
Prang...
“Kenapa bisa terjadi! Jangan sampai karena hal ini keluarga kita jadi bangkrut” Jeon mengamuk melemparkan sebuah gelas kearah Alfredo. Untung saja hanya terlempar kearah samping nya tidak melukai Alfredo.
“Kakek jangan seperti ini, ini semua bukan keinginan kita” Zex takut kakek nya sampai melukai papanya, kakeknya itu sangat emosional jika sudah marah sangat susah dikendalikan.
Disana juga ada Tirta dan Harley serta mama mereka. Mereka berkumpul di rumah besar sang kakek. Mona sendiri tidak tahu anak itu kemana.
“Sudahlah kek, lagian juga tidak akan membuat keluarga kita bangkrut, bukannya itu hanya setengah” ucap Tirta dengan tenang, dia terlihat santai sekali tanpa ada kecemasan seperti yang lain kecuali Harley juga terlihat biasa saja.
Mereka menatap kearah Tirta heran, “apa maksud mu setengah hah! Kenapa kau terlihat santai begitu Tirta, jangan kamu pikir itu hanya sedikit, itu sama saja membuat keluarga kita bangkrut. Bahkan sampai sekarang pelaku nya saja belum diketahui!” Jeon benar-benar marah tidak tau seperti apa jalan pikir cucunya itu.
“Tirta kau jangan membuat suasana semakin memanas, kau lihat kakekmu sedang marah besar” Alfredo berucap menatap putranya itu dengan tajam.
“Kau juga! Semua ini salah mu, dasar tidak becus” Jeon membentak Alfredo membuat mereka yang disana menunduk apalagi Alfredo.
“Kek, sudah lah kau jangan selalu menyalahkan papa. Jangan selalu menyudutkan papa” Harley ikut berbicara dia cukup kesal dengan sang kakek.
“Memang ini salah papa mu! Cari pelakunya sampai ketemu, ayah tidak mau tau orang itu harus segera di tangkap tapi jika itu berhubungan dengan keluarga Albert hentikan dulu, kita akan membalas lebih dari apa yang dilakukan pada kita” perintah Jeon dengan tegas tanpa boleh dibantah.
“Ayah tenang saja, aku pasti akan mencari orang itu” Alfredo sangat ingin sekali menembak mati orang itu karena sudah membuat dirinya kesusahan ditambah mendapatkan amarah dari sang ayah.
“Cucu kesayangan ku mana? Kenapa dia tidak ikut dengan kalian” siapa lagi kalo bukan Mona yang ditanya sang kakek.
Mendengar pertanyaan sang kakek mereka menggeleng, “tidak tau kek, mungkin dia lagi jalan-jalan bersama teman-teman nya” saut Harley mewakili yang lain.
“Yasudah, kalian boleh pergi jangan membuat ku marah lagi”
“Kakek kau mengusir kita” protes Tirta tidak terima.
“sepertinya kita tidak dianggap lagi” Harley ikut nimbrung dengan tampang sok sedih membuat yang lain ketawa.
“jangan berkata sembarangan, kau seperti tidak memiliki pekerjaan saja, sana pergi. Kakek ingin rehat tidak boleh diganggu” Mereka mendegus mendengar perkataan sang kakek. Dengan wajah jelek mereka beranjak dan keluar dari rumah tersebut.
...
Ditempat lain, tepatnya di kantor Atha, dia dipusingkan dengan kedatangan Mona tiba-tiba, wanita itu benar-benar tidak bosan mengganggu nya. Bahkan terang-terangan ingin mendekati nya.
__ADS_1
“Ada apa lagi! Ada keperluan apa sampai nona sendiri mendatangi kantor saya!” kata Atha datar tanpa melirik Mona sedikitpun karena terlalu malas hanya untuk sekedar menatapnya. Jangan lupakan Atha juga memerintahkan Tio berjaga di depan pintu, dia tidak ingin sampai Mona melakukan hal nekat.
“Tentu saja ingin bertemu dengan mu” jawab Mona dengan senyuman centilnya sambil melangkah dengan pelan ingin mendekati Atha.
Atha menyadari nya dan langsung berucap dengan dingin, “tetap disana, jangan lancang ingin mendekati saya!” Namun bukannya membuat Mona berhenti tapi malah semakin mendekat.
“TIO!” Suara Atha semakin dingin dan meninggi ia sudah muak dengan wanita tak tau diri ini.
“Saya tuan”
“Seret wanita ini keluar dari ruangan saya, jangan sampai saya melihat mukanya lagi”
“Baik tuan” Mona yang merasa kan tarikan itu memberontak dan berteriak kesal.
“Lepaskan! Atha kenapa kamu berubah? Aku hanya ingin dekat dengan mu, apa kamu telah melupakan aku sebagai kekasih mu!” Mona terus berteriak dan memberontak ingin lepas namun tenaga Tio lebih kuat.
Atha hanya bodoamat dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Para karyawan melihat siapa yang ditarik Tio hanya mencibir.
Mona merasa malu sekali dengan dongkol ia pergi membawa mobilnya. Ia benar-benar kesal kenapa sangat susah sekali mendekati Atha, tidak seperti dulu.
Ditambah papa nya juga memaksanya untuk menikah dengan Max, benar-benar membuat ia semakin kesal.
Sedangkan disisi lain, Max tertawa bahagia, dia sudah tak sabaran menikah dengan Mona karena memang itu keinginan nya selama ini. Lihat saja dia tidak akan pernah membiarkan Mona mendekati pria lain lagi.
“Mona...Mona, kamu tidak pernah bisa mendapatkan Atha lagi, karena kamu hanya akan jadi milikku”
“Dengan cara apapun akan ku lakukan hanya untuk memiliki mu dan jangan pernah bermimpi ingin menghancurkan rumah tangga Atha!” Max menyeringai sambil menatap foto Mona. Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Tok
Tok
“Masuk” setelah Max berucap pintu itu terbuka dan masuk seorang pria yang terlihat seumuran dengan nya.
“kawan, jangan bilang Lo kesurupan senyum senyum sendiri seperti orang gila!” kata pria itu dengan tatapan sok takut.
Terdengar degusan dari Max seraya melirik kearah temannya itu dengan kesal, “Ck... mengganggu saja, ada perlu apa tumben banget mau nemuin gue”
__ADS_1
Pria itu yang ternyata Tirta malah tersenyum tengil, “ada lah pokoknya, Lo kayak gak tau aja...jangan bilang Lo amnesia gara-gara natap foto adik gue!”
“Heh...adik, Lo yakin dia adik Lo” sinis Max membuat Tirta jengkel.
“Sewot aja Lo, bilang aja Lo irikan gue bisa lebih dekat ama pujaan hati Lo tuh” cibir Tirta tak mau kalah membuat Max memutar bola matanya melas.
“Dah, sekarang langsung ke intinya aja Lo mau ngomong apa” tanya Max tak ingin basa-basi lagi.
“Gue mau rencana kita dipercepat, Daddy sama yang lain juga sama apalagi si bontot, kita harus cepat! Apalagi bukannya Lo juga mau makin cepat sama Mona, dengan begitu semua nya selesai!” Jelas Tirta panjang lebar membuat Max tampak berpikir.
“jadi gimana?”
Setelah berpikir Max mengangguk setuju, “Ok, gue mah mau-mau aja”
“gini nih baru teman gue” Tirta memeluk Max namun langsung didorong Max balik. “Gak usah peluk juga kali, najis” ujar nya dengan muka sok jijik.
“Sialan Lo!”
“Harley mana? Kenapa kagak ikut sama Lo biasanya ngekor terus”
“Sibuk ama mantan”
“Sok sibuk” Tirta hanya mengedikkan bahu nya, “dah gue mau balik ada urusan penting”
Max malah berdecih mendengarnya, “gaya Lo sok penting, dah sana cepat pergi” usirnya. Membuat Tirta mendelik namun tetap keluar.
...
“Dad, apa tidak masalah kita serahkan semuanya pada mereka?” Mike memandang Daddy nya dengan keraguan.
“Kau jangan meremehkan mereka, apalagi adikmu Atha. Lagian Daddy tetap membantu, Daddy akan terus mengawasi mereka jadi kau tidak perlu cemas begitu”
Mike bernafas lega, “bagus kalo gitu”
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT