Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 66. Malu-maluin


__ADS_3

“Honey, Why?” Max menatap bingung wanita yang telah menjadi istri sah nya tiga hari yang lalu.


Monalisa menggeleng pelan namun tatapannya berbeda dari gerakan kepala nya, seperti menginginkan sesuatu. Membuat Max semakin dilanda bingung.


“Yakin, enggak mau ngomong sesuatu! atau kamu pengen sesuatu!” Max mengerti hormon wanita hamil sering berubah-ubah dan tidak menentu. Dan semua itu dapat ia lihat dalam tiga hari ini.


Monalisa hanya diam, tidak seperti seorang Monalisa biasanya. Melihat itu, Max menarik sang istri ke atas pangkuan nya sembari mendekap erat tubuh itu.


“Mau apa? atau mau jalan-jalan, mumpung kita masih di sini!” tanya nya sekali lagi, sekarang mereka berada di paris. Mungkin tiga hari lagi mereka akan kembali ke Indonesia.


Monalisa menoleh menatap lekat wajah tampan suaminya, sekarang baru sadar ia ternyata suami nya sangat tampan. Mungkin selama ini matanya terlalu dibutakan oleh cinta jadi tidak menyadari nya.


Max yang mendapatkan pandangan itu hanya menaikkan alisnya terheran, “Kenapa natap aku segitu nya? Baru sadar suami kamu ini ternyata melebihi batas ketampanan seorang pria!” tanyanya dengan ke PD an tingkat tinggi. Dan itu entah kenapa membuat malu sendiri juga ingin muntah mendengarnya.


“Cih...tampan dari mana, yang ada ilfil aku liatnya!” walaupun terkesan ketus tapi Monalisa tidak menggunakan bahasa Lo-gue lagi, bagaimanapun dia tetap menghormati dan menghargai suaminya. Soal rasa cinta dan mencintai memang ia belum yakin karena masih dalam tahap memulainya.


Wajahnya yang awalnya berseri-seri seketika berubah masam mendengar perkataan istrinya. Ternyata istrinya ini masih sama, mulutnya itu loh pedas sekali.


“Pedas sekali mulutmu wahai nyonya Harrison” Monalisa memutar bola matanya melas dan beranjak dari pangkuan Max, lalu pergi keluar. Posisi nya mereka berada di kamar hotel yang mereka sewa, sebenarnya bisa saja mereka pergi ke mansion milik keluarga Max yang berada disana namun, Monalisa menolak dan lebih memilih ke hotel. Max hanya mengiyakan saja, karena tidak masalah juga.


Max buru-buru berdiri dan menyusul istrinya, takut hilang nanti di culik, bisa berabe. Mana rela dia istri beningnya di goda lelaki lain.


🌼🌼


Di sebuah Restoran yang terbilang cukup mewah terlihat dua sejoli sedang menikmati hidangan sembari berbincang-bincang santai. Tanpa disadari ada seseorang di meja lain memandang mereka penuh tanya.


“Yang benar aja, sejak kapan mereka dekat banget” Rere, gadis yang berucap dengan tatapan masih terfokus kearah salah satu meja tempat dua sejoli yang sangat dikenali nya. Berbagai pertanyaan muncul di benak nya.


“Tapi emang sih pas pesta kak Lisa waktu itu sudah terlihat mencurigakan”


“Eh, kenapa Lo? Melamun aja!” seru seseorang yang baru mendudukkan kursi didepan Rere.  Rere tersadar dari lamunannya.


“cepat amat kak udah selesai berak Lo!”

__ADS_1


“Enggak jadi” Rere hanya berdecak mendengarnya, emang ada berak ditunda.


“Jadi kenapa nih? Gue liat Lo kayak lagi banyak pikiran, mikirin apaan lo, masa depan?!” tanya gadis yang dipanggil kakak oleh Rere.


“Bukan kak sisi, emang keliatan banget gue lagi banyak pikiran!” Yap, dia Sisi sahabat Monalisa sekaligus senior Rere waktu sekolah dulu, mereka juga kenal cukup dekat. Apalagi istri abangnya kakak kandung Sisi sendiri.


Mengedikkan bahunya, “terus kenapa? Gue enggak mau ya di salahin sama abang Lo karena biarin Lo melamun sampe kerasukan mbah kunkun!”


