itu tercengang, “A-apa pak, kok malah saya yang di pecat, seharusnya wanita gila itu bapak usir bukan saya, Pak!” Namun Max memilih acuh dan membawa paksa Monalisa yang sedang memberontak itu ke ruangan nya.


“Aaarrghhh... gara-gara wanita gila itu, sial!sial!”


Sedangkan yang lain melihat keadaan si resepsionis hanya menatap kasihan. Tapi tak seberapa juga yang biasa saja karena sudah tau siapa seorang Monalisa. Dan tadi apa mengatakan gila lagi, tentu saja membuat bapak Max marah.


Ck, kasihan sekali anda!


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


 



MAX



TIRTA



HARLEY

__ADS_1



RERE


__ADS_2