Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 82. Keadaan Tirta


__ADS_3

Di depan ruangan IGD. Terlihat Luna, Atha dan yang lain telah menunggu dengan wajah cemas dan khawatir.


Beberapa saat terdengar beberapa langkah berjalan kearah mereka. Pandangan mereka teralih kearah Zoya yang baru datang dengan mamanya Valen. Dari jauh saja mereka sudah tau apa telah terjadi dengan Zoya.


“T-tirta gimana Lun?” Itu lah pertanyaan pertama kali dilontarkan Zoya dengan suara serak, penampilan nya saja tampak berantakan.


Luna menggelengkan kepalanya, “masih belum diketahui Zoy, dokter masih didalam! Kita berdoa aja semoga bang Tirta baik-baik aja”


“T-tapi...Lu-“ Ucapan Zoya terpotong saat mendapatkan pelukan dari Luna, “Gak usah di pikirin, sekarang kita tunggu dokter nya keluar dulu” Luna tau apa yang akan dikatakan sahabatnya itu, dia juga sudah tau permasalahan sahabat nya ini dengan bang Tirta, kemarin mama Valen sendiri yang cerita.


Dia saja tidak menyangka sahabat ini cemburuan sekali. Dan mungkin sekarang sahabat nya itu merasa bersalah banget.


“Ma...” Valen ikut merasakan hal sama, padahal beberapa jam yang lalu ia bertemu calon mantu nya tersebut tapi malah jadi begini, ternyata firasat nya tidak sepenuhnya salah.


“Iya mama tau, kita berdoa aja ya sayang” Valen mengelus lembut bahu putrinya yang terasa bergetar.


Cklek


“Gimana dok?” Harley pertama kali mengajukan pertanyaan kepada dokter wanita yang keluar dari ruangan tersebut.


“Buruan jawab!” Mike malah ngegas sembari menarik jas dipakai si dokter, “sabar bang, tenang dulu kita tunggu dia jelasin” Atha menahan Abang nya tersebut yang sudah hampir lepas kendali.


“Mike!” Arya yang baru saja tiba menatap tajam putra keduanya tersebut, yang mana membuat Mike melepaskan tarikan nya.


Seketika si dokter menghela nafas lega, “buruan jelasin, ngapain anda diam aja sih!” Zoya membentak marah, apa dokter itu tidak mengerti perasaan nya.


Sekali lagi dokter tersebut menghela nafas panjang, apa seperti ini semua orang-orang dekat keluarga Albert, padahal ia ingin menjelaskan.


“Maaf, saya benar-benar minta maaf. Untuk sekarang keadaan pasien belum sadarkan diri, karena terdapat luka cukup parah di bagian kepala pasien! Jika sampai besok pasien masih belum sadarkan diri maka akan dinyatakan koma!” Mendengar penjelasan sang dokter membuat mereka terkejut apalagi Zoya.


“Apa pasien sudah bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap!” Tanya Alisya.


“Tentu nona”


“Pindahkan ke tempat biasa dok” kata Atha. Ya disana sudah dikhususkan ruangan untuk keluarga Albert. Karena memang rumah sakit tersebut milik keluarga Albert.


“Baik tuan muda”


“Ma...T-tirta ma!” Zoya kembali menangis tersedu-sedu, sungguh ia merasa menyesal karena tidak menemui Tirta sebelumnya.


Valen hanya memeluk putrinya sembari menenangkan nya.


🌼🌼

__ADS_1


Tak terasa telah hampir seminggu lebih Tirta masih belum sadarkan diri, dia juga telah dinyatakan koma. Sejak itu Zoya tidak pernah berhenti hanya sekedar menjenguk Tirta, dia bahkan sudah seperti orang gila berbicara sendiri.


...


Di dalam ruang rawat VIP keluarga Albert.


Tampak Zoya duduk di dekat brankar milik kekasih nya sembari terus menggenggam erat telapak tangan sang kekasih yang bebas infus.


“S-sayang, bangun dong! Apa gini cara kamu balas aku? Jahat banget tau gak! Aku tau...aku tau aku salah karena gak dengar penjelasan kamu, karena gak diamin kamu beberapa hari lalu...Tapi gak gini juga kalo kamu mau balas aku-“ air mata nya kembali meluncur dari pelupuk matanya sembari mencium punggung tangan sang kekasih.


“S-sayang aku mohon! Kamu bangun, aku janji gak bakal gitu lagi, aku udah maafin kami! Aku udah gak marah lagi kok, jadi aku mohon sama kamu cepat bangun ya...apa kamu gak kangen sama aku Hm..!”


“K-kamu gak lupa kan sebentar lagi kita bakal nikah! Kalo kamu gak bangun-bangun juga, terus aku nikah nya sama siapa dong”


“Hiks...”


Ya begitulah yang dilakukan Zoya hampir setiap hari, saat setiap kali berkunjung kesana. Bahkan kuliahnya saja sudah tidak dipedulikan lagi karena yang ada di pikirannya hanya ada Tirta dan Tirta.