“Sialan Lo kak! Sembarangan aja Lo, gue kagak ngelamun Jainab tapi lagi liatin mereka noh...” kesal juga dia kan, lalu menggerakkan dagunya ke arah salah satu meja tak jauh di depannya.


“Hahh...” Sisi mengikuti arah tunjuk Rere, saat melihat siapa gerangan ia ikut tercengang dan kembali menoleh kearah Rere, “bukannya itu sahabat kamu dan...” Memicingkan matanya untuk mengingat satunya lagi.


“Iya, dia bang Tirta mantan kakak!” potong Rere cepat. Membuat Sisi terbatuk sendiri.


“Njiir...masih ingat juga Lo ya sama mantan gue!” kekeh Sisi. Rere malah mencibir, “ingatlah, dulu siapa yang nangis-nangis kejar karna di putusin sampe berencana gantung diri, untung ada gue disana kalo nggak udah mati kesasar Lo!” 


Malu juga dia, saat mengingat masa lalu lagian kenapa juga nih anak satu masih mengungkit nya lagi. “Re, Lo mah gitu suka banget buka aib gue! Sumpah deh gue benaran khilaf waktu itu!” ringisnya, bodoh banget dia waktu itu bahkan lebih bodoh dari Monalisa, sahabat nya.


“Ih... Rere kampret, udah gue bilang berhenti ngungkit masa lalu gue, nih malah makin menjadi-jadi”  Ingin sekali ia menjahit mulut lemas nih anak. Sedangkan Rere malah ketawa tanpa beban, senang dia melihat wajah kesal Sisi.


“Iya iya...maap nggak bakal lagi” Cengir nya seraya mengangkat dua jarinya. Sisi hanya mendengus sambil menyedot minuman nya.


“Samparin gih sana!” katanya karena tau banyak pertanyaan di kepala Rere. Menggelengkan kepalanya, “enggak usah deh, nanti dikira gue gangguin lagi. Besok aja gue tanya, gue yakin banget ini bukan hanya hubungan biasa tapi lebih dari biasa!”


“Mungkin udah jadian tanpa sepengetahuan Lo” kata Sisi.


“Bisa jadi, awas aja kalo benar habis tuh anak, pakai dirahasia in segala dari gue!”


“Gue yakin Luna juga belum tau”  Sisi hanya mangut-mangut santai saja mendengar ocehan Rere.


Sedetik kemudian, Rere menatap Sisi curiga sembari berkata, “Lo enggak ada rasa in ke anehan gitu!”


Menautkan alisnya bingung, “aneh apanya?”

__ADS_1


“Itu loh, bukannya sejak putus dari bang Tirta Lo enggak pernah dekat ama cowok lagi, dan secara tidak langsung Lo masih belum move on dong. Jadi Lo enggak ada ngerasa cemburu gitu!”


What!!


Langsung saja mata Sisi melotot, “sok tau Lo, siapa bilang gue enggak move on, malahan sebulan habis putus gue udah move on kali” Dia tidak segila itu juga kali, masa sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak melupakan parah benar mah.


“Lah terus kenapa gue enggak pernah liat Lo dekat cowok lagi!” ngakak juga ia melihat tampang nya.


“Ye...apa hubungannya coba, emang harus gitu, Lo sendiri masih jomblo sampe sekarang, gak sadar apa?”


Langsung kicep Rere mendengarnya, dia baru sadar ternyata dirinya juga sama, sama Jomblo.


“Yaelah...santai dong, canda gue mah, sensian amat lo!”


“Gimana nggak sensi gue, Lo sih nuduh tanpa tau sebenarnya...”


“Asal Lo tau kenapa gue enggak mau pacaran lagi, semua itu karena gue ingin fokus studi luan nanti kalo udah selesai baru deh mikirin kesana!”


Rere mengangguk mengerti, “tapi bukannya Lo udah nyelesain studi berarti udah bisa dong”


“Belum, gue mau kerja dulu baru cari laki”


“Dah lah, males gue lama-lama ngobrol sama Lo, yang ada bikin kesal mulu!” Lalu Sisi bangkit dari duduknya.


“Eh...mau kemana kak?”


“Balik” Rere berdecak, sekarang harus dia yang bayar. Meja tempat Tirta dengan Zoya tadi sudah kosong, baru sadar dia entah sejak kapan kedua makhluk itu pergi nya.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT

__ADS_1


__ADS_2