
20.30 Malam
Kedua ibu dan anak tersebut telah pergi sejam yang lalu. Membuat Luna lega, dari awal ia sudah tau apalagi saat melihat tatapan genit Dona pada Atha membuat ia kesal saja. Ia tak tau entah cemburu atau apalah tapi tetap saja mau bagaimana pun Atha itu suaminya, istri mana yang tidak kesal coba.
Sekarang mereka sedang berada di kamar, Atha yang baru keluar kamar mandi hanya mengernyit melihat Luna cemberut.
Ia menghampiri Luna yang lagi duduk bersandar di atas tempat tidur.
“Lo kenapa? dari tadi gue liat cemberut terus...” tanya Atha bingung sebab dari awal bibi Sinta dan Dona pulang tadi ia melihat Luna selalu cemberut, entah karena apa ia juga tak tau penyebab nya.
“Apa Lo kesal sama mereka, Hm!” tebak Atha karena mengingat sifat mereka.
“Itu salah satu nya...gue kesal banget tau liat muka sok baik mereka” cetus Luna dengan nada sewot.
Atha mengangguk karena apa yang di katakan Luna benar, ia sendiri juga kurang suka dengan sifat mereka.
“Apalagi mereka tau kalo Lo ternyata dari keluarga Albert, pasti semakin menjadi...emang dasar keluarga penjilat!” lanjut Luna benar-benar muak dan jijik pada bibi Sinta beserta anak-anak dan suaminya Sandi.
“Udah gak usah di pikirin para penjilat itu... mending sekarang Lo tidur” timpal Atha terlalu males mendengar tentang mereka sebab gak ada gunanya juga.
“gak ah...belum ngantuk juga, lagian besok Lo gak bolehin gue sekolah mending baca novel” tolak Luna seraya menjangkau ponselnya yang semula terletak di atas nakas dekat tempat tidur.
Atha tidak melarang karena belum larut malam jadi biarkan saja.
Atha segera mengubah posisinya rebahan di sebelah kanan Luna.
“Lun...”
“Hmm”
“Gue mau ngomong sesuatu nih...”
“Apa? Ya udah tinggal ngomong aja!” sahut Luna tanpa menoleh dari pandangan ponselnya.
Atha meletakkan kedua tangannya di bawah kepalanya seraya memandang ke arah langit-langit kamar, setelah menghembuskan nafas panjangnya ia mulai berbicara, “rencana nya gue mau pergi ke London buat berobat untuk memulihkan ingatan gue soalnya di sana ada seseorang kenalan Daddy yang bisa mengobati gue...”
Mendengar ucapan Atha, Luna langsung menoleh, “apa Lo serius? Emang butuh berapa lama!” entah kenapa ia jadi tak rela berjauhan dengan Atha.
“Menurut Daddy sekitar sebulan atau lebih” Jawab Atha sembari menoleh kearah Luna yang sekarang juga sedang menatap kearah nya.
Ia melihat perubahan raut wajah Luna dan itu terlihat murung. “Ya udah...demi kebaikan Lo gak papa...lagian mau sampai kapan Lo amnesia terus!” ucap Luna sedikit tak ikhlas tapi ia tak boleh egois melarang untuk kebaikan Atha sendiri.
“Lo gak mau ikut gitu, lagian gak mungkin kan gue ninggalin Lo...emang Lo mau jauhan dari gue...nanti kangen gimana?” aju Atha di akhiri sedikit menggoda Luna, karena ia tau pasti anak itu tak ikhlas membiarkan ia pergi begitu saja.
“Gak tuh, siapa juga yang bakal kangen sama cowok kayak Lo” cetus Luna sedikit kesal karena tau Atha pasti sengaja menggodanya.
__ADS_1
Atha tersenyum seraya menaik-turunkan alisnya, “yakin gak bakal kangen...gue lama lho disana... apalagi di sana pasti banyak bule cakep-cakep nanti kalo gue kecentol gimana dong?” Atha semakin gencar menggoda Luna, ia ingin melihat apa reaksi Luna.
“Bodo, bukan urusan gue!” sentak Luna sok tak peduli padahal mah dalam hatinya ketar-ketir.
Atha terkekeh geli, ia yakin jawaban di mulut sama di hatinya sangat bertolak belakang. “Yaudah...nanti jangan nangis ya kalo gue pulang bawa gandengan bar...” belum juga selesai sebuah bantal di lempar kasar kearah muka tampannya.
Buk...
Bukannya marah atau kesal, Atha malah tersenyum gak jelas dan menyingkirkan bantal tersebut, ia juga melihat Luna sedang menatap nya dengan mata melotot lebar.
“Apa!” sentak Luna kesal.
Atha malah cengengesan, “Cemburu ye...ciee...bini gue cemburu!” ledek Atha yang mana membuat Luna salting.
“Siapa juga yang cemburu? Gak tuh” elak Luna sambil memalingkan wajahnya dari tatapan Atha.
Atha tertawa, “Ayoo...ngaku aja gak usah malu-malu sama suami sendiri...” Atha menarik tubuh mungil Luna ke pelukan nya namun Luna malah memberontak.
“iihh...gak usah peluk-peluk” pekik Luna tapi tenaganya kalah kuat dari Atha karena lelah akhirnya ia pasrah saja.
Atha semakin mengeratkan pelukannya, bahkan ia merasa kan sesuatu empuk membuat tubuhnya sedikit memanas, posisinya sekarang kepala Luna berada di dada bidang Atha.
“Jangan erat-erat tha...sesak tau gak!” Ucap Luna sedikit gugup apalagi saat merasakan dadanya tertekan ke tubuh Atha membuat ia malu saja.
Kemudian Atha sedikit melonggarkan pelukannya dan sedikit menunduk kepalanya ke bawah, “jadi gimana? Lo mau ikut apa enggak? Nanti kalo soalnya sekolah Lo aman kok biar Daddy yang ngurus!”
Deg
“Uhmm...” Atha jadi salfok tatapannya terpaku pada bibir merah muda itu yang terlihat seksi.
“Tha..!” panggil Luna semakin gugup saat melihat tatapan Atha. “njiir...gue kok jadi deg-degan gini sih! nih anak juga, ngapain natap segitu nya” batin Luna.
“Lun...”
“I-iya..” Luna jadi kaku saat merasakan hembusan nafas Atha menerpa wajahnya, entah sejak kapan wajah mereka semakin dekat.
Cup
Mata Luna terbelalak saat merasakan sesuatu lembut menyentuh bibirnya, gak salah lagi demi apa? Atha menciumnya.
Tubuh Luna semakin kaku, Atha yang telah terbawa suasana memperdalam ciumannya, menyesap dan *******. Karena tidak balasan dari Luna, ia mengigit bibir bawah itu...
“Uhmpp...” Dan berhasil membuat Luna tersentak, entah sadar entah tidak Luna malah mengikuti tanpa menolak. Membuat Atha menyeringai dalam hati.
Satu tangan Atha juga ikut bereaksi menyusuri dari perut sampai area gunung kembar Luna yang masih memakai piyama tidur.
__ADS_1
Namun...
Plak
Luna yang merasakan itu dengan cepat menipis tangan nakal itu.
Atha juga langsung menghentikan ciumannya dengan mata memandang sayu pada netra coklat Luna.
“Boleh ya!” mohon Atha terlihat tersiksa sekali, tapi Luna tidak menjawab ia buru-buru berbalik saat merasakan pelukan nya melonggar.
“Ya Allah...demi apa? Gue malu banget...huaaa... fristkiss gue” pekik Luna dalam hati. Ia benar-benar tidak sanggup hanya bertatapan dengan Atha, ia malu banget tau.
Melihat Luna malah berbalik memunggungi nya, Atha hanya menghembuskan nafas berat, ia juga tau pasti sekarang muka Luna sudah memerah semarah tomat.
“Cieee...malu ya...lagi dong gue belum puas tau!” nah kan malah semakin menjadi, tak lupa memeluk Luna dari belakang sambil mencium wangi rambut hitam Luna.
Luna hanya bisa mengumpat dalam hati tapi ia tak menolak yang di lakukan Atha, ia akui rasanya nyaman.
“Sekarang tidur ya...kalo gak nanti gue cium lagi mau...eh, tapi Lo juga nikmati kok...gimana? Mau lagi!”
“Athaaa...” pekik Luna yang sudah kesal dan malu. Emang gak bisa apa? Sekali saja tidak menggodanya, suka banget sih bikin ia kesal dan berakhir malu.
Atha malah terkikik dengan posisi masih memeluk Luna.
“Gimana Lo mau ikut apa gak?” tanya Atha kembali ke topik awal.
“Terserah aja deh” karena di satu sisi ia mau ikut tapi di sisi lain ia bentar lagi mau ujian kan jadi bingung.
“Yaudah...besok gue bilang ama Daddy, soal sekolah besok kita tanya lagi ama Daddy!”
“Hm” Luna hanya mengangguk pasrah sebagai istri ia hanya mengikut saja.
“Yausah sekarang tidur” tak lupa mengecup kening Luna.
Cup
Luna sendiri semakin tersipu malu, tak ayal ia juga merasa senang.
“Sweet Dreams...my wife!” bisik Atha sebelum memejamkan matanya.
Luna hanya diam tak tau mau jawab apa, Atha benar-benar membuatnya tersipu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT