
“Ha-ha-ha, gak nyangka gue ternyata abang Lo separah itu La!” Ghina tertawa ngakak sehabis mendengar semua keluhan Aurel tentang Arthur menghukumnya.
Sekarang mereka sedang berada di UKS. Lebih tepatnya menemani Aurel yang lagi istirahat disana. Setelah usai menyelesaikan hukuman tadi Aurel diantar ke UKS karena merasa pusing. Dan kebetulan pas waktu jam istirahat jadi dia menghubungi mereka kesana.
“Baru tau Lo kak, dari dulu bang Ar itu galak banget. Gue aja sebagai adik sering di marahin apalagi modelan kak Aurel bandel minta ampun” Ucap Stella dengan suara santai.
“HM... benar sih, gue aja sejak sekolah disini sering liat Arthur ngehukum mereka yang melanggar aturan dengan keras bahkan lebih kejam dari Al si ketos” Maurel ikut membenarkan.
Aurel mengangguk pelan, karena ia sudah beberapa kali merasakan nya. Berbeda dengan Ghina walaupun ia tak jauh beda dengan Aurel tapi ia tidak segila Aurel yang sering melanggar aturan.
“Udah ah...gak usah bahas cowok es ntu lagi. Mending sekarang beliin gue seblak laper nih”
“di pikir kita babu Lo apa? Enak aja main perintah dah mending Lo ikut aja kantin” Degus Ghina.
“Lemas bestie” alay Aurel yang telah menjatuhkan tubuhnya ke atas brankar. Mereka memutar bola matanya melihat itu.
“Lo mah, untung teman” Maurel ikut berdecak sebal.
“yaudah, Lo mau minuman apa kak?” kini giliran Stella bertanya.
“Es teh aja deh, lebih seger” Stella mengangguk lalu segera keluar bersama Maurel dan Ghina.
Sambil menunggu mereka, Aurel memilih bermain ponsel. Bosan juga, tapi mau keluar males. Sebenarnya ia pusing bukan karena Arthur tapi karena datang bulan. Sudah biasa jika ia datang bulan akan begini, bawaannya pengen rebahan terus.
...
Di kantin.
Mereka bertiga telah memesan makanan masing-masing termasuk pesanan Aurel. Saat mereka akan pergi namun terhenti mendengar panggilan seseorang. Dan ternyata Afkar.
“Sini kak” Ghina yang tau dirinya yang dipanggil terpaksa berbelok ke arah meja Afkar, disana juga ada Arthur, Aldebara dan Aidan. Dan tepat di meja sebelah itu terdapat rombongan adik sepupu Aurel siapa lagi kalo bukan Nano sama Xeno.
“Apaan kar?” bahkan ia tidak terlalu peduli beberapa tatapan penasaran dari seisi kantin. Ini bukan pertama kali mereka tampak penasaran hubungan antara most Wanted boy dengan rombongan Aurel berandalan itu. Apalagi Gisell dkk mereka terlihat tidak terima melihat kedekatan mereka.
“Gak cuman mau ngajak lo duduk disini gue liat yang lain udah pada penuh” ucap Afkar dengan senyuman manisnya membuat para kaum hawa memekik heboh.
__ADS_1
“terus Aurel mana tumben gak sama kalian!” itu suara Al, sejak tadi ia terus meliarkan mata mencari adik kembarnya itu. Biasanya paling pertama datang ke kantin. Arthur juga belum memberitahu sahabat itu tentang Aurel yang berada di UKS.
“di UKS, lagi males jalan tuh anak” sahut Ghina agak sewot.
“Aurel kenapa?” Al mulai khawatir.
“Gak napa-napa tuh anak cuman capek aja habis menguras tenaga” saat mengucapkan itu Maurel sedikit tertawa. Afkar dan Aidan tampak bingung, menguras tenaga ngapain, kalo belajar mah udah biasa. Ada-ada saja kelakuan kakaknya itu.
“Eh...mending Lo sama Ella makan disini aja biar gue yang anter punya Aurel”
“Yaudah, Lo aja yang bawa” Maurel mengangguk pelan. Lalu ikut duduk bersama Stella tepat di sebelah Afkar karena hanya disana yang kosong.
Ghina berbalik pergi ke UKS sembari membawa mapan makanan. Salahkan saja sahabat laknatnya itu pakai acara malesan segala.
Di sisi lain. Sejak tadi Gisell, Bryna dan Freya sudah gatal melihat mereka.
“Apa menarik nya dari mereka? Pakai di ajak segala” Freya menghentakkan kakinya kesal.
