Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder

Ternyata SuamiKu Tuan Muda Miliarder
Chapter 63. Hukuman Mati


__ADS_3

Tiga hari berlalu, tepat hari ini Jeon Georgio dan Alfredo Georgio akan disidang atas hukuman yang akan di laluinya.


Berita tentang kejahatan mereka juga telah tersebar di media, bahkan tak seberapa dari orang-orang yang mengenal dekat keluarga Georgio tidak menyangka dengan kenyataan tersebut.


“Saya pikir tuan besar Georgio orang yang baik, gak saya sangka akan menjadi begini!”


“Benar, padahal saya pikir dulu kematian tuan besar Albert hanya karena kecelakaan biasa ternyata semua nya ulah tuan Georgio!” masih banyak terdengar beberapa bisikan dari orang-orang yang hadir disana.


...


Monalisa dan Wulan hanya bisa pasrah saat mendengar suara hakim, keduanya di hukum mati. Itu semua permintaan dari Arya sekeluarga karena hukuman seumur hidup terlalu lama bagi mereka lebih baik langsung mati saja. Sedih tentu saja mereka sedih, tapi mau bagaimana mana kejahatan mereka sudah terlalu banyak.


“Kak, apa enggak terlalu kejam untuk mereka!” tanya Luna merasa tidak tega, apalagi mengingat Monalisa dan Zex yang ditinggal, walaupun kejahatan mereka terlalu berat.


“Tidak. Sudah sepantasnya mereka mendapatkan balasannya, mereka bukan hanya membunuh satu orang tapi empat orang sayang bahkan masih terdapat kejahatan lain nya, sudah sepatutnya mereka mendapatkan hukuman mati!”


Luna hanya menghela nafas panjangnya, dia juga tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.


“Kita balik aja yuk, aku enggak mau liat lagi” kata Luna karena tidak ingin melihat selanjutnya, apalagi mendengar suara tembakan, sungguh ia merasa ngeri.


Atha setuju saja, istrinya sedang hamil tidak seharusnya melihat hal-hal tidak baik. “Dad, kami balik duluan ya, kami juga langsung balik kerumah aja”


Arya yang berada di kursi samping kanannya hanya mengangguk saja, “Hati-hati” tak lupa mereka pamitan juga sama Monalisa, Zex dan Wulan.


“Kak, kita ketempat Zoya bentar ya” ujar Luna yang sekarang telah berada dalam mobil. Atha yang akan menyetir menoleh kearah istrinya. “bukannya dua hari yang lalu udah ketemu Zoya”


“Kangen lagi tau, lagian kenapa sih rumah kita berjauhan, coba aja rumah kita berdekatan pasti gak bakal susah bolak-balik begini” Luna protes sembari monyong-monyong sebal sendiri.


Entah lah Atha ingin ketawa saja mendengar nya, “Mana bisa sayang”


“Dibisa-bisa in dong”


Atha terkekeh, “iya in aja dah” Lebih mengalah dari pada ujung-ujung panjang nantinya, bisa pusing kan dia.


“Sebelum itu antar kerumah Rere Luan”


“Hmm” Atha menurut saja.


“Nanti kamu balik sendiri aja, soalnya aku mau nginap dirumah Zoya aja...bosan tau serumah sama kamu terus!”

__ADS_1


Astaghfirullah, mulut istrinya kalo ngomong kadang suka nyakitin hati, untung sayang.


“Kok gitu ngomong nya, aku suami kamu jelas serumah terus lah, emang kamu mau sering pisah...enggak kan”


“Bobok aja kalo enggak aku kalongin gak mau tidur, hayo siapa yang kayak gitu!”


“Enggak tuh, aku bisa kok tidur tanpa kamu!” Luna tidak mau mengakuinya.


“yakin” Ledek Atha mencibir, tinggal bilang iya aja apa susahnya sih, dasar bumil.


“Bodo” Luna sudah kesal dan langsung membuang muka nya kearah keluar jendela, dari pada melihat muka menyebalkan suaminya bawaannya pengen cakar.


Atha hanya terkekeh sembari geleng-geleng kepala. Dia itu selalu sabar dengan sikap bumil satu ini.


Berselang lama mereka sampai dirumah orang tua Zoya, setelah balik dari rumah Rere. Rere sendiri juga ikut atas paksaan bumil.


“Tante, Zoya nya mana!” tanyanya saat telah dipersilahkan masuk oleh mamanya Zoya yang bernama Valen Neranta.


“Mungkin dikamar nya, bentar tante panggil dulu...”


“Eh...enggak usah tan, biar kita langsung kesana aja” Luna menahan nya, lalu menarik Rere pergi ke kamar Zoya.


“duduk aja nak, tante mau buat minum bentar” katanya pada Atha.


“enggak repotin kok” Valen tersenyum lembut seraya membawa langkahnya ke dapur.


...


Dikamar Zoya.


Kedua sahabat itu sudah heboh membangunkan si pemilik yang masih berkelana dialam mimpi nya.


“Zoya kebo, buruan bangun! Ini udah siang bukan pagi lagi!” Luna membuka selimut tebal yang membungkus tubuh si empu.


“Lo enggak masuk kuliah nyet, tidur mulu!” Rere membuka gorden jendela yang mungkin sengaja ditutup si empu, padahal sudah siang bolong begini.


“Apa sih ah, gue masih ngantuk tau” Zoya dengan ogah-ogahan membuka paksa matanya yang masih terasa lengket dan mengantuk banget.


“Cepatan sana mandi, kita mau ngajak lo buat kue, bumil ngidam nih... mumpung hari ini kita kagak kuliah” ujar Rere menarik Zoya turun dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi, sedangkan Zoya hanya menurut saja.

__ADS_1


🌼🌼


Malam harinya.


Di kediaman Georgio.


Monalisa tampak murung merenung di balkon kamarnya, ingatan nya masih berputar pada jam, menit dan detik kakek nya ditembak mati. Walaupun Alfredo bukan papa kandungnya tapi tetap saja selama ini dia yang mengurus dan membesarkan nya dengan kasih sayang. Rasa benci dan sayang nya bertumpukan.


“Papa!” Monalisa mengusap foto milik papa nya, disana juga ada Leon papa kandungnya serta kakek Jeon bersama neneknya tersenyum lebar bersama Alfredo, mereka terlihat sangat akur sekali.


“pantasan Lisa ngerasa enggak asing, ternyata memang papa Leon papa kandung Lisa!” Jatuh air mata nya menatap wajah itu, apalagi saat melihat Alfredo.


“Papa Al, kenapa papa tega lakuin semua itu pada Lisa, bang Zex sama mama? Padahal Lisa sayang banget sama papa, maafin Lisa pa, Lisa enggak bisa terlalu benci papa karena bagi Lisa papa, papa Lisa terbaik...”


“Papa Al, papa Leon, kakek, nenek kalian yang tenang disana, doa Lisa selalu ada untuk kalian. Kalian tenang aja setelah ini Lisa akan berubah lebih baik, doa in ya moga pernikahan Lisa sama Max berjalan dengan baik” Monalisa memeluk foto tersebut sambil tersenyum paksa sesekali mengusap air matanya yang masih mengalir deras.


 


Dari cerita mama nya, pas kejadian itu dia masih dalam kandungan enam bulan, beda lagi abang nya Zex, dia saat itu telah berusia 6 tahun.


Penyebab Alfredo membunuh adiknya sendiri karena rasa iri hati nya dan juga mencintai Wulandari dari awal tapi malah diambil adik nya, karena itu menumbuhkan rasa benci dan ingin menyingkirkan sang adik.


Dan akhirnya, keinginannya tercapai menyingkirkan orang dibencinya dan mengambil kebahagiaan nya. Bahkan dia tidak peduli wanita yang dicintainya tersakiti dan membencinya sebab yang terpenting dirinya puas tanpa memikirkan kedepannya.


Tok


Tok


“Sayang keluar gih, ada Max diluar!” terdengar suara Wulan, mamanya dari balik pintu.


Mendengar nya, Monalisa segera cepat-cepat menghapus air matanya dan menjawab, “iya ma...bentar” lalu beranjak masuk kedalam. Mulai sekarang ia harus berusaha menerima Max dan melupakan tentang Atha. Apalagi sekarang ia sudah mengandung sang buah hati, ia harus sebisa mungkin menerima semuanya.


Melihat tatapan dan perilaku Max padanya membuat hatinya bergetar, mengingat caranya selama ini terhadap Max, benar-benar membuatnya merasa bersalah.


Mulai sekarang ia harus memperbaiki semuanya.


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


 


__ADS_2