
Brum...Brummm...
Terlihat motor sport merah melewati garis finis, lalu disusul dua motor lainnya. Diiringi teriakan heboh dari penonton.
“Njiir...kalah mulu gue” Degus Ghina yang baru membuka helmnya.
Sedangkan pemilik motor sport merah tersenyum kemenangan, “kan udah gue bilang, jangan ikutan! Kalo mau main jangan sama gue” ucap cewek tersebut yang tak lain ialah Aurel.
“Kalah lagi gue, gak asik Lo kak” Nano sebagai pemenang nomor urut ketiga melirik masam kakak sepupu nya tersebut.
Disana juga ada teman-teman geng Nano, mereka sudah mengenal siapa Aurel dan Ghina sehari yang lalu, Nano sendiri memberitahu mereka. Biar nanti tidak salah cari lawan.
“lo aja yang goblok, dan pastinya kemenangan ini udah takdir gue” Aurel melirik adiknya itu dengan tatapan mengejek.
“Benar tuh bos, Lo gak boleh ngiri. Ingat kak Aurel kakak Lo sendiri” seru Renzi dengan wajah sok serius.
Bugh
“Bacot Lo”
“adaww...Ringan tangan amat Lo bos” ringis Renzi sembari mengusap pipinya yang kena bogem mentah Nano.
“Mampus, siapa suruh ledekin abang gue terus, kayak gak ada kerjaan aja Lo” Xeno tertawa, senang sekali melihat sahabatnya itu menderita. Emang sahabat gak ada akhlak.
“Bim, dedek dibully” adu nya pada salah satu temannya bernama Bima.
“Bodoamat” acuh Bima sembari melirik males Renzi yang ada di sebelah nya tersebut.
“Ajinng Lo”
“Dah, gue sama Ghina cabut. Takut nya nanti diamuk papi sama mami gue” kata Aurel.
“Iya nih, gue juga udah pengen rebahan” sahut Ghina.
“Dasar kaum rebahan Lo kak” cibir Xeno yang hanya dibalas tatapan datar oleh Ghina.
“Yaudah tiati kak”
“Awas ada begal cewek cantik di pengkolan depan kak” berbagai teriakan dari mereka yang hanya dibalas acungan jempol dari mereka.
Brumm...
Sepeninggal mereka, Nano dan teman-temannya juga pergi dari area balapan liar tersebut.
...
Baru saja sampai seperempat jalan, Aurel terpaksa berhenti saat melihat perkelahian di dekat gang, dengan satu orang melawan beberapa pria berpakaian hitam.
“Gak bisa di biarin” buru-buru membuka helmnya, lalu menghampiri mereka.
“Woiii...kalo berani satu lawan satu, bukan keroyokan gini. Banci!” teriak Aurel dengan wajah songong nya.
“Siapa kau bocah, jangan ikut campur!” kata salah satu dari mereka dengan tatapan tajamnya. Sedangkan cowok yang di keroyok sudah hampir babak belur.
“Apa Lo bilang? Bocah. Woaah...berani Lo yah” Aurel yang sedikit gampang emosian langsung saja maju dan menghajar pria tadi termasuk yang lainnya.
__ADS_1
Walaupun ia cewek, tapi jangan dianggap remeh. Ia pernah ikut karate dan sudah menegang sabuk hitam.
Bugh...krakk...Bugh...krakk...
“Aarrghh...b-berhenti bangsat!” beberapa kali terdengar teriak kesakitan. Ada yang tulang kaki nya patah dan yang tulang tangan kanannya patah bahkan ada yang sampai tak sadarkan diri.
“Ck, gimana sakitkan, makanya jangan berani remehin cewek kayak gue” ejek Aurel sembari merenggangkan tangannya. Lalu beralih mendekati cowok yang tadi, jika dilihat dari badannya masih muda.
“Lo gak papa kan?” tanya nya sambil menepuk pundak cowok itu. Aurel tidak terlalu jelas melihat wajah nya karena dia sedang menunduk ditambah penerangan disana agak remang.
“G-ak apa”
“Kok suaranya kayak familiar gitu ya” batin Aurel. Karena penasaran Aurel menatap wajah cowok itu dari dekat.
1 detik
2 detik
3...
“WHATT! LO ARTHUR” pekik Aurel dengan mata melotot. Sedangkan cowok itu yang ternyata Arthur dibuat meringis mendengar suara lengking Aurel.
“Kok Lo bisa disini sih, dan juga kenapa bisa di keroyok ama orang-orang itu!” Cerocos Aurel sambil memapah Arthur keluar dari gang tersebut kearah motor nya.
Mendengar pertanyaan Aurel, Arthur sedikit bingung menjawabnya. “eh...itu mobil Lo Ar?” tanya Aurel saat netra melihat mobil Lamborghini hitam di sembarang jalan, dia juga baru sadar ada mobil disana.
Arthur mengangguk.
“Lo masih bisa nyetir apa enggak, kalo gak biar gue antarin” tanya dan tawar Aurel saat menyadari kondisi nya.
“Kenapa? Lo jangan bikin gue makin susah, ini udah tengah malam gue lagi buru-buru pulang! Nanti gue dimarahin, emang Lo mau tanggung jawab Hahh!” kata Aurel mulai ngegas. Arthur kembali menggeleng lemah.
