
Di sebuah kafe terlihat dua wanita sedang berbincang-bincang dengan raut cemas dan khawatir. Mereka adalah Riya dan Kinan.
“Aduh gimana ini, gue gak nyangka Friska bakal lakuin hal tak sesuai rencana kita...gue yakin bentar lagi si Mona itu bakal marah” Kinan menghela nafas dengan kasar karena ulah sahabat nya.
“Mana gue tau dia bakal nekat gitu, udah dibilangin masih aja ngeyel. Dan sekarang entah kemana tuh anak...udah beberapa hari ini dia gak pernah nongol!” Riya mengutuk sahabat nya itu ditambah sejak kejadian itu dia kagak ada kabar lagi. Melarikan diri kali ya, pikir mereka.
“Pusing gue! Gue dengar bokap ama nyokap dia nyariin”
Kinan memandang Riya tak percaya, pasalnya hubungan Friska dan keluarga nya kurang baik semenjak aib Friska terbongkar.
“Lo serius ya... bukannya mereka enggak peduli lagi, terus buat apa cariin Friska”
Mengedikkan bahunya, “mana gue tau... mungkin kangen kali lagian mau bagaimana pun Friska itu putri satu-satunya!”
“Iya juga sih. Ck... untung aja keluarga kita gak terlalu marah...gak kayak Friska!” Kinan mengangguk setuju, bersyukur keluarga mereka tidak terlalu terpengaruh dan malah menganggap biasa saja. Tapi beda lagi Friska, keluarga nya Keluarga terpandang jadi wajar saja.
“Kin...”
“Apa?” Kinan mengerutkan keningnya saat melihat wajah pucat Riya, padahal tadi baik-baik saja.
“Napa dah, pucat amat tu muka...nahan berak Lo!”
“Bukan njiir” Riya menoyor kepala sahabat nya itu.
“Terus apaan” Jengah Kinan karena tak kunjung dijawab juga.
“Itu...kok gue jadi berpikir Friska dibawa mereka ya... soalnya gue yakin banget mereka tidak akan tinggal diam...kalo benar gimana dong, gue takut Friska diapa-apain nanti!” Mendengar itu, entah kenapa Kinan ikut berpikiran sama wajahnya juga ikutan pucat pasi. Namun, sesaat kemudian ia kembali biasa-biasa saja.
“Ya... bukannya dari dulu Lo emang gak suka sama Friska...dan sekarang kalo emang dia ditangkap keluarga Albert bukannya bagus. Dengan begitu Lo gak bakal disuruh-suruh lagi kek babu!” ungkap Kinan tersenyum licik.
“Eh...” Riya terkejut tapi apa yang dikatakan memang sepenuhnya benar.
“Heh... ternyata Lo ingat juga, tapi bukannya Lo juga sama. Mulai sekarang kita bebas mau ngapain, enggak ada lagi yang memerintah kita berlagak seperti bos” mereka tertawa bersama merasa sangat lega. Tidak ada yang akan menyangka tapi memang begitulah kebenaran nya, sejak dari awal berteman dengan Friska mereka selalu merasa tidak bebas dan selalu diperintah seperti babu, jangan berpikir mereka senang malahan mereka sangat kesal dan ingin menyumpahi Friska tapi mengingat siapa Friska mereka hanya diam saja dan mengikuti kemana pun Friska layaknya seorang sahabat.
__ADS_1
“Oiya...udah berapa lama Lo main sama Elang” Elang adalah pacar Friska saat bersekolah dulu, namun harus putus karena salah satunya merasa bosan. Tapi tanpa sepengetahuan Friska sahabat nya sendiri Kinan pacaran dengan Elang bahkan masih disaat hubungan mereka berlangsung.
Mendengar pertanyaan Riya, Kinan hanya tersenyum, “tentu aja masih berlanjut lagian Lo tau kan dia cinta mati banget sama gue bahkan dia rela bela gue dari pada nyokap nya sendiri” Kinan tertawa sinis.
“Njiiir...gak nyangka gue dia bakal segitu nya sama lo. Eh...tapi gue kok ngerasa kasihan ya sama Friska dikhianati sahabatnya sendiri!”
“Ck...kayak lo kagak aja. Bukannya Lo cuman mau duit dia doang” Kinan membalas ejekannya membuat Riya mendegus karena yang dikatakan sahabatnya itu tidak salah juga.
“Gue yakin kalo tuh anak mati arwahnya bakal ngamuk deh” Saat asyik tertawa dan mengejek Friska tiba-tiba saja ponsel salah satu dari mereka berdering.
“Siapa?” tanya Kinan sedangkan Riya mengedikkan bahunya tak tau. “Gak tau gue, enggak ada namanya”
“Oh...angkat aja mana taun penting” Tanpa membalas ucapan Kinan, Riya menekan tombol hijau.
“Ya... dengan siapa!”
“Ini gue...lo tau gak, gara-gara teman Lo rencana gue jadi gagal. Mulai sekarang Lo berdua kagak usah ikut campur lagi...gue gak mau rencana gue gagal lagi gara-gara orang bodoh seperti kalian!”
Baru saja akan menjawab tapi sudah dimatikan begitu saja, membuat Riya ikut kesal.
“Siapa?”
“Siapa lagi kalo bukan si Monalisa itu... lama-lama kesal gue ama tu anak” Kinan mengangguk setuju, dia juga tidak terlalu suka dengan Monalisa.
“Udah...gak usah di pikirin, yang terpenting sekarang kita pergi bersenang-senang aja daripada mikirin yang gak guna!” ucap Kinan santuy sembari beranjak dari tempat duduknya. Riya yang masih kesal hanya mengikut saja.
Mereka keluar dari kafe tersebut namun sebelum itu tentu saja mereka membayar minuman mereka.
...
Disisi lain, didalam sebuah tempat nan gelap dengan bau anyir yang menyengat terlihat seorang wanita tak lain adalah Friska terbaring lemah diatas lantai kotor tersebut. Dengan tubuh yang sudah luka-luka tanpa busana apapun dan wajah tak terbentuk lagi jangan lupakan kedua tangannya yang sudah puntung karena ulah Atha sehari yang lalu. Benar-benar menyedihkan.
“T-o-l-o-ng...” runtuhnya dengan suara sangat lirih, bahkan air mata telah mengering karena hampir tiap menit, jam dia menangis, rasanya pengen mati saja.
__ADS_1
“Aarrkkh...kenapa nasib gue jadi menyedihkan seperti ini, padahal gue cuman pengen balas dendam dan sakit hati gue... tapi malah jadi begini!” Teriak Friska dalam hati.
“Gue pengen mati aja hiks...!” Friska terus berteriak dalam hati. Saat ingin berteriak langsung tapi sangat susah sekali. Sekarang hanya penyesalan yang ia rasakan, sungguh ia menyesal. Tidak yang akan menolong nya, jika pun ada ia tidak akan ingin lagi hidup dengan keadaan seperti ini.
“L-u-na...ma-afin g-“ Belum selesai mengucapkan kata-kata nya dia malah langsung tak sadarkan diri.
Sedangkan ditempat lain tampak seseorang tertawa puas dan merasa sangat puas melihat Friska.
“Cih...itu masih belum seberapa dibandingkan yang telah kau lakukan!”
“Tha...apa kau masih belum puas menyiksanya” Terdengar suara seseorang dari arah belakang berjalan menghampiri Atha.
“Belum, aku akan membuat nya semakin menderita” Atha menatap layar laptopnya dengan dingin.
Seseorang itu yang tak lain adalah Sean hanya tersenyum tipis mendengar balasan adiknya. “Ini baru adik abang. Satu hal abang ingat kan kau harus menyelesaikan sampai ke akar-akarnya... karena menurut abang masih ada lagi yang ingin merusak rumah tangga mu!” ucap Sean masih dengan nada datarnya.
“Tumben ngomong panjang lebar bang biasa nya irit banget” ledek Mike yang baru masuk. Sean tidak menjawab, dia hanya menganggap angin lalu ucapan Mike barusan, membuat si empu mendegus.
“Dek mending Lo balik ke RS sana...apa Lo enggak kangen bini lo, dia udah sadar” kata Mike setelah mengambil koran dan duduk di sofa.
“Lo benar bang” Atha sangat bersemangat sekali saat mendengar istrinya telah siuman, dia kan kangen. Mike hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari koran ditangannya. Sedangkan Sean dari datar menjadi semakin datar, “Jangan percaya! dia berbohong” kata Sean menatap tajam sang pelaku. “Dan juga jaga cara berbicara mu jangan menggunakan bahasa tidak baik itu!” Peringatan Sean sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Mike hanya mencibir dalam hati tapi langsung cengar-cengir tak jelas saat mendapatkan tatapan maut sang adik.
“Sialan Lo bang” Karena kesal Atha menendang betis Mike tanpa belas kasihan Sedangkan Mike langsung mengaduh kesakitan.
“Adik Laknat Lo!” umpat Mike sembari mengusap betis nya yang kena tendang maut Atha. Dan Atha, anak itu telah berlalu keluar tujuan nya kerumah sakit walaupun Mike berbohong dia tetap kesana.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1