“Gak tau tuh, kita aja dari dulu dekatin aja susah apalagi sampai duduk dekat mereka. Sialan! Kok bisa sih mereka sedekat itu” Bryna tak kalah hebohnya bahkan tangan nya telah mengepal melihat nya. Apalagi Gisell. Saat pertama kali cekcok dengan Aurel ia memang telah menganggap anak saingannya dan tentu saja sangat membenci nya termasuk ketiga sahabatnya itu.
“AUREELL...GHINAAA... KEMBALIKAN RAMBUT BAPAK!” Suara teriakan pak Agus menggema di koridor sekolah sembari berlari mengejar kedua murid kurang akhlak itu.
“HAHAHA...NANTI DEH PAK! KAMI MAU MINJAM BENTAR” Ghina dan Aurel tertawa ngakak melihat kemarahan pak Agus. Anak-anak lain geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka bahkan tak seberapa yang tertawa saat melihat kepala botak pak Agus. Sangat memalukan. Ternyata rambut yang selama ini hanya rambut palsu.
“Kalian murid kurang ajar, kembalikan rambut bapak”
“nanti aja pak, bapak lebih keren kalo botak” Hampir beberapa menit terjadi aksi kejar-kejaran antara murid dan guru sebelum akhirnya Aurel dan Ghina di panggil ke ruang BK.
Pak Agus Jangan ditanya dia sangat malu sekali. Bahkan dia sudah memendam dendam kesumat pada kedua anak didiknya itu.
Dalam Ruangan BK.
Keduanya telah duduk disana berhadapan dengan buk Sasa sebagai guru BK. Jangan lupakan disana juga ada Pak Agus sebagai korban kejahilan mereka.
“Aurel, Ghina sekali lagi ibu tanya kenapa kalian melakukan hal tersebut? Apa kalian tidak menghormati pak Agus sebagai guru kalian? Dimana sopan santu kalian Hah!” tatapan ibu Sasa sangat frustrasi melihat kedua murid tersebut. Ini bukan pertama kalinya lho.
__ADS_1
Aurel berdecak, “Aduh Bu, kami gak sengaja lagian salahin aja pak Agus siapa suruh jatuhin rambut palsu kan kita jadi kaget” ucap Aurel dengan santai sambil tertawa kecil.
“Iya Bu, lucu aja gitu liat pak Agus” Sahut Ghina tertawa lepas. Membuat pak Agus yang berada disana menahan kekesalan nya jika tidak ingat mereka anak didiknya sudah dia geplak.
Sasa geleng-geleng mendengarnya, “Kalian benar-benar tidak sopan, sekarang buruan minta maaf sama pak Agus” Sudah lah pusing dia menasehati keduanya, sampai mulutnya berbusa pun tidak akan membuat mereka berhenti.
“Jadi minta maaf aja nih Bu, kita gak dihukum kan” Aurel dan Ghina tersenyum cerah, kalo minta maaf doang mah gampang.
“Gak. Semuanya terserah pak Agus karena dia yang rasain” Seketika mereka terbelalak, kalo gini mah pasti bakal dihukum sama si botak.
“Kita minta maaf ya pak, di maafin ya pak soalnya kita emang gak betah kalo gak ada ngejahilin orang dalam sehari” ucap Aurel tanpa beban yang dianggukan oleh Ghina.
Pak Agus mendegus mendengar ucapan Aurel, emang ada alasan begitu. Untung dia orang nya sabaran.
“Sudah. Bapak bakal maafin kalian tapi dengan syarat kalian harus bantu bapak periksa tugas teman-teman kalian sampe tiga hari kedepan”
Hah
“Apa? Kok gitu sih pak. Masa iya kita disuruh periksa tugas sih, selain itu aja kan bisa pak”
“iya pak”
Bukan apa? Mereka itu paling males banget jika menyangkut tugas sekolah. Apalagi pak Agus ini guru matematika bisa pecah otak mereka.
“Suka-suka bapak dong, siapa suruh kalian jahilin bapak” ketus pak Agus.
Ghina dan Aurel mendegus dan mau tak mau mereka mengiyakan saja. Daripada disuruh bersihin WC ato lari keliling, capek njiir.
Keluar dari ruang BK. Mereka langsung pulang karena males masuk, nanggung tinggal setengah jam pelajaran lagi.
Dan mungkin nanti setelah sampai rumah bakal dapat omelan lagi apalagi Aurel. Sudah pasti bakal diomelin mami sama papinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT