Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 70. Bodoh


__ADS_3

“Dona, kamu dari mana aja sayang! Mama nggak mau terjadi apapun padamu, mama juga mau minta maaf karena udah buat kamu marah!” Dona yang baru saja masuk hanya berdecak saat mendapatkan pelukan mendadak dari mamanya.


“Nggak udah lebay deh ma, aku tuh cuman keluar sehari doang biasanya seminggu aja mama biasa aja, kenapa sekarang jadi berlebihan gini sih...itu juga gak guna juga mama minta maaf kalo enggak bisa buat Reno kembali!”  melepaskan secara paksa pelukan nya dan pergi ke kamar, mana peduli lagi ia dengan kesedihan mamanya, palingan nanti juga memaksanya membunuh benih ini.


Santi memandang punggung putrinya sendu, apa segitu marah nya sampai berbicara kasar begitu padanya, “Sayang, kenapa kamu masih menyebut laki-laki itu lagi, padahal dia udah buat kamu seperti ini tapi tidak mau bertanggung jawab!”


“Ma, kan udah Davin bilang nggak usah tangisin Dona lagi, anak itu nggak bakal dengar, dia itu keras kepala” Davin yang sejak tadi melihat semuanya dari jauh berjalan mendekati mamanya dengan kata-kata penuh kekesalan.


Santi menggeleng ribut, “mama nggak bisa liat kondisi putri mama kayak gitu Davin, apalagi kamu dengar kan omongan para tetangga, mereka terus saja ngomongin keluarga kita, dan semua itu karna ulah adik kembaran mu!”


“Iya itu mama tau, terus ngapain mama pakai minta maaf segala, mending kasih siraman rohani biar nggak malu-maluin nama baik keluarga kita, dan dia bisa berubah lebih baik” Entah ia bingung sekali dengan jalan pikir mamanya ini, kadang jadi males ia mendengar nya.


“Tapi mama nggak bisa sayang, disini Dona paling tersakiti karna laki-laki bajingan bernama Reno itu, kamu sih dari awal enggak pernah dengar perintah mama buat jauhin mereka, dia itu tidak selevel dengan kita. Dan sekarang apa, hal yang nggak kita inginkan terjadi juga! Mama nggak mau punya cucu dari benih anak miskin itu!”


Astaga!


Kenapa mama nya ini semakin lama makin bodoh, padahal dulu pintar banget. Apa mungkin karena udah makin tua.


“Terus maksud mama mau bunuh cucu mama sendiri!”


“Ma, coba mama pikir emang Dona mau pacaran sama laki-laki miskin, dari dulu putri mama itu hanya mendekati laki-laki dari kalangan atas bukan kalangan bawah, dan mama terus berpikir dia anak miskin, Davin tanya sama mama, memang mama udah cari tau tentang keluarga nya, jangan cuman mama nilai dari luar aja, nggak semua orang kaya itu memperlihatkan kekayaannya!”


Sejak memasuki jenjang lebih tinggi, ia sudah banyak belajar apalagi tentang menilai orang, menyinggung orang tidak boleh sembarang. Bisa saja orang yang kita anggap biasa itu ternyata orang yang sangat luar biasa.


“Ma, coba deh mama ubah pikiran bodoh mama itu! Apa mama lupa dulu mama juga mengatakan hal sama pada Luna bahkan mama memaksa dia menikah dan sekarang apa? Ternyata laki-laki itu salah satu tuan muda keluarga kaya bahkan sudah miliarder, jadi Davin mohon tolong ya mama berpikir lebih baik sekarang!”


Tampak Santi terdiam sejenak mendengar semua siraman rohani dari putranya sendiri.


“Kok kamu nyalahin mama sih, bukannya waktu kamu juga sama”


Davin mendesah pelan, “waktu aku masih labil ma, ya bodoh mungkin. Tapi sekarang aku udah lebih dewasa, aku udah banyak belajar lebih baik dari apa yang mama sama papa ajarkan!”

__ADS_1


“K-amu...”


“Udah ya ma, Davin capek habis presentasi, mending mama pahami semua kata-kata aku tadi biar pikiran jadi lebih jernih!”


Sungguh, Santi tidak menyangka akan seperti ini, apa ia tidak salah dengar putra nya dulu penurut dan se pemikiran dengan nya malah berkata yang tidak seharusnya.


“Ya tuhan, apa dia benar-benar masih putra ku!” Santi linglung terlihat seperti orang bodoh.


...


Malam harinya.


Sekarang mereka lagi melakukan makan malam bersama, Sandi juga sudah pulang bekerja.


“Pa, nanti ada yang mau aku omongin sama papa!” kata Davin setelah usai menghabiskan makanan nya.


Sandi menatap putranya bingung begitupun kedua wanita itu.


“Iya, kenapa cuman sama papa aja, mama nggak boleh tau!” Santi ikut mengomentari, ia masih ingat kata-kata putranya itu tadi siang, sampe sekarang masih belum percaya ia.


Davin menggeleng mantap, “nggak bisa, ini hanya urusan Davin dengan papa. Mama tidak boleh tau, sebelum mama merubah sikap buruk mama!”


Suapan Santi seketika berhenti mendengar perkataan tajam Davin, begitu pun Sandi dan Dona memandang bingung kearah Santi dan Davin bergantian.


“Emang mama kamu berbuat apa sampe kamu ngomong begitu! Perasaan papa sikap mama kamu gitu-gitu aja!”


“emang, papa pun sama!” setelah itu, Davin bangkit dan pergi gitu aja. Sedangkan Dona tampak berpikir keras entah kenapa ia merasa ada hubungan dengan nya.


“Apa yang gue dengar tadi siang itu nggak salah kan!” batinnya karena sempat mendengar percakapan Davin sama mamanya walaupun kurang jelas.


Buru-buru menghabiskan makanan, lalu menyusul Davin.

__ADS_1


Sedangkan sepasang suami istri itu masih saling pandang disana. “ma, aku benar belum ngerti, maksud Davin apa sih?” Sandi jadi bingung memikirkan nya. Istri ini bukan nya jawab malah diam kayak orang bisu.


“aduh...mama sakit perut pa, bentar ya!” Santi meninggalkan makanan nya yang belum habis dan beralasan sakit perut segala.


“Kenapa malah menghindar segala, fiks...ada yang tidak beres nih!”


🌼🌼


Davin masuk ke dalam ruangan kerja papanya.


“Pa!”


Sandi menghentikan pekerjaannya beralih memandang putranya, “kamu mau ngomong apa?”


Davin duduk di kursi depan papanya sambil menghembuskan nafas beberapa kali seraya menatap papa nya agak datar.


“Davin cuman mau bilang, lebih baik papa nikahin Dona sama Reno, laki-laki yang udah hamilin dia!” kata Davin tanpa bertele-tele lagi.


Sangat terlihat raut wajah Sandi berubah tidak suka, “Tidak bisa, papa tidak akan pernah mau memiliki menantu miskin, untuk kandungan Dona tinggal gugurin aja selesai kan jadi buat apa kamu berpikir kesana segala. Memang kamu mau punya hubungan dengan orang miskin...hayo lah itu tidak selevel dengan kita”


Ini yang ia tidak sukai, “papa sama saja dengan mama. Papa gila ya, mau bunuh anak enggak berdosa, apa papa nggak punya perikemanusiaan sama sekali!”


“Eh...eh...sejak kapan kamu berani bicara keras didepan papa Hahh!”


Namun, Davin tidak takut, “kenapa? Papa mau marah. Davin nggak takut karena Davin cuman bilang kenyataan nya. Dan papa itu sangat bodoh. Papa bilang Reno miskin, emang papa tau siapa keluarga nya, apa papa pernah cari tau tentang dia, enggak kan!”  Davin menggeleng kepala heran, “Apa selama ini papa enggak mengenal putri papa sendiri, dia mana mau dekat sama orang miskin!” katanya lagi dengan nada sinis.


Karna merasa percuma berbicara lagi, ia memilih keluar. Tidak ada gunanya juga berbicara dengan tua bangka bodoh itu.


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


__ADS_2