“Bawa gue kerumah Lo!” jawab Arthur dengan suara datar tapi sedikit lemah.
“Pakai motor Lo” ucap nya lagi saat melihat Aurel ingin protes.
“Terus mobil Lo gimana?” Namun, tidak mendapat balasan. Karena tidak ingin berlama-lama lagi Aurel segera menaiki motor nya dengan Arthur duduk di belakang.
“pegangan ya, nanti Lo jatuh” Arthur tidak menjawab tapi ia langsung memeluk pinggang Aurel, yang mana membuat si empu menegang.
“Maksud gue bukan disitu juga Ar, pegang bawa gue” teriak Aurel yang sudah melajukan motornya. Tetapi tidak di hiraukan Arthur.
“Apa-apaan nih cowok! Kok jadi ngeselin banget sih” gerutu Aurel dalam hatinya.
🌼🌼🌼
“Sekarang jawab pertanyaan papi? Kenapa kamu baru pulang jam segini dan Kenapa bisa bawa Arthur dalam keadaan babak belur begitu! Jangan bilang kamu ngeroyok Arthur karena takut Arthur mengatakan pada papi dan Al?!”
Aurel sebagai tersangka seketika melotot, niat nya mau tidur malah jadi acara persidangan.
“gak gitu pi, aku tuh ketemu Arthur pas dikeroyok—“
“Nah kan, apa papi bilang. Ingat nak papi nggak pernah ngajarin kamu jadi penjahat kayak gitu, mana ngeroyok teman abangmu sendiri”
Aurel tampak kesal karena papinya seenak jidatnya aja memotong penjelasan nya.
__ADS_1
“bukan gitu Pi, papi kebiasaan banget motong pembicaraan. Aku tuh belum selesai jelasin ya, gimana sih?”
Atha tetap menatap datar putri nya tersebut, sedangkan Al yang duduk di sebelah papi nya sedari tadi menahan senyuman nya saat melihat wajah masam Aurel. Dia tau papinya itu sengaja membuat adik kembarnya itu biar kesal.
“Yasudah jelaskan”
“oke, pi, jadi gini...”Aurel menjelaskan semuanya dari ia menghajar orang-orang berpakaian hitam itu sampai ia terpaksa membawa Arthur kerumah karena permintaan Arthur sendiri.
“Apa? Maksud kamu Arthur di keroyok orang-orang berpakaian hitam” itu suara Luna yang baru saja menuruni tangga habis mengobati luka Arthur. Al juga terkejut mendengar penjelasan adik kembarnya itu.
“Pi, sebaiknya kamu kasih tau kak Mona sama bang Max. Kayaknya bukan masalah sepele. Aku juga gak mau mereka nanti cariin Arthur” Ucap Luna.
“Bukannya anak itu melarang kita untuk memberitahu keluarga nya” Kata Atha saat mengingat perkataan Arthur saat sampai rumah tadi.
“Tapi tetap aja kita kabarin mereka” Luna tetap keukeh.
“biar Al aja yang kasih tau mereka mi”
“Yaudah, buruan kasih tau merek” Luna jadi lega mendengarnya.
“Yaudah, Al ke kamar dulu” Mereka mengangguk, Aurel yang melihat itu juga berencana untuk ke kamar tapi baru saja selangkah suara papinya kembali menghentikan nya.
“Siapa suruh kamu pergi? Masih ada pertanyaan papi yang belum kamu jawab!”
Aurel meringis, dia sedikit pucat mendengar suara dingin papinya.
“Y-yang mana Pi?” gagap Aurel. Sementara Luna hanya menatap datar putrinya. Biar saja putrinya itu di marahin suaminya. Siapa suruh keluyuran diluar sana.
“Masih nanya yang mana? Sekarang jawab pertanyaan papi kamu ngapain aja diluar sampai keluyuran selarut gini?!”
Glek
Aurel jadi merinding, papi seram juga kalo lagi marah. Walaupun sudah sering ia mendapatkan nya tapi entah kenapa malam ini papinya terlihat marah banget. Nggak kayak biasanya. Karena tidak ingin berlama-lama lagi ia langsung menjawab dengan jujur.
“b-balapan Pi” cicitnya.
“Hm...sudah papi duga” Aurel sedikit kesal bukannya papi nya itu sebenarnya sudah tau, bagaimana pun ia pasti selalu diawasi dari jauh.
“Putri papi memang printer dan keren. Sekarang sana tidur, dan papi gak mau liat kamu begadang lagi”
Aurel bersorak kegirangan dalam hati, ia pikir bakal di marahin tapi nyata tidak tapi saat melihat wajah dingin itu ia sedikit ragu.
“pasti papi” sebelum naik, ia mencium pipi kedua orang tuanya dengan muka cerahnya.
“sayang, kok kamu gak marahin Aurel” tanya Luna bingung.
Atha menggeleng, “besok aja, ini udah kemalaman, ngantuk yang” jawabnya dengan nada manja. Luna mendegus, “dasar bayi tua”
Atha mendelik mendengar ledekan istrinya. Enak aja masih muda gini dibilang tua.
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1