
Di Mall’S City.
Setelah menghabiskan waktu beberapa jam melakukan Shopping akhirnya mereka bernafas lega. Di belakang empat pria sebagai pengawal ketiga nyonya Albert dan kedua cucu Albert serta kedua sahabat Luna itu hanya memasang wajah lesu saat merasakan kedua tangan mereka dipenuhi barang belanjaan ketiga nyonya muda itu.
“Gimana kalo kita makan dulu, apalagi mereka pasti udah lelah banget bawa barang belanjaan kita!” Kata Ana merasa kasihan melihat keempat pria itu. Sedangkan mereka mendengar kata sang nyonya langsung mengiyakan dalam hati, ingat hanya dalam hati.
“Iya kak Ana, anak-anak juga laper kek nya” saut Alisya.
“Ya udah yuk” seru Luna karena dari tadi ia memang sudah merasa laper tapi saking asyiknya belanja jadi lupa.
“Bun, aku mau es krim” kata Aleta.
“Aku juga ma!” Alano sebagai Abang juga tak mau kalah membuat ketiga wanita dan kedua gadis itu tertawa pelan.
“Es krim aja cepat” kata Zoya masih terkekeh.
“Biarin” jawab kedua bocah itu serempak, kompak bener.
“tapi nanti ya kita makan dulu, setelah itu baru boleh makan es krim” kata Ana yang hanya dianggukan kedua bocah itu, karena dari mereka sudah diajarkan sebelum makan es krim harus makan nasi dulu biar enggak sakit perut dan tentu saja mereka menurut karena takut nanti perutnya sakit.
...
“Lis, bukannya itu kak Ana sama kak Alisya ya” seru Sisi sebagai sahabat Monalisa dan juga biasa memanggil Mona dengan Lisa biar beda katanya.
Monalisa yang sedang menyeruput jus nya mengikuti arah telunjuk Sisi dan benar apa yang dikatakan Sisi tidak salah tak jauh dari tempat mereka.
“Iya dan disana juga ada istrinya Atha” jawab Monalisa dengan nada sebal.
Sisi beralih menatap sahabatnya dan bertanya, “yang mana kok gue enggak tau ya” jelas lah kan selama ini Sisi berada di luar negeri dan baru balik kemarin jadi mana dia tau apalagi Monalisa juga tidak pernah menunjukkan foto nya.
“Emang kenapa? Harus banget ya lo tau, gue aja males banget” Sewot Monalisa membuat Sisi heran.
“Apaan sih, kok Lo yang sewot, gue kan cuman nanya! Lagian ya kalo Lo ngiri bilang aja” Sisi tau apa yang terjadi dengan sahabat nya yang jelas masih mengharapkan Atha. Padahal bentar lagi udah mau nikah sama Max masih aja jelalatan ama laki orang.
__ADS_1
“Dah lah beb, mending ubah noh jalur Lo sama Max jangan laki orang deh”
“Ck, nggak segampang itu beb, apalagi gue malah makin benci ama Max, susah Si. Selama ini gue cuman nganggap dia teman tapi sekarang apa? enggak bisa merubah perasaan gue secepat itu Si!” Ucap Monalisa dengan gusar.
“Lagian buat apa Lo benci sih padahal gue liat selama hubungan Lo ama Max malah lebih sebatas teman, lo enggak lupa apa yang Lo lakuin sama Max selama ini!” Sisi heran dengan pikiran sahabat nya ini.
“Itu beda lah”
Sisi memutar bola matanya melas mendengar nya, apa nya yang beda.
“Dah lah gue gak mood lagi balik yuk” kata Monalisa dengan lesu.
“yakin, apa enggak mau nyapa mereka duluan” ledek Sisi dan itu membuat Monalisa makin kesal.
“Lo mah giliran gue mau tobat malah nyuruh gue buat dosa lagi”
“Lah kan gue kata nyapa doang bukan labrak mereka”
🌼🌼
Di tempat lain, Zex tampak memandang sendu sebuah figura di hadapannya.
“Kenapa susah banget buat lupain kamu sya?, padahal aku tau kamu sudah menjadi milik orang lain dan mungkin tidak akan pernah ada pikiran tentang ku lagi, tapi kenapa aku susah sekali melupakan semuanya” Keinginan nya yang sebelumnya malah jadi ragu untuk merebut Alisya entah lah dia tidak tau. Padahal niatnya sudah matang ingin menghancurkan rumah tangga mereka dan merebut Alisya tapi kenapa sekarang malah begini.
Ditambah akhir-akhir nya perusahaan keluarganya mendapatkan masalah dan satu hal kakek nya juga pernah berkata untuk tidak melakukan niat itu, dan itu membuat niatnya semakin ragu.
Puas melimpahkan semua kesedihan nya, Zex memilih memejamkan matanya untuk menenangkan hati dan pikiran nya.
Tanpa diketahui nya, dibalik pintu seseorang mendengar semua keluhan Zex, dia tak lain ialah Wulan mamanya. Wulan hanya memandang dengan tatapan sulit diartikan. Lalu memilih pergi.
Di taman belakang mansion, Wulan pergi kesana seraya memandang sayu pemandangan disana.
“Mas Leon, apa kabar kamu disana? Mas kamu pasti marah atas semua yang telah terjadi dan kecewa padaku!” Wulan tersenyum miris dengan mata berkaca-kaca, lalu melanjutkan kata-katanya, “aku juga tidak ingin melakukan nya tapi aku terpaksa jika tidak...” Wulan menahan isakan nya bahkan tidak sanggup melanjutkan perkataannya semua itu terlalu menyakitkan.
__ADS_1
Tak jauh dari sana tampak Harley menatap lurus kesana tepatnya tempat mamanya menangis, Harley hanya mendesah panjang, “mama harus kuat, tidak lama lagi semuanya akan segera berakhir dan kebahagiaan mama pasti akan kembali bersama mama!” Harley memejamkan matanya sejenak lalu kembali membukanya dan membawa langkahnya menjauh dari tempat semula.
“dari mana aja lo gue cariin dari tadi juga” sosok Tirta muncul saat Harley baru saja memasuki ruangan keluarga.
“ck, Napa!”
“napa muka Lo ditekuk gitu habis di putusin si doi” cetuk Tirta meledek.
“Sok tau Lo, dah lah mau apa Lo cariin gue”
“Oh cuman mau ngajak mabar, bosan gue” Harley mendegus mendengar balasan Tirta yang sayang nya abangnya sendiri tapi jangan pikir dia akan memanggil Abang karena ogah sebab jarak mereka hanya setahun tidak perlu panggil abang segala. Emang adik kagak ada akhlak.
“Lo kayak pengangguran aja gue liat, nyantai mulu”
“Terus Lo apa?” delik nya mendengar ucapan adiknya itu. Harley hanya mendengus.
Sebenarnya mereka memiliki sebuah perusahaan tanpa sepengetahuan keluarga nya kecuali keluarga Albert tapi memang mereka jarang kesana dan memberikan pada asisten mereka untuk mengerjakan semuanya.
Sebut saja mereka bos tidak bertanggung jawab dan pemalas. Ya memang begitulah kenyataannya.
“Mana ponsel Lo” tanya Tirta saat tak melihat sang adik mengeluarkan ponselnya.
“enggak tau gue, mungkin ketinggalan di tempat Daddy deh” balasnya dengan berbisik takut kedengaran yang lain selain dirinya dan Tirta padahal tidak ada siapa-siapa disana.
“Gila Lo masa ponsel sendiri kagak tau” cecar Tirta. Harley hanya menggaruk kepala nya sambil cengengesan.
“ntar coba gue liat dikamar” katanya lalu beranjak pergi ke kamar nya yang berada dilantai dua. Tirta mendegus dan melanjutkan mainnya.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1