Zoya tertawa kecut, “Percuma aku nangis dan ngomong terus tapi kamu gak pernah dengarin, kamu gak pernah mau jawab!”


Rere yang baru masuk bersama Luna hanya mendesah lemah, mereka tidak tega melihat kondisi sahabat nya itu, semenjak Tirta dinyatakan koma Zoya semakin frustrasi, makan saja sangat pemalas, dia tidak terlalu peduli kesehatan badannya lagi.


Tirta begitu berarti dalam hidup Zoya, tanpa Tirta tidak ada artinya.


“Gak, gue gak mau makan”


“Tapi mama Lo bilang, Lo belum makan apa-apa dari pagi, kalo Lo masih gak mau makan nanti mag lo kambuh lagi!” Rere menyahuti dengan nada agak tinggi, sahabat nya harus dikeraskan biar bisa nurut.


“Gue gak peduli” masih sama, Zoya menolak lagi dengan pandangan terus menatap kekasihnya.


“Kalo gini terus Lo bisa sakit Zoy, dan kalo bang Tirta tau dia pasti gak bakal suka. Lo gak boleh kayak gini, bersedih boleh tapi kesehatan harus tetap dijaga, Lo gak mau kan sampe sakit! Nanti siapa yang bakal jaga bang Tirta kalo Lo sampe sakit hmm!” Sekarang Luna menambah kan memberikan ceramah panjang untuk sahabat nya tersebut.


“Kalo masalah sedih, bukan cuman Lo Zoy, kita sama Daddy dan yang lainnya juga, apalagi Daddy, bagaimana pun juga bang Tirta putra dari almarhum adiknya...”


“Jadi gue mohon Lo jangan keras kepala gini. Sekarang makan ya, kita udah beli makanan kesukaan lo di luar tadi”  akhirnya Zoya mengalah, apa yang dikatakan Luna dan Rere benar juga, jika ia sakit gimana mau jagain Tirta.


“Nah gitu dong, gini baru Zoya yang gue kenal” Rere tersenyum mengecup pipi Zoya, yang mana membuat si empu mendegus tidak terima.


“Ck, gak usah cium-cium Re, geli gue njiir!”


Rere memutar bola matanya, “ya elah lebay banget Lo, sama sahabat sendiri gak boleh gitu! Itu tanda sayang dari gue!”


“Tapi gak usah dicium juga”

__ADS_1


“emang bang Tirta dong yang boleh cium ya” cibir Rere.


“tuh Lo tau” Cetus Zoya.


“Ck” sedangkan Luna hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar perdebatan mereka, ada-ada saja yang dipermasalahkan.


“Udah...gak usah debat Mulu, sekarang buruan di makan Zoy atau perlu gue suapin” tegur Luna.


“Iya iya, gak usah di suapin juga gue masih bisa sendiri”


Rere seketika mencibir mendengar nya, “gaya Lo, gak ingat siapa yang manja pas sakit”


“Gak usah diungkit-ungkit ogeb! Itu mah beda lagi cerita nya, Lo aja kalo lagi sakit lebih parah dari gue!” sahut Zoya mendelik tak suka. Sebelumnya mengatakan orang tuh lebih baik koreksi diri sendiri.


“Sok tau Lo!” Rere tetap tidak mau mengaku.


“Ck, udah ah...dari tadi debat mulu kalian gak capek apa! Gue aja yang dengar capek banget!” kata Luna.


“Lo mah emang udah capek karena beban jadi wajar dong!” cetus Rere sembari tertawa kecil.


“Enak aja Lo ngomong, anak gue bukan beban” tentu saja Luna protes anak nya dibilang beban lahir saja belum.


“lah kan emang kenyataan nya beb, kalo gak beban Lo gak bakal susah bolak-balik sana sini!” Rere malah makin menjadi-jadi.


“Ish...Rere” Kesal juga Luna mendengar nya. Melihat wajah cemberut Luna membuat Rere tidak tega, bumil ini sensitif sekali.


“iya maaf Lun, canda gue mah!”


“Candaan Lo gak lucu tau!” sahut Zoya sembari makan dengan pandangan sesekali tertuju kearah brankar Tirta.


“Iye iye maap” Rere mengangkat dua jarinya ke atas.


“Kapan Tirta sadarnya, gue kangen!” lirihan Zoya membuat mereka berdua terdiam.


“Zoy, Lo yang sabar ya...gue yakin bang Tirta bakal sadar, dia pasti juga kangen sama Lo” Luna menepuk pundak sang sahabat sembari tersenyum lembut. Dianggukan oleh Rere, “He’em...kita juga kangen banget! Sama-sama kita berdoa buat bang Tirta biar cepat siuman”


Zoya menatap sendu kedua sahabatnya tersebut, “hiks...makasih ya kalian emang sahabat terbaik gue!”  Rere dan Luna hanya tersenyum. Kemudian mereka saling berpelukan untuk menghilangkan kesedihan walaupun hanya sebentar.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT

__ADS_1


__ADS_2