
Keesokan harinya, Mona pulang dengan wajah masamnya tapi tidak dipungkiri tubuhnya merasa puas.
“Max bajingan” umpat nya. Kedua orang tuanya dibuat bingung. “Kamu kenapa sayang? pulang-pulang murung gitu!” Wulan menghampiri sang putri. Mona makin cemberut, “Max ma, masa iya dia maksa aku biar mau sama dia!” adu nya.
Alfredo dan Wulan hanya tertawa kecil, “oh...jadi anak papa semalam sama Max” Alfredo menaik turun kan alisnya menggoda putrinya.
“Jadi benar, mama pikir di apartemen kamu, ternyata bukan toh” Wulan ikut menggoda Mona membuat si empu makin kesal.
Mona menghentakkan kakinya kesal, “ih...kok mama sama papa malah keliatan senang gitu, aku kan udah pernah bilang aku tuh gak suka, gak cinta sama dia” rengeknya.
“Yakin, tapi kan kamu udah gituan lho sama Max, jadi mau gak mau harus nikah dong, lagian keluarga Max juga setuju, mereka menginginkan kamu jadi menantu mereka”
“benar, daripada kamu malah mengejar-ngejar lelaki yang salah, lelaki yang tidak mencintai mu, apalagi lelaki itu putra dari musuh keluarga kita, jadi lebih baik hentikan” lanjut Alfredo menambah kan.
“kok gitu sih, emang enggak bisa musuhan udahan aja, dengan begitu aku bisa sama Atha” Mona tetap keras kepala.
Wulan menggelengkan kepalanya, “tidak bisa sayang, lagian apa kau tidak sadar lelaki yang kamu cintai itu sudah menikah, dia sudah jadi milik orang lain” Wulan tidak mengerti jalan pikir putri nya.
“Mona, apa kamu lupa peringatan papa waktu itu! Jangan bilang kau hanya menganggap angin lalu ucapan papa!” Suara Alfredo berubah dingin menatap sang putri dengan tajam.
“Dan satu lagi sampai sekarang pelaku itu belum juga belum diketahui dan jika benar itu ulah keluarga Albert, apa kamu masih tetap mengikuti ego mu itu! Ingat baik-baik sampai kapan pun Keluarga kita tidak akan pernah akur dengan keluarga Albert sampai mati pun kita tetap musuhan”
“papa tidak ingin mendengar alasan apapun lagi, dua minggu lagi kau harus menikah dengan Max!” setelah mengucapkan itu Alfredo langsung pergi.
Tentu saja Mona tidak terima, apa-apaan papanya ini, sama sekali tidak memikirkan perasaan nya, “Papa, apaan sih aku enggak mau pa...”
“Ma, pokoknya aku gak mau, aku gak mau nikah sama Max, hiks...Ma bantu aku dong” tangis Mona pecah, Wulan hanya menghela nafas dan memeluk putrinya. Dia juga tidak bisa protes karena apa yang dilakukan suaminya benar.
“Sayang, maafin mama, tapi mama enggak bisa bantu kamu, ini sudah keputusan papa kamu bahkan kakek juga setuju”
“Kamu harus menurut sayang, mungkin ini memang terbaik buat kamu. Apalagi semua ini terjadi karena ulah kamu sendiri, coba aja kamu enggak melakukan hal diluar batas wajar, papa pasti gak bakal paksa kamu kek gini”
Mona semakin menangis mendengar semua penuturan mamanya tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia sudah terlanjur kecanduan jika tidak melakukan nya akan membuat nya stres.
__ADS_1
Wulan menghapus air mata sang putri nya sambil tersenyum hangat, “sudah, jangan nangis lagi, untuk kali ini kamu harus nurut ya. Kamu gak mau kan papa sama kakek marah” dibalas gelengan oleh Mona.
“Pinter, sekarang yuk mama antar ke kamar” Ajak Wulan dengan lembut. Mona menurut saja.
“Sialan Lo Max! Bahkan Lo lebih licik dari gue” batin Mona.
...
Malam harinya, di kediaman Jeon terjadi sesuatu, disana kedatangan penyusup membuat suasana jadi buruk.
“Apa saja yang kalian lakukan hah! Bukannya saya membayar kalian untuk bekerja dengan benar bukannya malah tidur sialan!” teriak Jeon dengan suara tingginya.
Beberapa para bawahan itu hanya menunduk takut, mereka juga tidak mengerti karena semua itu terjadi begitu tiba-tiba, saat mereka bangun hanya suara teriakkan tuan mereka yang terdengar.
“Viko bagaimana?” tanya nya saat melihat Viko berjalan kearah nya.
“Maaf tuan, seperti memang sudah direncanakan dengan matang dari saya lihat melalui Cctv seperti nya orang itu sengaja membuat semua penjaga dan para maid tertidur biar tidak menyadari kedatangan mereka!” jelas Viko yang mana membuat Jeon marah.
“Sepertinya begitu tuan” sahut Viko membenarkan karena masuk akal juga.
Namun, beberapa saat kemudian Jeon terkekeh pelan, “tapi seperti nya dia sangat bodoh dengan kita melihat semua nya melalui Cctv akan mudah mencari tau dalangnya”
“Tuan”
“Ada apa lagi” tanya Jeon saat melihat gelagat Viki seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Begini tuan, jika menurut saya ini sedikit janggal, karena tidak mungkin dia melakukan dengan terang-terangan dan malah membiarkan kita melihat nya melalui Cctv! Bisa ini disengaja” Jeon mengerutkan alisnya bingung, “kenapa kau bisa berpikir begitu?” tanyanya lagi.
“Ah...maaf tuan saya hanya menyampaikan menurut pemikiran saya tapi tentu juga itu benar” jawab Viko takut salah.
“kau tidak perlu minta maaf, mungkin masuk akal juga. Jadi untuk selanjutnya kita harus lebih hati-hati dan kalian jangan sampai kecolongan lagi” Jeon memandang mereka dengan tajam.
“Baik tuan” jawab mereka serempak.
__ADS_1
“Yasudah lanjutkan pekerjaan kalian” mendengar perintah sang tuan mereka bubar. Sedangkan Jeon menghela nafasnya dengan kasar.
“Hahh...tapi aku harus kehilangan salah satu surat penting” dengan wajah murungnya.
“Viko tetap lanjutkan pencarian penyusup itu, bagaimana pun cara orang itu harus segera ditemukan, kita tidak bisa membiarkan surat itu berada terlalu lama ditangannya” suara Jeon memang terdengar lesu dan juga terdapat sebuah kegelisahan mendalam.
“Baik tuan pasti akan saya lakukan”
“Bagus, sekarang antarkan saya ke kamar dan jangan lupa beritahu anak bodoh ku itu”
“Baik tuan”
...
Di tempat lain, tampak seorang pria paruh baya duduk di bangku kebesarannya jangan lupakan beberapa lelaki lebih muda darinya duduk di sofa bagian depan.
Beberapa saat setelah itu masuk seorang pria berpakaian serba hitam seperti seorang ninja lalu menghadap pada pria paruh tersebut.
“Bagaimana? Apa misi mu berhasil!” tanya pria paruh tersebut dengan suara datarnya.
“Tentu saja tuan” balas pria itu sambil mengeluarkan sebuah map pada sang tuan, tentu saja di ambil cepat oleh sang tuan dengan senyuman devil nya.
“Bagus, kau memang tidak pernah mengecewakan ku” tutur pria paruh baya tersebut setelah membuka map itu dan memastikan apa isi nya dan ternyata memang benar. Mendengar pujian itu tentu saja membuat si pria bangga.
“Waahh...berarti hanya tinggal sedikit lagi dad” ucap salah satu dari lelaki yang duduk di sofa tersebut.
“tentu, dengan begini kita akan lebih mudah menjatuhkan mereka dan membongkar semua kedok yang mereka sembunyikan selama ini”
Mereka disana ikut tersenyum lebih tepatnya tersenyum miring, sebentar lagi semuanya akan terbongkar.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1